Berlayar

Scene 1: Tengah hari 

Sejauh mata memandang, hanya birunya laut bersanding dengan birunya langit. Ada gunung, pulau atau sesekali kapal lain yang berlayar. Tak ada sorot lampu mercusuar karena jarak dan arah dapat dilihat dengan jelas di waktu siang. Mushola ramai karena para penumpang berlomba menunaikan sholat dzuhur dijamak dengan ashar, bahkan ada yang sedari dhuha standby melantunkan ayat-ayat al-qur’an. Angin laut sepoi-sepoi membelai lembut setiap wajah, hingga terik siang itu hanya dianggap lalu. Keceriaan terlihat di wajah-wajah berbinar yang menikmati perjalanan dengan tegur sapa sekedar bertanya tujuan.

Scene 2: Tengah malam 

Sejauh mata memandang, hanya ada laut yang kelabu dan langit yang hitam pekat. Tak ada bintang, hanya ada cahaya lampu dari kejauhan. Sorot lampu mercusuar menjadi satu-satunya penanda perjalanan. Tengoklah mushola yang sepi dari para penumpang, padahal mungkin sholat maghrib dijamak isya’ belum tertunaikan, jauh tahajud didirikan. Malam sepi lantunan tilawah al-qur’an, hanya sayup-sayup terdengar suara sumbang dari radio. Angin malam di laut begitu kuat menghentak, hingga kapal berayun ke kanan dan kiri. Para penumpang lebih memilih tidur atau duduk melamun menghisap sebatang-dua batang rokok, melepas penat, menambah polusi. Tak ada senda gurau, hanya tampak wajah-wajah lelah dengan beban pikiran masing-masing.

Shafar, salah satu waktu yang diijabah doanya. Begitu pasrah berserah para musafir terhadap harta-benda yang ditinggal di kendaraan. Ujian tawakal dalam bentuk lain.

Selat Sunda, 4 September 2012, 01:57