Antara Film dan Novel

Industri film makin berkembang dari hari ke hari. Banyak film yang diangkat dari novel, dan sebaliknya, novel yang berdasarkan script film.
Film Indonesia
Beberapa film yang diangkat dari novel: Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Perahu Kertas, Summer Breeze, Eiffel I’m in Love, Perempuan Berkalung Sorban, Hafalan Sholat Delisa, Negeri 5 Menara. Sebentar lagi akan tayang 5 cm dan Bidadari-Bidadari Surga.
Novel dari film: Mengejar Matahari, Catatan Akhir Sekolah, apalagi deh, pas jaman aku SMA kayaknya banyak… Yang baru itu Mamacake. belum nonton si, katanya bagus..
Film Luar Negeri juga banyak..
Sebagian besar K-Drama (Drama Korea) atau Dorama (Jepang) katanya dari komik. Yang jelas semacam animasi gitu banyaknya emang dari komik.
Trilogi The Lord of The Ring, Harry Potter, Twilight, Flipped, I’m Number Four, dan banyak lagi sudah sukses menghiasi layar box office.
Dan, selama itu, banyak juga film yang asal tayang.. Apalagi liat tipi.. Sinetronnya.. yaaa.. gitu deh..
Aku lebih suka film atau novel dengan genre sejarah. Eh, animasi dan drama juga ding..
Beberapa hari lalu aku mendapat film Fetih 1453 dari teman. Secara efek kamera lumayan bagus. Sedikit mengingatkan dengan Lord of The Rings, tapi jelas Fetih gak pake efek animasi hi-tech kayak gitu lah.
Membaca novel Afifah Afra: Trilogi Bulan Mati di Javanche Orange-Syahid Samurai-Peluru di Matamu, Serial Marabunta 1-5, Katastrofa Cinta serta Tetralogi De Winst, berharap cerita-cerita tersebut diangkat jadi film.
Yah, sebanyak apapun buku ataupun film berkualitas, kalo gak bisa ngambil hikmahnya ya gak bakal dapat apa-apa..
Image

Standing Party

Apa yang kurang jika  banyak pilihan hidangan? Sebut saja  nasi lengkap, bakso, siomay, chicken garden blue, mie kopyok, zupa soup, es buah, ice cream, jus, buah coklat, jenang… Hmm.. Sejauh mata memandang, mana kursinya? Oooow~

Akhir-akhir ini standing party seperti jadi tren di pesta walimahan a.k.a resepsi. Begitu sulitnya mencapai pojok kursi menembus barisan para tamu yang menikmati berbagai hidangan -dengan berdiri. Butuh kerja keras dan kesabaran ekstra membawa makanan tersebut. Allahu robbiiii… Campur baurnya itu loh..

Aku merindukan makan sederhana ala rakyat jelata. Duduk bersila dengan hidangan sekedarnya, yang penting mampu mengganjal perut yang lapar, merasakan syukur atas nikmat yang ada dengan cara yang sesuai adabnya.

Jika ada hajatan lagi, kuharap pesta tersebut menyediakan jumlah kursi sebanyak jumlah tamu undangan yang hadir. Atau sekalian saja duduk lesehan… ^^v

Catatan di JHK, 15 November 2012, klimaks dari beberapa pengamatan sebelumnya.

ditulis ulang di Salima, 16 November 2012, 21:39