[Book Review] Ayesha at Last


Judul buku: Ayesha
Penulis: Uzma Jalaluddin
Penerjemah: RoséMia
Penyunting: Yuli Pritania
Desain Sampul: Fahmi Fauzi
Penerbit: Noura Books
Cetakan 1, September 2019
ISBN: 978-623-242-005-2
Tebal buku: 468 halaman
Diterjemahkan dari Ayesha At Last © 2018

Karena, selain pengetahuan umum bahwa seorang lajang muslim pastilah menginginkan seorang istri, ada kebenaran lain yang jauh lebih penting: bagi ibunya yang berasal dari India, kehendak hati Khalid sama sekali bukan prioritas.

(hlm. 9)

Khalid Mirza lahir di pinggiran kota sebelah barat Toronto, Kanada dan baru saja pindah ke komplek town house di daerah ujung timur kota dua bulan terakhir. Keluarganya berasal dari Hyderabad, India. Ayahnya meninggal enam bulan lalu, dan kakaknya Zareena dikirim ke India dua belas tahun lalu. Khalid hanya tinggal dengan Ammi-nya, Farzana. Khalid berumur 26 tahun dan sudah bekerja di bidang komputer selama 5 tahun.


Ayesha Shamsi, memiliki gelar B. Sc sejak bulan Juni. Setelah mengirim resume ke berbagai sekolah selama 7 bulan sampai akhirnya mendapat tawaran menjadi guru pengganti di Brookridge High School. Ayesha sempat bekerja di bidang asuransi selama beberapa tahun sebelum akhirnya melanjutkan kuliah di bidang keguruan. Umurnya sekarang 27 tahun, sudah lewat umur wajar menikah.


Keluarga Ayesha berasal dari Hyderabad, India. Ayahnya meninggal ketika umurnya 10 tahun, ketika adiknya Idris masih bayi. Mereka pindah ke Kanada bersama Nana (kakek) dan Nani (nenek) dengan bantuan Sulaiman Mamu (paman). Sulaiman Shamsi memiliki 4 orang putri. Hafsa, putri sulungnya yang sudah berumur 20 tahun, diharapkan menikah musim panas ini.


Hafsa sudah mendapat banyak lamaran karena wajahnya yang cantik dan Sulaiman Mamu dianggap keluarga terpandang. Beberapa lamaran sudah ditolak oleh Hafsa dan dia menawarkan beberapa lamaran untuk Ayesha. Tradisi lamaran tradisional yang dikenal dengan istilah ristha, tidak jauh beda dengan ta’aruf yang sedang marak di Indonesia.


Sulaiman Mamu terlalu memanjakan Hafsa dan menjanjikan akan memberikan modal kepada Hafsa untuk mendirikan Happily Ever After Event Planning segera setelah ia menikah.

Review


Penulis menggunakan Pov 3 Khalid dan Ayesha secara bergantian, sehingga pembaca dapat memahami kondisi keseluruhan cerita. Penyampaian yang ringan dan mengalir membuat pembaca tidak sabar untuk lanjut membaca sampai halaman terakhir.

Dialog dan narasi berimbang, membuatku tidak bosan membacanya.
Pengenalan tokoh juga bertahap, sehingga pembaca bertanya-tanya apa peran tokoh ini dalam keseluruhan cerita. Dan apa keterkaitan antara konflik-konflik tiap tokoh.

Ketika membaca Ayesha ini mau-tidak mau aku membandingkannya dengan Pride and Prejudice karya Jane Austen.
Keluarga Shamsi mewakili keluarga Bennet. Keluarga Mirza mewakili keluarga Darcy.

Aku dengan mudah membayangkan Farzana sebagai Lady Catherine de Bourgh yang sangat angkuh. Aku dibuat gemas dengan karakter Hafsa Shamsi yang pecicilan macam Lydia Bennet. Lamaran Masood kepada Ayesha mengingatkanku dengan lamaran Mr. Collins. Kehadiran Masood ini lumayan menghibur di tengah tegangnya konflik keluarga Shamsi.

“Kau lebih baik daripada ini, Hafsa. Aku tahu itu. Kau tidak perlu menikah untuk dianggap serius, kau tidak membutuhkan perhatian dari seorang pria untuk merasa dicintai, dan kau tidak perlu kabur untuk memberi kami pelajaran.”

(hlm. 428)

Aku suka chemistry Ayesha dengan Clara Taylor, persahabatan mereka seperti Jane dan Elizabeth Bennet. Tokoh Amir yang supel mengingatkanku dengan Mr. Bingley. Dan tak lupa tokoh Prince Charming manipulatif, Mr. Wickham diwakili oleh karakter Tarek Khan.

Tokoh Nana dan Nani juga memiliki peran signifikan dalam pembangunan chemistry Ayesha dan Khalid seperti halnya Mr. dan Mrs. Gardiner. Ayesha sangat dekat dengan Nana seperti Lizzie dan Mr. Bennet. Ada banyak dialog menarik antara Ayesha dan Nana melibatkan kutipan dari Shakespeare. (lampiran daftar kutipan di halaman 462-465)

Sebagai retelling Pride and Prejudice, aku harus mengakui bahwa Ayesha ini sukses mengangkat tema Enemy to Lover dengan kearifan lokal Muslim India di Kanada. Pembaca dibuat menebak-nebak akan dibawa kemana ceritanya.

Ada banyak penyesuaian yang dilakukan Uzma, seperti pertemuan di pesta diganti menjadi pertemuan di lounge Bella. Aku sangat terkesan Uzma tidak menghilangkan ke-khas-an novel klasik yaitu komunikasi dengan surat menyurat, walaupun ada penyesuaian dengan menggunakan e-mail.

Selain membahas tentang sistem perjodohan Muslim India, Uzma juga mengangkat tentang feminisme, Islamophobia di tempat kerja Khalid, event tahunan komunitas Muslim di Toronto serta efek buruk situs pornografi.

Aku sangat berharap ke depannya akan makin banyak novel Muslim Representation yang diterbitkan dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Rating Goodreads: 3,9/5☆
Rating Pribadi: 5/5☆

Perjalanan Menuju Minimalis

You can’t buy happiness, but you can buy books and that’s kind of the same thing.

(Anonymous)

Aku tidak ingat kenapa bisa menjadi kutu buku. Yang kuingat bahwa aku suka membaca sejak sebelum masuk taman kanak-kanak. Mulai dari halaman anak-anak Tabloid Nova punya ibu, majalah Bobo, Tabloid Fantasi, sampai buku-buku terbitan Balai Pustaka di Perpustakaan SMP. Aku membaca buku apa saja yang ditemui, karena akses buku terbatas. Ketika SMA, dalam sebuah diskusi ekstra kurikuler, kakak Alumni mengatakan bahwa buku adalah investasi. Setelah itu, aku selalu menyisihkan uang jajan untuk membeli buku.

Bisa dibilang masa kecilku dihabiskan di daerah yang cukup terpencil dan akses toko buku cukup jauh. Toko Buku Gramedia hanya ada satu di Ibukota Provinsi. Maka, ketika aku diterima kuliah di Kota Pelajar, tentunya aku tercengang! Ada banyak bazaar buku murah setiap tahun, diskon buku di toko buku lokal dan gramedia. Bisa ditebak, lulus kuliah membuatku mampu mengumpulkan lebih dari 300 buku.

Kebiasaan membeli buku ini tidak berhenti ketika aku lulus, tapi menjadi berkali lipat sejak bekerja. Setiap gajian aku langsung ke toko buku, hal ini terus berlangsung sampai sekarang. Tapi, di tahun 2017 aku mengalami krisis. Aku butuh uang untuk bayar kos tahunan. Mau minta uang ke orang tua koq ya malu. Udah kerja tapi masih minta. Di titik itu aku sadar bahwa kebiasaan belanja buku menguras kantongku tanpa sisa untuk ditabung.

Aku ingat waktu itu membongkar rak buku yang sudah berjumlah 7 buah, dengan total koleksi sekitar tujuh ratus buku berbagai genre. Mulai dari buku kefarmasian, buku Islami dan tidak sedikit fiksi dan nonfiksi dari berbagai penerbit. Awalnya ada rasa ragu, apakah buku bekas bisa laku? Selain itu, ada rasa tidak rela melepas koleksi yang sudah dikumpulkan sejak tahun 2008. Tapi, sekali lagi, waktu itu aku lebih butuh uang daripada perpustakaan.

Maka, aku memilah buku yang kira-kira tidak akan dibaca ulang. Buku-buku yang sudah agak lama ditimbun tapi tidak dibaca-baca, serta beberapa buku yang aku punya dobel. Ah, kalo diingat-ingat, waktu itu aku sangat menyesal karena tidak punya tabungan.

Suatu hari, dalam suatu pertemuan santai di rumah teman, temanku membahas tentang Hidup Minimalis. Katanya di luar negeri sedang trend Tiny House. Aku hanya bisa menyimak karena belum pernah mendengar hal ini sebelumnya. Tak lama, aku menemukan buku The Life Changing – Magic of Tidying Up karya Marie Kondo. Aku membaca buku itu dan memutuskan memulai gaya hidup baru dengan berbenah.

Akhir tahun 2017, aku mulai mengenal aplikasi Scoop Gramedia, yang kemudian diganti dengan brand Gramedia Digital. Tahun 2018, aku mulai mencoba berlangganan dan cukup menyenangkan melihat banyak buku di pasaran yang ada versi digitalnya. Aku jadi tidak mudah tergoda beli buku fisik. Sepanjang tahun 2018 sampai sekarang, aku selalu menjadikan koleksi Gramedia Digital sebagai acuan sebelum membeli buku.

Tahun 2018, Gramedia Pustaka Utama menerbitkan buku Seni Hidup Minimalis yang ditulis oleh Francine Jay dan Seni Hidup Minimalis ala Jepang oleh Fumio Sasaki. Keduanya saling melengkapi dan aku setuju dengan hidup minimalis dalam artian di sini kita belajar memilah barang-barang yang dipunya menjadi sejumlah minimal sesuai kebutuhan, serta menimbang barang yang akan dibeli dengan saringan yang benar- benar kita butuhkan saja, serta mengabaikan bisikan karena pengin aja.

Setelah kuingat-ingat, rasa senang membeli barang baru, memang diikuti dengan pertanyaan, “nanti barangnya mau ditaruh mana ya?” Begitu pula dalam hal membeli buku. Misal sebulan beli 10 buku, setahun ada 120 buku baru terkumpul. Padahal, kecepatan bacaku hanya 1 buku per minggu. Hasil belanja setahun baru akan habis dibaca dalam waktu 2 tahun.

Melihat buku menumpuk belum dibaca kadang menyenangkan, tapi lebih sering membuat sedih. Kadang aku membayangkan tiap buku adalah lembaran uang, tentunya akan lebih berguna jika dalam bentuk uang tunai atau saldo di rekening. 🙈

Tahun 2019, GPU kembali menerbitkan versi terjemahan Seni Membuat Hidup Jadi Lebih Ringan oleh Francine Jay. Buku ini menjadi nonfiksi pertama yang aku selesaikan di tahun 2020 dan kembali menambah referensi tentang gaya hidup minimalis.

Awal tahun 2020, dunia digemparkan dengan pandemi covid-19. Tentu gaya hidup santai digantikan dengan kecemasan. Kebijakan Work From Home dan School From Home mulai banyak diberlakukan. Tentunya hal ini tidak berlaku bagi kami yang bekerja di bidang kesehatan. Work From Hospital menjadi keniscayaan dengan pelaksanaan protokol kesehatan ketat.

Selama masa pandemi, tentu pemasukan menjadi jauh berkurang karena jumlah pasien menurun hampir 30%. Penghematan di segala sisi harus dilakukan demi keberlangsungan hidup. Aku yang bisa menghabiskan 30% gaji untuk belanja buku, mencukupkan diri dengan buku yang ada di rak. Gramedia pun menerbitkan buku versi digital terlebih dahulu sebelum akhirnya menerbitkan versi cetak dengan sistem pre-order. Ah, sungguh berat sekali memang industri perbukuan di masa pandemi.

Opsi lain menambah pemasukan yaitu menjual koleksi buku yang mungkin tidak akan dibaca lagi dan fokus membaca ebook via Gramedia Digital. Tapi, kemudian toko buku online berlomba mengadakan booksale dengan harga diskon sampai lantai. Bahkan Gudang Gramedia Tajem Maguwoharjo juga dibuka dan harga buku dibanderol 10.000-20.000/buku.

Ada kabar yang menyebar bahwa buku yang terbit 2016 akan dimusnahkan menjadi bubur kertas. Tidak sedikit pembaca yang akhirnya memborong buku di gudang penerbit supaya bukunya tidak dimusnahkan dan bisa disalurkan ke taman bacaan yang membutuhkan. Alhasil, bulan Juni pertahanku jebol. Aku jajan buku sana-sini. 🤭

Akhirnya ke toko buku setelah 2 bulan lock down

Perjalanan pandemi tidak hanya memaksaku menjadi minimalis dalam hal belanja buku saja, tapi juga dalam hal belanja makanan dan juga perlengkapan harian. Biaya kebutuhan hiburan menjadi meningkat karena kebiasaan menonton di bioskop digantikan menjadi langganan TV kabel. Aktivitas di luar dialihkan dengan aktivitas yang bisa dilakukan di rumah saja seperti berkebun, memasak, membaca, menulis jurnal dan menonton film.

Box set Harry Potter Series yang kuselesaikan di awal tahun 2020

Pandemi memaksaku lebih selektif dalam membeli buku. Aku ingat sudah mengumpulkan buku Harry Potter series sejak 2018, dan baru lengkap akhir 2019. Lalu, 2020 menjadi tahun aku menyelesaikan membaca buku 1-7. Puas sekali rasanya bisa menyelesaikan serial yang terkenal di seluruh dunia selama 20 tahun terakhir.

The Case We Met – Flazia

Aku senang 2020 banyak membaca buku-buku bagus genre Metropop Terbitan Gramedia, serta mendapat kesempatan bekerjasama dengan @bincangbuku mengulas buku dalam program IG Tour & Giveaway Beresin Dulu Hidupmu (John Bishop) dan Talking To Strangers (Malcolm Gladwell). Itu pengalaman menyenangkan. Apalagi selain buku untuk diulas, @bincangbuku mengirimkan Eragon dan Sherlock Holmes sebagai bonusnya.

Postingan ulasan Beresin Dulu Hidupmu
Postingan ulasan Talking To Strangers

Banyaknya program diskusi menarik perbukuan di komunitas baca seperti @bookish_indonesia juga mengisi hari-hari pandemi. Sangat menyenangkan bisa mengobrol dan berdiskusi tentang buku dengan sesama pembaca sampai tengah malam.

Aku tidak lagi disibukkan dengan ingin membeli ini itu, tapi lebih menghargai barang-barang yang dimiliki. Aku sekarang lebih banyak menghabiskan waktu (dan uang) untuk hobi daripada barang pajangan. Aku bukan tipe yang sering beli baju, jadi iklan baju yang muncul di laman sosial media jarang membuatku tertarik.

Tantangan utama menjadi minimalis adalah ketika penerbit berlomba-lomba menerbitkan buku baru dengan penawaran harga menarik, diskon khusus ataupun bonus merchandise. Tapi aku sudah membiasakan diri sejak 2018 untuk tidak tergoda hype, dan mulai bersabar menunggu review positif sebelum membeli bukunya. Jika ada versi digital, kenapa harus beli buku fisiknya?

Koleksi Novel Metropop GPU

Aku merasa beruntung hidup di jaman dimana sudah ada buku digital. Kegiatan membaca bisa dilakukan dengan budget minimal tanpa harus pusing memikirkan harga buku fisik yang makin mahal. Belum lagi tidak semua buku digital diterbitkan versi cetaknya. Mau tidak mau, pembaca diharuskan terbiasa dengan buku format digital bukan?

Tampilan Aplikasi Gramedia Digital
Perpustakaan dalam genggaman

Sekarang aku berada di titik membaca tidak harus membeli: bisa pinjam atau baca versi digital. Aku akan membeli buku yang berkesan untuk koleksi. Karena melihat buku di rak adalah hiburan tersendiri. Bagiku asal tidak berantakan, rak buku sangat menyenangkan untuk dilihat. Jika sudah penuh, mungkin saatnya untuk memilah lagi. Berbenah adalah sarana mengenali diri sendiri, hal apa yang sedang diminati, karena minat selalu berubah.

Koleksi bacaan yang bisa diakses di aplikasi Gramedia Digital

Membeli buku dan membaca buku adalah 2 hobi yang berbeda. Aku sadar bahwa tidak membeli buku fisik tidak akan membuatku berhenti membaca. Bagaimana dengan kalian? 😁📚

Perpustakaan Digital: Masa Depan Pembaca Generasi Z? (2)


Konnichiwa Minna-san!
Melanjutkan postingan sebelumnya, kali ini aku ingin membahas 2 hal terkait Perpustakaan Digital:

  1. E-book sebagai Solusi Keterbatasan Ruang penyimpanan
  2. Sasaran Pembaca Remaja (Generasi Z)

Sebagai pembaca generasi Milenial, aku mengalami krisis ruangan. Buku fisik memakan ruang penyimpanan yang cukup banyak. Aku pernah punya 7 rak buku dengan kapasitas 700an buku. Lalu, ketika akan pindah kos, aku membutuhkan banyak kardus untuk memuat koleksi buku. Sangat menguras energi untuk packing, angkut-angkut dan unpacking. Capek banget. T.T

Kenapa aku beralih ke ebook?

  1. Buku yang sudah aku baca tidak akan dibaca ulang
  2. Keterbatasan budget beli buku karena harga buku makin mahal
  3. Keterbatasan ruang penyimpanan
  4. Ketersediaan buku di toko online maupun offline, kadang buku yang aku cari sudah langka atau tidak tersedia di Indonesia (harus beli di luar negeri)

Lalu, apakah aku akan berhenti mengoleksi buku fisik?


Tahun 2017 aku mulai mengurangi koleksi buku fisik secara bertahap. Dari 700an buku hingga sekarang tinggal sekitar 300an buku (2 rak buku saja dan 2 box kontainer plastik). Apakah aku tidak beli buku sama sekali? Woiya jelas tidak mungkin. Haha. Tahun 2018-2020 adalah tahun dimana obral buku sepanjang tahun. Belum lagi pre-order buku baru dengan bonus merchandise menarik.

Sejak 2018 aku berlangganan Gramedia Digital dan kadang membeli buku versi digital di Google Playbook. Kalian juga bisa pinjam buku di iPusnas dan iJakarta, serta sewa buku di Lontara App. Baru-baru ini Mizan Publika juga merilis aplikasi rakata dengan sistem mirip google playbook, namun dilengkapi dengan fasilitas tulis online dan forum diskusi.

Aplikasi baca ebook legal

Tahun 2018-2020 aku tetap membeli buku fisik, tapi memang setelah membaca bukunya, dan kira-kira tidak dibaca ulang, bukunya aku jual lagi atau aku jadikan hadiah giveaway. Buku kerjasama review juga, jika kira-kira tidak akan aku koleksi ya aku jadikan hadiah. Toh setelah aku posting reviewnya berarti sudah lunas. Ada yang menjual buku kerjasama ya itu haknya. Tidak ada buku gratis, yang ada hasil barter jasa review. Ah, aku gak akan bahas tentang paid promote review di sini. Karena faktanya masih jaarrraaaaaang banget. Haha. (ngeteh lagi)

Jadi, buku yang aku simpan hanyalah buku yang mungkin akan aku baca ulang, buku favorite atau koleksi berbagai edisi. Iya, 3 ini aja yang aku simpan. Kategori lainnya akan masuk daftar sementara yang akan dilepas pada waktunya. Rata-rata masa simpan buku hanya 3-6 bulan, atau paling lama 1-2 tahun. Jika selama itu buku itu tidak bergerak alias kandidat timbunan abadi, biasanya akan aku lepas, terutama yang ada versi e-booknya. Kenapa? Karena minat kita selalu berubah. Waktu terbaik untuk membaca buku adalah ketika awal melihatnya (ciyee), sementara waktu kita terbatas, sayang. Pilihlah buku yang kira-kira akan dibaca saja.

Mungkin, bagi pembaca yang punya rumah besar tidak akan relevan dengan kondisi ini. Mungkin tidak pernah terpikir tentang berapa biaya ruang penyimpanan dan tidak tau betapa koleksi buku dan barang-barang akan menjadi beban. Aku bisa bilang begini karena akhir tahun 2018 aku pindah kosan dan mengalami yang namanya bayar kos dobel karena sewa 2 kamar. Aku serius. 2013-2018 aku tinggal di kontrakan, sehingga tidak pernah memikirkan tentang ruangan penuh karena selalu ada space menambah barang. Ketika tahun 2018 pindah kos yang ruangannya lebih kecil, terlihat semua barang menjadi banyaaaaaak. Setelah itu aku kapok dan hanya membatasi buku hanya boleh 2-3 rak saja.

Pernah di suatu forum diskusi yang diadakan oleh salah satu aplikasi menulis online, bahwa remaja sekarang sangat dekat dengan gadget. Sangat jarang ditemui remaja SMP/SMA memegang buku di tempat publik. Pemandangan orang membaca di transportasi umum juga sangat langka. Bisa jadi karena memang membaca bukan menjadi trend di generasi Z. Entahlah aku belum pernah bikin penelitian tentang ini.

Jadi, sebenarnya alasan menjamurnya aplikasi baca online tidak terbatas menjawab kondisi penimbun alias tsundoku macam aku, tapi semata ingin memperluas sasaran pembaca. Ya daripada hape isinya aplikasi game dan marketplace online doang, mending ada aplikasi baca online juga gitu lho!

Sebagai penutup, kedepan kalo semua buku ada versi ebooknya bisa dibayangkan bahwa toko buku offline dan perpustakaan akan banyak yang tutup atau beralih fungsi. Satu sisi akan menguntungkan penerbit karena tidak perlu mengeluarkan biaya cetak. Atau menerapkan sistem pre-order dan print on demand. Selebihnya, hanya waktu yang bisa menjawab. 😀

Perpustakaan Digital: Masa Depan Generasi Z?


Ada yang tau kapan pertama kali ada kertas? Lalu buku apa yang pertama kali diterbitkan?

Sebagai Generasi 90-an, tentu munculnya minat baca di masa kecil tidak lepas dari Tabloid Nova milik ibu, Buletin Khotbah Jum’at ayah, Majalah Bobo dan buku-buku terbitan Balai Pustaka di Perpustakaan SMP. Orang tuaku bukan tipe yang beli buku tiap bulan, tapi buku-buku menarik dan terkait bidang mereka tentu saja ada lengkap di rak buku.

Genre bacaanku di masa SMA terus berkembang karena koleksi perpustakaan sekolah beragam. Selain itu, keterlibatanku di acara Rohani Islam menjadi jembatan kenal dengan mahasiswa dan kesempatan meminjam buku semakin besar.

Memang, pada tahun 2000-an, pengertian perpustakaan terbatas pada koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, berupa ruangan penuh rak buku dengan koleksi beragam genre. Namun, pada akhirnya perpustakaan pribadi pun makin banyak dijumpai karena keterjangkauan harga buku bagi sebagian orang dan akses ke toko buku yang cukup mudah.

Namun, pada faktanya, ketersebaran buku di Indonesia bisa dibilang tidak merata. Toko buku hanya bisa dijumpai di kota-kota besar. Bahkan di pulau jawa sendiri, masih ada daerah yang belum ada toko buku maupun perpustakaan daerah. Lalu, bagimana cara meningkatkan minat baca masyarakat?

Perkembangan teknologi masa kini memungkinkan buku dapat dibaca di Handphone berbasis android dan IoS. Format buku fisik pelan-pelan mulai beralih ke format digital, yang kita kenal dengan istilah portable Document Format (pdf) maupun elektronic publication (epub). Perkembangan ini tentu saja bertujuan untuk mempermudah akses buku kepada pembaca. Tapi, sayang sekali masih ada penyalahgunaan yang terjadi di kalangan pembaca; file pdf disebarluaskan secara ilegal menjadi buku bajakan. Aku gak paham logikanya deh.

Di Indonesia sendiri, aplikasi baca online mulai menjamur. Awalnya dari blog atau website pribadi yang kemudian diterbitkan dalam bentuk cetak, mulai dari multiply, blogspot, wordpress, tumblr, hingga kemudian ada aplikasi menulis online beralih ke wattpad, storial, cabaca yang memungkinkan munculnya penulis baru. Aplikasi baca Google Playbook, Scribd, Kindle Amazon, Scoop (yang ganti nama menjadi Gramedia Digital), ibuk, serta Lontara, dan gak ketinggalan Perpustakaan Nasional membuat aplikasi iPusnas dan Perpustakaan Jakarta membuat aplikasi iJak. Aplikasi terbaru yaitu Rakata yang diluncurkan oleh Mizan, menawarkan konsep one stop aplication untuk membaca, menulis dan berinteraksi.

Perbandingan aplikasi baca digital di Indonesia


Semakin banyak aplikasi baca digital semoga menjadi pilihan yang bisa disesuaikan kebutuhan dan budget. Ada yang lebih suka baca gratis, ada yang lebih suka beli, ada yang gak suka ribet langganan aja sekalian, dll. Variasi koleksi bukunya juga beragam. Tinggal disesuaikan saja. Aku pribadi melihat ini sebagai titik terang bagi keterbatasan ruang penyimpanan (rak buku) dan keterbatasan budget. Mengingat harga buku makin mahal, beralih ke buku digital merupakan pilihan yang bisa dipertimbangkan. Ingat ya, baca ebook di aplikasi legal, jangan beli ebook pdf di market place, itu ilegal!

10 Cara Mengisi Waktu Liburan Akhir Tahun #DiRumahAja

Konnichiwa, Minna-san!


Long time no post ya. Awal bulan ini aku menyelesaikan orderan @darcycrate. Alhamdulillah responnya cukup baik. Gak sabar buat nyiapin item box#4 Maret 2021 nanti.


Liburan akhir tahun tentunya sangat menarik. Tapi ingat, liburan keluar kota memiliki resiko tertular covid-19. Nah, daripada bengong akhir tahun gak kemana-mana, aku punya list kegiatan #dirumahAja

Top 10 Books read in 2020

1. Membaca

Coba dicek buku yang belum dibaca ada berapa? Mungkin ini waktunya kalian menghabiskan 1-2 buku yang sudah tertimbun sebelum corona menyerang. Atau bisa juga cek update buku/komik terbaru di aplikasi baca digital.

2. Journaling

Reading List 2021

Hobi yang satu ini tampaknya sedang naik daun. Ngejurnal tidak sekedar menulis diary curhat, tapi bisa dikombinasi dengan membuat tabel perencanaan (planner) dan mencatat kebiasaan (habit tracker) lho. Ada banyak contohnya di instagram. Cari saja idenya menggunakan tagar #bujoideas #bujospread #planneraddict, dll.


3. Menonton film atau TV series

Di Netflix atau Disney+ hotstar ada banyak film dan TV series baru rilis Desember ini. Rebahan sambil nonton kenapa tidak?

4. Mewarnai adult coloring book

Pernah dengar tentang terapi warna? Nah, kegiatan mewarnai juga memiliki efek mengurangi stress lho~

5. Membuat kerajinan tangan (DIY)

Ada banyak tutorial origami, membuat pembatas buku atau kotak serbaguna di youtube. Seru juga lho manfaatkan barang-barang yang ada tanpa harus beli.

6. Berkebun

Pengen punya taman tapi lahan terbatas? Bisa coba hidroponik. Atau yang simpel, beli kaktus mini dalam pot. Benih bunga dan sayur juga banyak dijual di marketplace. Siapa tau berhasil kan bisa berhemat.

7. Mencoba resep masakan

Pengen makan enak tapi low budget? Coba cek cookpad atau yummy.idn. Ternyata masak itu gampang asal punya waktu luang.

8. Mewarnai pinggiran buku (paint edges)

Siapa yang sebel lihat buku menguning? Salah satu sifat kimiawi kertas adalah mudah teroksidasi. Tapi jangan khawatir, kamu bisa mengecat pinggiran buku dengan cat semprot atau cat poster. Tutorial bisa dicek di youtube. Bisa juga cek highlight story instagramku.

9. Menata rak buku

Oh, belum ada mood baca? Sesekali mengubah tatanan rak buku tidak ada salahnya. Siapa tau menemukan buku yang menarik.

10. Room decor/ Berbenah ruangan

Apakah kalian mulai merasa jenuh dan bosan dengan dekorasi rumah? Sekarang saatnya untuk mengganti dekorasi ruangan! Bisa dengan mengganti posisi barang, mengecat dinding atau menambah hiasan. Kalau kamar sudah penuh berarti saatnya untuk memilah barang.
Home decor

Kasih tau di kolom komentar nomer berapa saja yang mau kalian coba. Semoga waktu liburannya bermanfaat menjadi sarana refreshing setelah menjalani 2020 yang berat. Sebentar lagi 2021, mulai dari 0 lagi ya. Selamat menyambut tahun baru! 💙

Continue reading “10 Cara Mengisi Waktu Liburan Akhir Tahun #DiRumahAja”