Edu & Book Fest

Aku sempat kaget ketika senin malam mbak Lilis menghubungiku untuk menjaga stand Omah Bayi di GOR UNY 8 – 14 Mei ini. Heeh? Emang ada pameran apa? Perasaan gak ada Book Fair atau Muslim Fair deh. Ternyata eh ternyata, ada Education and Book Festival. Kemarin – kemarin sempat sih liat bannernya pas lewat depan GOR UNY. Tapi koq gak ada publikasi di mana gitu. Sepanjang jalan kek, atau minimal di perempatan lah.

Selasa pagi, 08.15

Aku sampai di GOR UNY. Masih sepi. Hanya ada sedikit tanda – tanda akan ada keramaian. Lho? Ni yang ngurus Syakaa Organizer ya? Koq gak serame pas Book Fair ya?

Yasudah, aku pun mencari mbak Lilis. Setelah menemukan stand yang dituju, kami mulai menata barang yang tidak seberapa.

“Waduh, gede banget mbak standnya”, ujarku takjub.

“Iya, gak imbang dengan barangnya.”

“Satu, dua, tiga. Cuma 3 x 3 meter koq mbak. Standar”

“Iya, kemaren aku minta stand meja aja. Ternyata ada yang meng-cancel. Jadinya kita ditempatin di sini deh. Tapi siap – siap aja bagi dua”, jawab mbak Lilis dengan senyum penuh arti.

“Oooh, I see..”, sahutku singkat.

Beberapa kali aku terlibat jaga stand selalu di Mandala Bhakti Wanitatama, dalam rangka Jogja Muslim Fair oleh Giant Organizer. Baru kali ini berurusan dengan Syakaa Organizer dan bertempat di GOR UNY.

Jadinya, beginilah display stand kami:

Beberapa menit kemudian, ternyata ada Entrasol yang menjadi teman berbagi stand kami. Karena posisi rak jadi gak strategis, akhirnya raknya kupindah ke depan. Jadi displaynya gini:

Abis dzuhur, aku ada arisan, sementara Vhe belum datang. Hapenya gak bisa dihubungi. Ah, mungkin sinyalnya susah di ruangan gini. Akhirnya stand kutitip saja pada mbaknya. Tak lama kemudian, Vhe sampai di TKP dan menjaga stand sampai maghrib. Abis maghrib, aku ke GOR UNY lagi. Ternyata mbak – mbak cantiknya udah pada pulang. Hanya Vhe seorang yang krik – krik di sana.

Tak lama setelah aku sampai, Vhe pun capcus jemput Desy. Di ujung sana ada Harits, dan ia pun mampir. Setelah isya’, mbak Lilis datang. Tak lama, Dian pun sampai untuk mengembalikan cam-dig Eza. Keramaian pun lengkap sudah dengan kedatangan Desy dan Vhe. Sesi talkshow malam itu adalah Bedah Buku “Belajar Merawat Indonesia”. Sayangnya GOR UNY sepi dan krik – krik sekali. Publikasinya nih kurang masif ^^v

Salima, 9 Mei 2012, 14:55

22 Fighters

Ah, ini bukan ngomongin umurku yang baru 22 tahun. Ini tentang sebuah keluarga baru. *geli gue ngomongnya

Sebulan ini, sebuah lembaga baru yang sudah lama mati suri, mulai bangkit lagi. *koq jadi serem yak? Haha, sebut saja bimo.Β  Biro Media Opini FORSALAMM yang sudah ada sejak 4-5 tahun silam, mulai menata dirinya. Aku cukup kaget ketika harus terlibat disini di semester akhir kuliahku ini (amiiin).

Sebagai new comer (pendatang baru), tentunya tak banyak yang bisa kulakukan. Dulu pernah sih di tahun pertama terlibat di media, sebagai staf Lembaga Kekaryaan Jurnalistik BEM KM Farmasi dan staf bidang media opini KMMF. Lalu, selama 3 tahun terakhir aku tenggelam di dunia kaderisasi, walaupun hobi fotografiku tetap berjalan. Kadang – kadang nulis di note fb. Dan baru 3-4 bulan ini jadi blogger gara – gara suntuk skripsi. #ups!

Bimo 2012 berawal dari beberapa orang, kemudian terbentuk tim 6. Setelah itu mulai mengajak orang terdekat untuk ambil bagian. Ada temen se-kosan, temen satu fakultas, atau mungkin teman se-lingkaran. Siapa aja yang penting ngaji. Syarat mutlak yang gak bisa lagi ditawar karena bimo adalah corong-nya FORSALAMM.

Sebagai lembaga media yang punya cerita pasang – surut, memulai dari 0 tahun ini tentunya tidak akan mudah. Oleh karena itu, butuh ke-solid-an di dalamnya.

Ada 3 hal yang harus dimanage:

1. Produk: diampu divisi litbang – redaksi – perusahaan (design layout) –> syiar

2. Dana: diampu divisi perusahaan (marketing) kerjasama dengan sekbend (proposal) –> jaringan

3. SDM: diampu divisi HRD –> kaderisasi

 

Tercatat ada 22 orang yang akan mengurus ketiganya. Dengan SDM yang terbatas di tiap divisi, tentunya tak boleh ada kotak – kotak.

“Gue kan, anak redaksi, ngapain nyari sponsor? Itu kan kerjaan perusahaan”

atau

“Ih, gak mau ah ngurusin SD, biar HRD aja yang pusing”

atau

“Aku jadi gak sempet nulis, Mbak. Ribet nyebar proposal.”

Bimo satu tubuh, walau terbagi divisi πŸ™‚

Kemarin Selasa (8/5), diadakan temu bimo-ers 2012 di segi 8 sayap selatan maskam. Alhamdulillah, yang datang ada sekitar 10 orang, sementara yang lain ada praktikum, kuliah, ataupun kegiatan lain. Semoga lain kali bisa berkumpul dengan personil yang lengkap.

Salima, 9 Mei 2012, 14:21

Irshad Manji, Emang Gue Pikirin!

Seolah isue gender menjadi fokus utama media akhir – akhir ini. Diawali dengan pro kontra RUU KKG, dilanjutkan dengan kedatangan Irshad Manji ke Indonesia. Umat muslim jadi heboh deh. Ah, penting ya? Biarin aja lah. Itu yang terlintas dibenakku ketika tau. Tapi, aku kemudian membaca beberapa artikel tentang Manji, dari tulisannya Adian Husaini, berita – berita dari situs – situs online tentang bedah bukunya di Jakarta dan Solo.

Dan, yang membuatku geleng – geleng adalah ketika dia dijadwalkan untuk mengisi di bincang pagi Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) UGM. Plis deh, kayak gak ada orang laen yang lebih layak untuk mengisi acara tersebut. Okelah, memang, UGM adalah World Class Research University (WCRU), tapi bukan berarti semua pemikiran di terima dong.

Bisa jadi gerakan penolakan disebabkan karena kekhawatiran kita bahwa pemikiran Irshad Manji akan mengacaukan pemikiran saudara kita yang belum paham dengan Islam. Ah, apakah dasar keislaman kita sudah baik? Yah, paling tidak kita bukanlah orang yang sepakat dengan pemikiran feminis.

Yang perlu dikuatkan bukan boikotnya, tapi kepahaman kita sendiri tentang Islam. Kalo isue gender gak marak akhir – akhir ini, mungkin aku gak akan banyak baca tentang itu. Mungkin gak banyak yang mencari tau tentang kisah Nabi Luth as. Sebenarnya, kalo semua muslim udah pada paham dengan gimana Islam memandang tentang hubungan sesama manusia, baik itu pada lawan jenis ataupun sesama jenis, tentu kita tak akan resah ketika ada seseorang yang mempunyai pandangan berbeda tentang Islam, entah ia mengaku muslim/muslimah atau bukan.

Tapi, kenyataannya kan belum. Muslim sendiri belum paham dengan Islam. Kenapa? Tentu saja karena gencarnya serangan pemikiran (Ghowzul Fikr) di semua bidang, di semua tingkat usia dan pendidikan. Sasaran utamanya anak muda, diserang denganΒ Food, Fun and Fashion. Fiyuh~ Yaudah, sekarang fokus aja deh untuk memperdalam keislaman kita. Tapi bukan berarti menutup diri dengan pemikiran yang lain lho ya. Open mind, tapi tetep selektif!

Salima, 9 Mei 2012, 13:12

Alhamdulillah, Bincang Paginya dicancel πŸ™‚