Red Fighters

Salam Kenal~

Ada yang bingung baca tulisanku? Yah, mungkin karena kalian belum tau nama2 yang ada ya. Nah, mumpung tulisanku belum banyak, ini kukenalkan satu – satu:

1) Adhiyyat: Honda Grand Hitam yang setia menemaniku sejak akhir kelas 3 SMA.


2) A-Data: Flashdisk putih –> belinya pake duit THR lebaran jaman kapan ya? -.-a

lagi rusak T-T, tapi udah dapet gantinya koq. Lagi dicariin namanya, ada usul?

3) An – Naml: laptop Asus Merah –> belinya pake duit sendiri lho~ hasil berhemat selama 3 tahun lebih di jogja. sekitar awal tahun 1432. Wah, sudah lebih setahun menemaniku. Ada yang protes pas kubilang namanya An-Naml. “Lepimu kan gede, Ne. Masa namanya an – naml (semut) sih?”, lalu kujelaskan saja filosofinya.

Dan, yang paling sering kusebut adalah

4) AsyaRo: Nokia C-3 warna biru. Hmm, sebenarnya aku ingin sekali merubah warnanya jadi merah! Haha, dasar gila merah. AsyaRo berarti Sepuluh. Aku membelinya tepat pada tanggal 10 Ramadhan 1431. Sudah 2 tahun membersamaiku. Berkali – kali error cz keseringan kupake nyetel lagu n foto2. Yang sabar ya akh.. MP3 player simbadda-ku sudah lama tak kugunakan sesuai fungsinya dan camdig-ku masih dalam rencana. T-T

Sebenarnya aku sempat punya kompi yang namanya Aswaad. Tapi dy sudah kuserahkan pada Adikku, Mahasiswi Teknik Arsitektur 2010 UNS Solo. Semoga dy lebih bs bermanfaat di sana daripada hanya jadi pengangguran di sudut ruangan.

Yah, semoga aku bisa memanfaatkan semua fasilitas yang ada sebaik – baiknya. Karena bentuk kesabaran kita adalah menjaganya tetap bermanfaat serta bersyukur dengan menyadari bahwa itu hanyalah barang yang bisa rusak, sehingga tidak tergantung padanya ketika tak ada.

Sungguh, dakwah sekarang jauh lebih mudah. Mau kemana – mana ada motor, gak perlu antri nunggu bis/kereta. Mau ngerjain tugas ada laptop. Gak perlu lama – lama di rental komputer. Kalo gak punya printer ada flashdisk, numpang ngeprint sama temen. HP rusak, bisa pinjem, atau ya chatting aja. Kan ada internet.

Once upon a time, ada seorang mas’ul LDK kampus utara yang bersepeda dari kampusnya ke kampus ISI di selatan. Hanya untuk sekedar silaturahim! Mengenalkan tentang LDK di kampus seni tersebut.

Bandingkan dengan kita. Motor mogok aja ikutan mogok gak mau liqo’. Padahal kan bisa pinjem motor. Gak ada motor yang bisa dipinjem, ada sepeda. Gak ada sepeda ya ada bus/ angkot. Gak ada juga? Ya jalan! Tak ada yang sulit jika mau berusaha. ^^9

Monday Rain

Sabtu – Ahad FULL! Maka aku pun mengazzamkan diri untuk nyekrip hari senin. Ketika bangun di senin pagi, aku langsung otomatis ingat skripsiku. Tapi mataku langsung melihat keranjang pakaian kotor di sudut kamar. Ya Allah, aku harus nyuci hari ini! Maka pagi pun kuhabiskan untuk menyuci. Baru saja ingin menghidupkan An-Naml, ada sebuah sms masuk.

Ne, bs tolong kirimkan buku kimia organik k bandung? Kalo bs yg hr ni nyampe. Tolong ya ne.

Aku paling tidak bisa menolak orang yang meminta tolong. Seringkali ketika sedang kesal aku tak membalas sms mereka. Tapi kali ini aku sedang tidak ingin menyulitkan mbakku itu.  Refleks aku pun membalas:

Dikirim k bandungnya k mana mb?

Sembari menunggu balasan beliau,  aku pun mencari kertas coklat untuk membungkus buku itu.

“Rik, JNE tu yang di depan kopma kan?”

“Iya, kenapa, Ne?”

“Mb Aan minta tolong ngirimin paket ke temennya di Bandung.”

“Waah, nitip.. Fotokopian buku Mbak Nana ketinggalan.”

“Yaudah, sini..”

Sementara Rika membungkus buku tersebut, aku mengeluarkan Adhiyyat. Kalo aku gak keluar, mesti Adhiyyat ikutan mengurung diri di Salima.


“Mbak Ne udah nyekrip?”, Misuki mengingatkanku dengan rencana utama hari ini.

“Belum, abis ini deh..”, jawabku asal sambil makan.

Misuki pun berlalu. Dia harus ke kampus.

Selesai makan, bukannya menghidupkan an-naml aku malah meraih buku berita acara halaqah tarbawiy. Nanti sore mau meliqo’i, aku pun mengingat – ingat pertemuan sebelumnya dengan adek – adekku itu. Kelompok yang sangat dinamis. Dari 10 orang tinggal 4 orang yang bertahan. Aku meraih selembar origami kemudian menulis dengan spidol ijo: fokus 4 orang, nama dan tanggal lahir mereka. Ya Rabb, kutitipkan yang 6 padaMu, semoga masih istiqomah berdakwah walau tak lagi berjama’ah. Aku sudah kehabisan akal untuk memastikan keberlanjutan tarbiyah mereka. Smsku tak pernah lagi direspon. Sekedar menanyakan kabar, tak ada balasan. Ada jarkom kajian, JR, rihlah, syiar shaum ayyamul bidh pun tak ada komentar. Sungguh, hidayah allah itu hanya milik Allah. Kita hanyalah perantara. Jangan pernah lelah mengajak, karena kita tidak pernah tau hidayah itu datang dari pintu yang mana.

Aku melirik jam dinding. Sudah jam 14.30. Setengah jam untuk skripsi? Hmm, gak deh. Lebih baik nanti malam saja. Aku meraih novel yang kemarin sore kupinjam.

Jam dinding menunjukkan pukul 15.55. Aku beranjak meraih jam tangan putihku dan kunci Adhiyyat. Jam dinding salima memang kelebihan sepuluh menit. Itu sebabnya aku jarang terlambat. Hujan mulai deras mengguyur bumi Jogja. Aku mengenakan jas hujan hitam Rika, jas hujan coklatku masih di Avis.

Perjalanan tak sampai sepuluh menit. Aku sudah berada di tempat janjian kami. Hingga setengah jam kemudian aku masih sendiri. Hanya ada satu orang yang konfirm bahwa ia terjebak hujan dan tak bawa jas hujan. Apa yang harus kukatakan? Aku hanya membalas sekedarnya dan kembali menekuni novelku sambil menikmati suara hujan dan menahan dinginnya angin. Aku – seperti biasa – tidak membawa jaket.

Tiba – tiba sebuah sms mengejutkanku. Dari satu orang lagi yang berjanji akan menyusul.

mbak, aku otw

Aku hanya tersenyum kecil melihat semangatnya. Refleks aku membalasnya.

Gak ada yg dtng dek. Tugas klpknya udh slsy?

Kemudian, ia membalas lagi.

Mbak d mana? aq k sana.

Kalau tak bisa ketemu semuanya, tak apalah satu saja.

Masi d tempat janjian.

Bukan sekali dua kali seperti ini. Hanya ia sendiri, namun tak menyurutkan semangatnya.

Tunggu y mb.

Luruskan niat, Ne! Aku pun membalasnya lagi.

oke

Ba’da isya’ aku akhirnya menghidupkan An-Naml-ku dan langsung menyalakan winamp, memilih lagu jaman jadul SMP – SMA.  Misuki yang sedari tadi di ruang tengah bersama Arkan masuk ke kamar kami dan membaca bahan praktikumnya di sudut kamar. Tiba – tiba ada sms. Aku masih menyempatkan diri membalasnya. Kemudian, ada sms lagi.

“ Ya Allah, kapan aku bisa nyekrip nih? Emang kalo nyekrip HP harus kubuang.”

“Sini AsyaRo-nya. Kusita dulu”, Misuki tampaknya sudah gerah melihatku masih sibuk sms-an. Mungkin tampak jelas ada raut kesal di wajahku. Aku pun mengulurkan AsyaRo kepadanya.

Dan aku pun bisa mulai menyalin data dari kertas – kertas HVS ke Ms. Word. Ada 6 bulan dikali 7 – 8 data. Inilah akibatnya kalo ngambil data secara manual tulis tangan gak pake laptop. Kerja dua kali. Yasudahlah. Dinikmati saja.

“Aduh, belum buat publikasi follow up AAI”, Misuki pun mengambil Compaq-nya di ruang tengah dan kembali ke kamar untuk membuat designnya.

“Mbak Arkan, tolong dong dikecilin suara laptopnya”.

Aku menoleh ke Misuki. Menyadari bahwa suara winampku menyaingi suara winamp Arkan. Yah, bukan salahku dong. Aku tak bisa nyekrip dalam kondisi sunyi senyap atau terlalu berisik. Suara dari an-naml kuharapkan bisa memfokuskanku dari hiruk – pikuk dunia luar. Tiba – tiba terdengar suara TV dinyalakan.  Nita-ya!

“Yak, sekalian aja aku setel lagu dari Hp-ku, truz Nita nonton PH”

Aku hanya geleng – geleng dan menutup pintu kamar kami. Aturan tak tertulis bahwa ketika pintu kamar tertutup berarti sedang tidak ingin diganggu.

Alhamdulillah, selesai juga.. Baru sekedar nyalin data sih. Ada beberapa data yang harus diubah. Disinkronkan lagi dengan yang lama di format Ms. Excel. Kemudian, dihitung persentasenya, dibuat diagram, dibahas. Huah, bisa gak tidur nih. Tapi otakku sedang tidak bisa diajak berpikir malam ini. Yah, mungkin kucukupkan dulu nyekrip untuk malam ini. Daripada nanti ber – asap – asap. ^^v

“Lho, koq udahan?”, seru Misuki heran.

“Besok lagi deh”, sahutku singkat.

“Besok kapan?”

“Ya besok. Selasa.”

“Bukannya senin dan rabu?”

“Itu kan pas dulu masih kuliah, sekarang kan gak kuliah lagi, Mis.”

“Oke, remind it yourself, gue kan pelupa, bisa jadi gue besok lupa. Mau nyebut nama mbak aja aku sering lupa”

“Masa sih?”

“Iya, beneran.”

Kumpulan huruf menjadi kata. Kumpulan kata menjadi kalimat. Kumpulan kalimat menjadi paragraf. Beberapa paragraf menjadi bab. Hanya tinggal menambah sedikit profil Puskesmas Minggir di BAB 1, menghapus metode evaluasi berdasarkan Dipiro yang tak terlalu diperlukan di BAB 2, menambah pembahasan di BAB 3 dan merubah sedikit kesimpulan di BAB 4, maka voila! Jadilah kesatuan tulisan utuh my master piece! Kuncinya kontinyuitas. Walau cuma untuk nambah satu kalimat, nyekrip emang harus dipaksain. Semoga tak mundur lagi. Sudah kuniatkan wisuda Mei-ku sebagai kado milaad untuk Ibu (10 Maret), Adek Eza (20 April), dan Ayah (17 Mei). Ya Rabb, mudahkan lah..

 

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya…” (Luqman, 31: 14)

 

3 hal yang menyenangkan tapi gak gratis: food, fashion, fun,

Tapi ada 1 hal yang mahal, yaitu FIGHT!

Entah kapan kita bisa egois.

Yang bisa qt kerjakan adalah berjuang  personal dan kolektif secara tawazun (dQ, 2012)

Di penghujung hari,

Salima, 5 Maret 2012, 23:53