March On

Tua itu Pasti, Dewasa itu Pilihan

X    : Eh boz, lusa si A milaad y?

Mw qt apain?

Siram aer comberan atw tepung telor?

#LgSadis

Y    : idem aja *lg males mikir -_- oia nti kado milad kalian ngasihnya brg yaa, haha

X    : Heeh?

Ah, elu g seru nih.

Lu masi meriang?

Td gmn kuliahnya?

Eh, trnyata klo g ada kuliah jd bnyk kerjaan g jelas y?

Gw jd heran sendiri..

Y    : Lg ga mood. Byk org yg nyinyir bkin ga ngeh. Ah lupakan..

Kuliahnya y gt brg anak2 09. 07-nya cm dua. Mggu lalu bolos jd td kuliah prtama, haha..

Ya mw diapain gw ga jago ngrjain org 😀

X    : sabar deh~

Lu sibukin diri aza.

Klo gw lg g mood, gw bakal diem, ngurung diri d kamar, baca novel, beres2, nonton, nge-game, apalah cari2 kerjaan. Yg penting mood gw balik truz bs ngerjain PR2 yg numpuk.

A   : how about d script proposal?

D   : br td sktr jm10.30 ta masukin TU buat dpt TTD WD 1. Pdhl bsk max ngumpulin k pengelola skripsi. Mg bsk pagi udh di-TTD-in pak WD 1. Doain y J

A   : Amiin.. Smangat dee. Gw blm dpt mood nyekrip nih. Aah.. Malah ngerjain hal – hal g jelas.

22th sudah y ne.

 Wah, klo mw dibikin buku, pasti berjilid-jilid tu.

Apapun rasa kisah hidupmu,

mg bs mmbwtmu smakin tegar tuk hadapi hidup.

Lbh tepatnya, hadapi hidup stlh mati jg.

Okay, barokallah y ukhti..

Received:

06:45:08

01-02-2012

From:

My Twin

+62856xxx

Aku paling suka Serial Akta-nya Jazimah Al-Muhyi yang nomer 2, judulnya “Gendut Oke, Hitam…” Novel islami yang paling berkesan yang kubaca ketika SMA kelas satu. Dipinjami oleh MR pertamaku. Dari 15 kisah, aku paling sering membaca bagian 6: Akta Bete! Simak deh percakapan antara Mbak Naya dan Akta:

“Boleh Mbak Naya bicara lebih panjang, Dik?”

“Tentang apa?”

“Tentang segenggam garam”

Suhu keangotan Akta berkurang beberapa derajat. “Garam?”

“Segenggam garam yang dimasukkan ke dalam segelas air putih.”

“Maksudnya?”

“Diaduk, lalu diminum. Gimana rasanya?”

“Asin banget atau bahkan… Pahit?” Akta mulai terpancing, lalu mencoba menebak.

Naya masih tersenyum. “Bandingkan jika segenggam garam itu ditaburkan ke telaga. Jadi asinkah air telaga?”

Tanpa berpikir lebih dari sedetik, Akta menyahut, “Ah, ya nggak ngaruh lah. Air telaga tetep aja seger. Wong garamnya cuma segenggam. Beda kali kalo garamnya satu ton.”

“Begitulah persoalan hidup kita. Hanya segenggam garam. Tak kurang dan tak lebih. Semua tergantung pada wadahnya. Hati kita. Seterbatas gelas atau seluas telaga.”

“Jadi?”

“Luaskan hati kita dengan taqarrub pada Allah. Agar aneka garam kehidupan tak menjadikan hati kita berubah rasa, berubah warna.”

“Caranya?”

“Zikir, tilawah, shalat, puasa, sadaqah. Ala bidzikrillahi tathmainnul quluub. Lupa?”

Akta nyengir. Merasa tertohok. Hampir seminggu ini target tilawahnya yang hanya seperempat juz sehari banyak tidak terpenuhi. Shalat malamnya pun lebih banyak yang bolong, juga shalat sunah yang lain. Begitu pula zikirnya yang seringnya cuma sebatas di lisan. “Nyindir, nih?”

Lagi – lagi Naya hanya tersenyum.

Ketika malas menyerangmu, ingatlah ayat – ayat – Nya.

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (At – Tawbah, 9: 41)

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (At – Tawbah, 9: 111)

 

Bahkan hujan yang seringkali menjadi alasan,sesungguhnya ia hadir mempunyai arti tersendiri.

“(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)” (Al – Anfal, 8: 11)

Jika dakwah itu begitu mudah,

Tentu allah tdk akan janjikan pahala yang besar

Jika dakwah itu tidak akan ada penyimpangan,

Mengapa allah memberi peringatan adanya munafik dan fasik?

Jika setelah iman itu tidak ada makshiyat,

Mengapa allah perintahkan amar ma’ruf nahy munkar?

Jika merasa cukup dengan usaha seorang diri,

Mengapa allah mengirimkan Harun pada Musa, Yahya pada Isa dan Muhammad bersama sahabatnya?

Jika dakwah dapat menang dengan iman 1 orang,

Mengapa allah meminta kita bersabar dan tetap dalam naungan jama’ah?

Selalu saja ada tanya pada jiwa yang renta..

Bukan pada rumput yang bergoyang kita minta jawaban..

Istafti qolbak.. Berfatwalah pada hatimu..

Renungan sejenak di akhir malam, lillah, billah, fillah!

Received:

21:42:57

01-11-2011
From:

Peace

+6852xxx

Kita bukanlah orang yang kuat. Justru dengan kelemahan itu kita saling menopang. Kita bukanlah orang hebat, yang mampu melakukan hal – hal besar dalam waktu singkat. Kita hanya manusia biasa yang penuh keterbatasan. Kita awali saja cita – cita besar itu dengan langkah – langkah kecil kita. Modal kita cuma semangat. Ketika semangat tak lagi ada, mundur bukan pilihan. Berhenti sejenaklah untuk bersujud dengan selemah – lemahnya iman.

Salima, 28 Februari 2012, 22:44

Bedah Salima

 adalah salah satu kontrakan muslimah yang terletak di sendowo. Bisa dibilang ini satu – satunya kontrakan akhwat diantara banyaknya kos – kosan yang ada di sekitar kampus klaster kesehatan. Kalo diliat dari bangunannya yang berlantaikan ubin semen, Salima tampaknya didirikan sejak tahun 50-an atau 60-an. Salima dikelilingi 5 buah rumah yang bernomor sama yaitu Sendowo A5. Hal ini disebabkan pemilik rumah adalah 6 bersaudara yang 4 diantaranya tinggal di sekitar rumah utama. Jadi wajar ketika pertama kali maen, akan nyasar kalo cuma modal nomer rumah tanpa ancer – ancer dan ciri – ciri detailnya.

Pekarangan depan Salima berupa lahan yang cukup luas untuk parkir motor ataupun main badminton. Kita akan mendapati teras yang tidak cukup luas yang digunakan sebagai tempat parkir motor tetangga. Begitu pintu terbuka, kita akan melihat ruang tamu yang dialih – fungsikan menjadi tempat parkir motor dan sepeda serta rak sepatu. Ada 2 buah lemari dan 2 buah rak buku yang berisi warisan titipan Salimers terdahulu yang belum sempat diambil pemiliknya.

Ruang tengah berukuran sangat luas, sekitar 4 x 4 m2. Terdapat 3 buah jendela yang cukup besar untuk masuknya cahaya dari luar. Jika kita melihat keluar, ada semacam garasi samping berukuran 1 x 13 m2. Ruang ini digunakan untuk menyimpan benda yang tidak terpakai seperti meja, rak sepatu dan sepeda yang sudah rusak. Lantai ruang tengah dilapisi 2 buah karpet. Sebelah barat untuk space sholat berjama’ah sementara sebelah timur untuk aktivitas lainnya seperti makan bareng, ngenet, baca koran, dll. Fasilitas bersama yaitu TV  14 inci dan speedy 24 jam.

Rumah ini terdiri dari 5 kamar dengan ukuran yang berbeda. Kamar paling depan yang paling besar berukuran 4 x 4 m2, kamar terbesar kedua berukuran 3, 5 x 4 m2, kamar tengah 3,5 x 3,5 m2, kamar terkecil 2 x 3 m2, dan kamar paling belakang yaitu 3 x 3 m2. Tiap kamar pun punya fasilitas berbeda, diantaranya double window single door, single door one window, double door one window atau double door without window. Ribet yak? Yah, simpelnya tiap kamar punya sirkulasi udara dan cahaya yang lumayan bagus. Tak jauh dari ruang tengah, tepat di sebelah selatan kamar terkecil ada space untuk gudang dan jemuran pakaian setengah kering.

Lanjut ke bagian belakang Salima, ada 2 kamar mandi yang disebut dengan KM besar (sebelah kiri) dan KM kecil (sebelah kanan). Kamar belakang berada di sebelah selatannya. Space antara KM kecil dan kamar belakang ada dapur dengan peralatan masak yang cukup lengkap yaitu kompor gas kecil, wajan, panci, piring, gelas, mangkok, sendok, garpu, sumpit, dll.

Di sebelah utara dapur ada pintu belakang yang menghubungkan dengan dunia luar. Ini adalah space tanpa atap dari Salima. Sebuah sumur menjadi sumber air untuk keperluan sehari – hari. Jemuran yang luas dengan cahaya matahari langsung membuat pakaian cepat kering di musim kemarau. Namun ketika musim hujan tiba, tentunya Salimers harus siap mengangkat jemuran sebelum hujan membuat basah lagi pakaian yang sudah setengah kering. Jika tidak, maka pakaian kotor akan menggunung karena pakaian basah berhari – hari tak kunjung kering.

Nah, itu tadi bedah Salima secara fisik. Sedangkan yang tak kalah penting adalah membedah para penghuni Salima a.k.a Salimers (Sa5ers). Para sesepuh mengaku membentuk Salima atas dasar fikroh yang sama. Kalo gak salah sih, pertama kali muncul ide membentuk kontrakan akhwat tu tahun 1998. Tentang tahun, agak – agak lupa, entah 1998 itu pindah ke Sendowo atau pertama dibentuk di Pogung. Yang jelas dulu awalnya Salima itu di Pogung. Kenapa namanya Salima? Salima berasal dari kata salim, yang berarti selamat. Nah, harapannya para Salimers bisa selamat sampe akhirat. Amiiin. Karena kontraknya habis, makanya Salima pindah ke sendowo. Eh, pas banget dapat rumah di blok A nomer 5. Dari sana muncul istilah Sa5, kepanjangan dari Sendowo blok A nomer 5.

Formasi Salimers 8 – 9 orang. Pernah sih 10 orang, kamar depan bertiga! Jelas gak nyaman lah ya. Makanya dibuat kuota maksimal 9 orang, yaitu empat kamar berdua, yang satu sendiri (kamarnya kecil gitu, gak mungkin berdua kan?). Seiring beriringnya waktu, ada berbagai pergantian peraturan dan formasi. Oleh karena itu, demi kenyamanan bersama ada jadwal piket harian, pekanan dan bulanan.

Inilah para Salimers:

Sesepuh: Mb Aan, Mb Anggun, dll

2002: Mb Astri, Kakak Ayu

2003: Mb Evi

2004: Mb Dini, Mb Meliza

2005: Mb Embun, Mb Halida, Mb Niken

2006: Mb Cici

2007: Shinta, Ispri, Nea, Rika

2008: Puja, Arkandini

2009: –

2010: Miski, Nita

2011: Hanifah

Selain itu, ada istilah Penghuni Gelap Tetap (PGT). Ini berlaku untuk para pengunjung tetap Salima. Baik itu para Salimers yang sudah pindah, atau teman – teman yang sering maen ataupun sekedar mampir ke Salima. Gak perlu disebutin kali ya? Biar gak ketauan. Namanya juga PGT. Identitasnya harus dirahasiakan.

Nah, formasi terakhir disepakati kuotanya cuma 7 orang dengan 2 kamar depan dihuni 2 orang dan 3 kamar lainnya sendiri – sendiri. Jadwal piket per hari satu orang. Sedangkan piket pekanan dan bulanan disesuaikan. Salima hanya mempunyai satu kunci pintu depan. Oleh karena itu, ketika terpaksa pulang malam lebih dari jam 21.00, maka harus memberi tahu penghuni lainnya. Jika tidak, maka akan terancam tidak akan ada yang membukakan pintu. Terpaksa tidur di luar atau mabit di tempat teman.

Kontrak Salima tiap 2 tahun, terakhir perpanjangan Juli 2011. Oleh karena itu, masa kontraknya hingga Juni 2013. Kondisi terupdate Salima, penghuninya sekarang tinggal berenam. Oleh karena itu, sedang dicari nih orang ke-7-nya. Ada space untuk 1 orang di kamar depan. Harga per bulan yaitu Rp 133.000. Total untuk periode Maret 2012 hingga Juni 2013 terhitung 16 bulan yaitu Rp 2.128.000. Tiap bulan ada iuran wajib yaitu Rp 35.000/orang untuk membayar tagihan listrik, telpon, koran Republika, sampah, RT, dan beli gas. Sedangkan iuran speedy Rp 36.000/orang, tapi sifatnya hanya untuk yang berlangganan saja. Untuk non member infaq ngenet hanya Rp 2.000/jam.

Fasilitas umum terdekat: 3 warung makan (Warpin, eka, nana), burjo 24 jam, nana laundry dan lovely laundry, Taman Bacaan Nova, Cozy print dan fotokopi 24 jam, Kopma, Sardjito, Apotek UGM, Mirota Kampus, dll.

Tertarik? Hub Salima call center (0274) 543 433 atau ke 081927762890 (nea)

#catatan ini juga bisa diliat di http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150718494653745

Mix ‘n Match

Apa yang kalian lakukan pada senin pagi jika jum’at – ahad full dengan kehujanan di sore harinya?

Of course nyuci. Ada temanku yang bilang bahwa nyuci tu riyadhoh, ada juga yang bilang bahwa nyuci itu waktunya konser. Yah, daripada bengong kan? Ntar kesambet lagi. Summer Parade Depapepe dari Asyaro pun mengiringi suara air keran.
“Mbak Ne, ni matcing gak?”, Misuki chan yang mau berangkat kuliah pun menghampiriku.

Aku menelitinya dari ujung kaos kaki hingga ujung jilbab. Ijo-Ijo-Putih.

“Aku juga biasanya gitu. Selalu 2 warna yang beda atau 1 warna tapi gradasi. Gak pernah tuh kalo pake gamis item truz pake jilbab item. Mesti pake jilbab putih atau oren atau ijo atau ungu.”

“Jadi gak papa nih gini?”

“Iya.”

Misuki chan pun berlalu dan menuju ke kampus bersama ransel hitamnya.

Aku pun melanjutnya aktivitas mencuciku. Jadi inget Isupuri san. Dulu waktu dia di salima, mesti heboh kalo mau berangkat.

“Neaaa.. menurutmu kalo bajunya ini, roknya mending yang ini atau yang ini? Truz jilbabnya yang mana?”

Pun demikian dengan Arkan. Dulu aku seringkali berteriak ketika melihatnya mengendap – endap mau pergi dari salima mengenakan jilbab coklat, baju biru dan rok hitam.

“Astaghfirullah arkaaaaan.. Mau kemana??? Ganti jilbab!”

Talk about syle, aku bukan orang yang suka ngikutin mode. Tapi emang sudah jadi kebiasaan di rumah untuk selalu memperhatikan style. Dengan jumlah pakaian seadanya, aku dan adek terbiasa untuk kreatif mix n match. Jika menggunakan kemeja bermotif bunga, garis – garis atau kotak – kotak, maka akan dipadukan dengan bawahan warna gelap. Jika atasannya polos, maka kami akan menggunakan bawahan bermotif atau ada bordirnya. Pun dengan jilbab, gak mesti sewarna dengan baju dan rok. Kami sering menggunakan bawahan jeans, kaos putih polos dan jilbab merah atau hijau.

Kalo dipikir – pikir, jadi akhwat koq ribet beud yak? Tapi emang ini bagian dari dakwah. Pernah baca Jangan Jadi Muslimah Nyebelin? Di buku itu, Asma Nadia menguraikan sebab – sebab orang sebel sama muslimah? Salah satunya beliau menyampaikan tentang masalah pakaian. Akhwat yang suka pake baju tabrak lari, tentunya bikin banyak yang nge-gosip-in. Beliau juga banyak memberikan tips n trik biar matching. Kalo di Jepang, justru konsep tabrak lari Harajuku Style cukup berkembang di kalangan para muda – mudinya.

Menurutku, sebagai muslimah, yang penting memenuhi syarat menutup aurat (An-Nur: 31 dan Al-Ahzab: 59). Jilbab tidak tipis dan tidak transparan. Nah, dengan perkembangan jilbab sekarang tentunya jilbab paris menjadi pilihan. Selain harganya yang terjangkau, pilihan warnanya pun banyak. Hanya dengan sedikit modifikasi dengan renda – renda, kancing, manik – manik, atau pun pita, jilbab paris mampu jadi jilbab cantik. Masalahnya adalah jilbab paris cukup tipis dan transparan. Biar tebel ya pake dobelan lah~

Di sana lah syiarnya. Jaman sekarang ini, syiar gak cukup dengan kajian dan dauroh. Mayoritas kader sekarang punya facebook dan blog. Yah, media online jadi alternatif syiar yang efektif. Dari diskusi dengan mbak Aan, menurut beliau generasi sekarang adalah generasi pop. Oleh karena itu, metode dakwahnya juga beda dengan dulu. Coba baca Jangan jadi Bebek-nya O. Solihin, buku – buku FLP jaman kita SMP – SMA, bahasa yang digunakan sangat berbeda dengan buku – buku Islami terbitan Indiva Media Kreasi.

Eh, koq jadi malah ngomongin buku lagi?

Ya sudah lah ya, sebelum nambah ngaco, untuk kali ini sekian dulu aja tentang style. Akan banyak cerita tentang style. C u~

Graduation

Ribuan rasa mengiringi hari ini. Untuk kesekian kalinya wisuda strata-1 mahasiswa UGM dilaksanakan di GSP. Lautan manusia tumpah ruah di gedung megah tersebut.

Satu sisi, aku senang melihat keberhasilan saudara – saudariku hari ini. Tapi di sisi lain, aku sedih. Harusnya aku juga hari ini mengenakan toga. Tapi tidak. Aku hanya menggunakan jilbab dan setelan hijau, sepasang sandal gunung serta tas slempang krem produk daur ulang kemasan kopi instan.

Tak apa. Belum saatnya, Ne. Aku hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan terpancar dari wajah mereka yang mengenakan toga, kebanggaan para keluarga yang mengiringi serta teman – temannya yang turut bersuka cita. Ya, aku akan menunjukkan senyum terbaikku hari ini.

Hari ini setahun yang lalu,

Aku melihat wajah bahagia 2004, 2005, 2006

Mei 2011,

Aku menemukan ta-ukhti-ku, yang paling kecil diantara kami, lulus paling awal. Selamat!

Agustus 2011,

Begitu banyak yang wisuda, tapi aku tak bisa hadir karena sedang KKN.

November 2011,

Aku lebih memilih kuliah daripada ikut foto angkatan di GSP. Hanya sebuah sms singkat berisi ungkapan selamat teriring doa tulusku yang terkirim pada mereka yang sudah lebih dulu menjemput mimpinya.

Senyum tanda mesra, senyum tanda sayang,

senyum lah sedekah yang paling mudah.

Senyum di waktu susah, tanda ketabahan.

Senyuman itu tanda keimanan.

[Senyum – Raihan]

This slideshow requires JavaScript.

 

Februari 2012,

Aku hanya bisa tersenyum melihat betapa penuh sesaknya GSP. Begitu sulitnya mencari tempat parkir. Dan sungguh banyaknya kendaraan yang menyebabkan lalu lintas agak terhambat. Sungguh allah bersama orang – orang yang sabar. Just do your script as fast as you can, then do anything you want!

Salima, 21 Februari 2012, 23:03