Sesulit Itu kah?

Di penghujung tahun 2012, keluhan tentang sebuah pertemuan rutin yang disebut liqo’ semakin banyak saja. Ada 2 faktor: dari murobbi-nya yang terlalu sibuk atau dari mutarobbi-nya yang begitu sulit diajak. Tapi, sumber utamanya adalah prioritas terhadap liqo’.

Dulu, ketika aku masih SMA, aku tinggal dengan nenek, kakek dan oom (adik ibu). aku tak punya kendaraan. Kemana-mana naik angkot. Kalau mujur, diantar oom atau nebeng motor temen. Tiap pekan, untuk menuju tempat ngaji, aku harus dua kali ganti angkot. Kadang juga jalan kaki. Alhamdulillah, semester akhir SMA aku dipercaya untuk membawa motor.

Setibanya di Jogja, aku termasuk mahasiswa baru yang beruntung memiliki motor. Sebagian besar teman liqo’ku adalah para pejalan kaki atau pengendara sepeda. Namun, semangat mereka untuk hadir tepat waktu di forum rutin pekanan patut diacungi jempol.

Bertahun-tahun berlalu. Teman-temanku sekarang hampir semuanya telah memiliki motor. Yah, motor semacam telah menjadi kebutuhan dasar bagi para aktivis mahasiswa masa kini. Dulu, label kami hanya sebagai mutarobbi, namun seiring berjalannya waktu, kami memiliki beberapa orang binaan, bahkan ada yang meng-handle 2-3 kelompok.

Lalu, banyak cerita tentang binaan kami. Ada yang begitu semangat hadir liqo’, ada yang begitu merindukan forum tersebut, ada yang sangat mengutamakan liqo’, tak pernah bolos satu kali pun. Tapi, tak sedikit juga yang menganggap bahwa liqo’ tak lain dari sekedar tempat curhat. Ada yang menganggap bahwa kalo nggak ada materi ya nggak liqo’, ada lagi yang nggak mau datang kalo si X nggak datang, dll.

Niat.

Itu yang pertama.

Untuk apa sih liqo’?

Aku memahami liqo’ sebagai tempat berkumpul orang-orang sholeh. Wadah untuk transfer berbagai hal. Ilmu, teladan, karakter, berbagi berita baik, membantu teman yang kesulitan, berlomba dalam kebaikan, saling mengingatkan, tidak sungkan meminta tolong, menawarkan untuk antar-jemput, saling memberi hadiah, bantu-bantu pindahan, bagi-bagi kerjaan… #eh

Banyak hal yang didapat dari liqo’. Tapi rumusnya adalah, jangan menuntut sebelum memberi sesuatu.

Dalam sebuah forum, aku mendapat kesimpulan bahwa dari berbagai agenda dalam tiap pertemuan, intinya hanya 3: tilawah, materi dan mutaba’ah.

  1. Tilawah. Liqo’ diawali dengan membaca, menghafal, mengkaji dan memahami Al-Qur’an serta hadits. Maka, agenda liqo’ ada tilawah, hafalan qur’an dan hadits, membaca tafsir al-qur’an dan membaca hadits arba’in atau riyadush shalihin
  2. Materi. Berbagai dasar keislaman dikenalkan melalui berbagai metode. Aqidah, ibadah, akhlaq, dakwah, shiroh, dll disampaikan oleh MR, silaturahim ustadz/ustadzah, microteaching, kultum, nonton film, bedah buku, dll. Selain itu, berita aktual disampaikan secara singkat dan dibahas secara mendalam untuk memahami kondisi masa kini.
  3. Mutaba’ah (evaluasi). Dalam sepekan, banyak hal yang terjadi, baik dalam hal kepahaman, kondisi personal, kondisi amanah, dll. Maka, perlu ada sarana untuk mengevaluasinya supaya dapat menjadi pelajaran dan dapat diselesaikan bersama.

Begitu indah liqo’ jika semua hal tersebut berjalan. Tapi, semua itu tak akan pernah tercapai jika nyari waktu liqo’ aja susah.

Salima, 31 Desember 2012, 21:45

sisters

Syukuran November

Kisah ini hadir karena sebuah momen yang disebut wisuda dan sebuah komunitas yang disebut dengan Pejuang07.  Setelah wisuda 20 November 2012 sukses digelar, ada sekitar 17 member Pejuang07 yang dianggap sudah melewati fase sarjana. Maka belasan orang tersebut ingin berbagi untuk menyemangati melalui sebuah event yang disebut dengan Syukuran. Setelah hari, tanggal dan tempat disepakati, undangan pun disebar melalui berbagai media. Berhubung acara ini terbatas, maka tidak ada iklan di koran, majalah ataupun televisi. Fufufu..

Muntilan, 24 Desember 2012,

Satu hal yang penting nggak penting yang terjadi pada acara ini yaitu sesi kertas tausiyah. Ah, pasti kalian sudah tau apa itu.

  1. Setiap orang mendapat selembar HVS kosong
  2. Masing-masing menulis nama dan fakultasnya
  3. Lalu berikan pada orang di sebelah kanan
  4. Orang yang mendapat kertas dari teman sebelahnya, harus menulis pesan untuk orang yang namanya tercantum di kertas tersebut,
  5. Setelah selesai menulis, kertas dioper ke sebelah kanannya, sampai kertas tersebut kembali ke pemiliknya.

Nah, aku melewatkan sesi kertas muter akhwat-akhwat/ikhwan-ikhwan sebelum dzuhur. Aku tiba di lokasi tepat ketika azan dzuhur berkumandang. Setelah sholat dan makan siang,  sesi kertas muter dituker. Maka, jadilah kertasku diisi Ikhwan only. Hanya beberapa akhwat yang beruntung mengisi kertasku.

Selembar kertas akan mudah terselip di antara kertas yang lain. Beberapa kali acara seperti ini dan aku tak tau kertasnya dimana. Kali ini ingin kubagi disini supaya kapan saja bisa dibaca lagi. *kecuali kalo wordpress ganti setting

  1. Selamat datang di paska kampus
  2. Barakallah nea 🙂
  3. Berkarya untuk Indonesia
  4. Selamat menempuh mihwar kehidupan selanjutnya ^^
  5. Semangat melanjutkan perjuangan.. karena tiap sisi bumi yang kita diami punya hak atas kontribusi kebaikan kita. (MIF)
  6. Semoga menjadi problem solver
  7. Belum kenal sih. Salam ukhuwah semoga tetap istiqomah \^_^/
  8. Semangat surga.. semoga sukses dunia akhirat, maaf belum kenal
  9. Menjadi orang penting itu baik, tapi lebih penting menjadi orang baik. Keep istiqomah.
  10. Semangat sampe jannah 😀
  11. Keep spirit, keep istiqomah.. Moga mendapat Jannah-Nya.
  12. Bakla itu Baturaja Klaten? Keep our friendship, keep istiqomah.. (ctr)
  13. Salam tahu dari ujung kandang.. Kapan syukurannya F*s**l? (pin)
  14. Be A great pharmacist!
  15. Eh, yonea.. semoga cepet lulus profesi, sukses komprenya ya.. (thc)
  16. Obati hati ayah ibu nggih =)
  17. Tetap istiqomah mengobati umat =)
  18. Selamat menyebarkan obat hati bagi umat yang sedang sakit.. ^_^
  19. Balek palembang dan mengabdi buat daerah mbak. Men pacak bikin pabrik obat di sano!! Sukses dan tetap semangat!!! ^_^
  20. Ponakan yang baik, ayo semangad!!! Buat apotek (dd)
  21. Bikin obat yang bener!!
  22. Bisnis obat, kapitalisme obat –> perlu dibebaskan! Mari dakwah di ranah kita masing-masing, Membebaskan farmasi dari kapitalisme 🙂 (san)
  23. Jangan lupa, bikin apotek yang jual merchandise #cendo!! (dew)
  24. Nea… semangat selalu untuk usahanya ya ^-^ (rits)
  25. Keep craft, Ne!! Kreatif itu g’ bisa dipaksa, tapi keadaan yang memaksa kadang juga bikin kreatif! Haha! (riw)
  26. Ayo nea, blognya hidupin lagi. Semoga ukhuwwah kita kekal dan barakah tidak meredup seiring jantung berdegup, istiqomah hingga melangkah ke jannah 🙂 (iq)
  27. Pasir menggunung di bukit, burung terbang di langit, bergerak untuk masa depan, harapan itu masih ada. media untuk Indonesia sejahtera. (had)
  28. Merendahlah. Engkau kan seperti bintang gemintang. Berkilau di tengah malam. Dan sinarnya turun ke bumi. Jangan seperti asap yang meninggi, padahal dirinya hina lagi pekat.  (Ust. Rahmat Abdullah) @abang_budiman
  29. Seperti Matahari, awan dan mendung tak dapat menghalangi sinarnya, di mana pun, kapan pun, terus benderang ^_^ (bhir)
  30. Segera nikah –> eskrim banget dah
  31. Keep susunan (ada gambar kotak, hati, bulet) –>nggak ngerti nih maksudnya apaan? -.-a

Dari puluhan tulisan tersebut, hanya 3 orang yang mencantumkan identitasnya. Emang sih, lebih baik nggak tau siapa yang bilang. Tapi aku bisa mengenali tulisan beberapa orang, karena pernah liat tulisannya, hafal dengan gaya bahasanya atau sekedar menebak kalo tulisannya begini mesti si ini nih. Oke, terlepas dari siapa yang bilang atau berapa jumlah pesan, secara umum aku dikenal dalam 5 bidang : dakwah, farmasi, craft, media, dan juga bisnis.

Momen wisuda hanya sebuah batu loncatan untuk belajar lebih banyak. Mungkin tulisan-tulisan itu sekarang tidak berarti apa-apa. Tapi, entah berapa tahun lagi, insyaallah akan menjadi penyemangat di hari-hari sunyi, ketika kita hanya sendiri di ranah dakwah yang kita pilih.

Have a nice trip!

Salima, 27 Desember 2012, 13:55

Kompree~

Ini bukan tentang studi perbandingan (compare).  Kompre disini maksudnya comprehenship. Metode belajar student center learning (SCL) selama 2 minggu terakhir ini. Selama 8 hari, Senin-Kamis pukul 08.00-15.00,  membahas 4 kasus. Ada 4 sesi untuk tiap kasus. Hari pertama, pukul 08.00-11.00 diskusi kelompok. Kelas dibagi menjadi 10 kelompok (A1, A2, B1, B,2, C1, C2, D1, D2,E1 dan E2). Hasil diskusi ditulis di lembar L1. Setelah istirahat, ada diskusi mandiri, 2 kelompok bergabung untuk membuat resume (A1+A2=A, dst). Hari kedua, pukul 08.00-12.00 kelima kelompok mempresentasikan hasil diskusinya. Setelah istirahat perwakilan kelompok menyusun kesimpulan hasil diskusi kelas. Semua proses tidak terlepas dari penilaian.

Tata tertib yang seabrek, bertujuan untuk membentuk kedisiplinan para mahasiswa profesi. Yang nggak boleh telat lah, nggak boleh chatting lah, nggak boleh fb-an lah (twitter boleh berarti, haha. #eh), dll.  Ada kasus kelas lain, dianggap telat 10 menit, karena jam dosennya kecepetan 10 menit, dia nggak boleh masuk. Efeknya ngulang tahun depan. Tapi ya tergantung dosennya sih.

Awal-awal nggak ada tuh yang megang hape, buka fb, chat atau searching lagu, tapi makin kesini makin santai. Apalagi pas diskusi mandiri. Lebih banyak yang maen hape daripada ngerjain kasus. Secara, orang-orang dominan D (coleris) dan C (melankolis) terlalu semangat beraksi, hingga orang-orang S (plegmatis) dan I (sanguinis) hanya mengambil peran seadanya. Yah, disinilah saatnya belajar untuk bekerja sama dalam tim. Banyak hal yang kami dapatkan dari diskusi kompre kali ini, yang nggak didapatkan pada kuliah klasikal seperti biasanya.

Sebenarnya banyak yang ingin kuceritakan disini, tapi lebih baik kalian lihat fotonya saja ya. Lagi-lagi lewat lensa AsyaRo (Nokia C-3). *masi nunggu kado pocket camera n DLSR

Ruang IX Fak Farmasi, 14:21

Yon's7608 Yon's7609 Yon's7616 Yon's7632 Yon's7633 Yon's7634 Yon's7653

Tour d Faculty; Clucter Fakes

Fakultas Farmasi, 13.00

Aku baru saja selesai sholat dzuhur, ketika mendengar ribut-ribut.

“Eh, itu udah mau mulai.. Yuk, kesana.. ”

Lapangan badminton Farmasi mulai dipenuhi massa aksi. Agenda ini diadakan oleh KPRM (Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa). Calon kali ini ada empat orang. Di kelasku sedang ada diskusi mandiri untuk menentukan kesimpulan diskusi kelas. Masing-masing kelompok diwakili oleh 2 orang. Karena kelompok kami sudah ada perwakilan, maka aku dan Rika segera menuju lapangan badminton.

13.15

Sayang sekali calon nomer 1, Neil Hukum 2009 tidak bisa hadir. Maka kesempatan pertama diberikan pada capresma dengan nomer urut 2, Faishal (Ical) Fisipol 2009. Bapaknya Minang, ibunya Jawa. Dia mencalonkan diri dari jalur independen. Visinya adalah Gadjah Mada Berbakti dan Berprestasi. Jargonnya Change for Home.

Lanjut nomer urut 3, Vandi Yoga Swara. Mahasiswa Fisipol 2009 ini lahir di Jogja, tapi besar di Padang. Dia mencalonkan diri dari jalur independen. Vandi lebih banyak menyampaikan tentang ideologi Gadjah Mada. Menurut Vandi, prestasi tidak hanya di bidang akademis, tapi juga di berbagai bidang. Ada banyak program yang akan diwujudkan oleh Vandi. Diantaranya ada Gerakan Wirausaha Bulaksumur, Pekan Klaster, dll.

Farmasi makin panas. Giliran selanjutnya yaitu Yanuar Teknik 2009. Setelah menyapa ketua BEM KMFA dan calon penggantinya, Yanu memulai orasinya. Visi Yanu yaitu Harmonis dalam bergerak, tegas dalam sikap untuk Indonesia Berdaulat. Harmonis itu nggak harus ganti warna. Dari bidang manapun, dari partai manapun, beragama atau tidak, harus berharmoni. Filosofi pelangi; tidak meniadakan, berbeda-beda tapi saling berharmoni. Menurut Yanu, bagi Partai Bunderan, PEMIRA bukan urusan menang-kalah, tapi urusan kepercayaan.

Kampanye terbuka di Farmasi ditutup pukul 13.50 karena Tour de Faculty akan berlanjut ke Fakultas Kedokteran. Para penonton pun bubar dan kembali ke aktifitasnya. Aku? Tentu saja balik ke kelas. Buat yang masih punya hak pilih, selamat memilih!

 Ruang IX Fakultas Farmasi, 14:27

Belum mulai
Belum mulai
Depan BEM KMFA mulai rame
Depan BEM KMFA mulai rame
Capresma berorasi
Capresma berorasi
Penonton terkesima #eh
Penonton terkesima #eh
Ketiga calon berpose sebelum ditutup
Ketiga calon berpose sebelum ditutup