Rihlah Arisan

Tak terasa 1,5 bulan sudah aku PKPA di RSPAD Gatot Soebroto. Sebulan lalu, salah satu temanku -sebut saja YY- mengajak kami untuk weekend ke rumahnya yang di Cisarua. Waktu itu aku sudah berencana untuk ke rumah Bicik di Cikarang, sekalian pindahan Bicik yang di Bekasi ke Serang. Ternyata, weekend itu mereka nggak jadi ke Cisarua, diundur bulan depan, it means, kemarin.

Sesungguhnya ini ngapain ke Cisarua? Arisan dong. Jadi ceritanya komunitas angkatan kami punya program arisan buku. PJ arisan yang baik hati itu -sebut saja F- setiap bulan berubah menjadi seorang debt-collector. Beberapa bulan lalu, penggoncangan arisan disaksikan oleh YY seorang. Nah, karena si R sekarang bertugas di Jakarta, maka jadinya mereka kumpul bertiga. Dan, karena aku dan Rika sedang dalam tugas belajar di Jakarta *halah, maka YY berinisiatif untuk merealisasikan wacana yang sudah dibahas bertahun-tahun lalu: kumpul komunitas regional Jabodetabek!

Alhamdulillah, akhirnya jadi juga. Sabtu sore kami menuju di rumah YY di Depok dengan berbagai cara, motor, kereta, bis, mobil, *nggak ada yang naek helikopter* Lanjut berangkat ke Cisarua dengan komposisi 10 orang. Rumah YY cukup besar. Ada 2 kamar dengan ruang tengah yang luas. Penjaga rumah -suami-istri dan 3 orang anaknya- tinggal di semacam rumah mungil terpisah.

Asri. Itu kesan yang kutangkap pertama kali. Di kejauhan tampak lampu-lampu dari rumah di ujung sana. Ah, sayangnya hapeku tidak dilengkapi dengan modus malam, sehingga tak bisa menangkap keindahannya.

2013-03-17 13.09.12

Esok paginya, setelah sholat subuh berjama’ah dan membaca Al-Ma’tsurat pagi, kami berjalan-jalan di sekitar rumah tersebut. O,ya, di bawah rumah panggung ada kolam ikan, sedangkan di balik rerimbunan semak-semak ada sepasang rusa. Tak lama kemudian 2 orang yang menyusul tiba di TKP. Lengkaplah sudah para saksi arisan bulan ini. Ada 4 nama yang beruntung mendapatkan 4 paket buku lebih dulu, salah satunya adalah tuan rumah πŸ˜€

IMG-20130318-WA0002Setelah makan siang dan sholat dzuhur, kami berpamitan pada penjaga rumah dan menuju ke tempat selanjutnya. Karena komposisi 12 orang tidak memungkinkan untuk masuk dalam 1 mobil, maka ada 4 orang yang menikmati perjalanan menggunakan angkot. Aku jadi teringat sebuah dauroh (pelatihan) dimana kami tidak boleh menggunakan kendaraan pribadi. Pilihannya cuma naik angkutan umum atau jalan kaki.

Kalian tau, kemana tempat tujuan kami? Yak, TBN alias Taman Bunga Nusantara di Cipanas. Jangan kira cewek-cewek yang excited dengan ini. Kami begitu takjub melihat antusiasme para cowok sibuk dengan camera dan hapenya. Mengabadikan hamparan bunga aneka warna hingga berpose ala boyband. Lumayan kan untuk gambar kalender 2014. *fund raising mode=ON

IMG-20130317-WA0001 IMG-20130318-WA0001 TBN buka sampai pukul 6 sore, maka pukul 5-an kami menyudahi ekspedisi kami walau belum semua sudut kami kunjungi. Perjalanan pulang begitu panjang. Yang jurusan Pulo Gadung, Balaraja, Condet dan Thamrin pisah rombongan, sedangkan kami menuju Depok mengantar YY dan F serta mengambil motor. F menginap di Depok karena kereta ke Bekasi sudah habis.

Kami bertemu pemilik motor di Margonda ujung, pertigaan sebelum UI, sekalian mengantar yang mau turun di asrama PPS*MS Lenteng Agung. Yang motoran lanjut ke Condet, yang Thamrin ikut rombongan karena kami akan lewat Kuningan. Dari Thamrin belok kanan udah ke arah RSPAD tuh. Tapi kami nggak bawa seragam dong kalo mau nginep, haha.. Tentunya kami belok kiri melewati Bundaran HI menuju ke Tomang.

Di Tol Kebon Jeruk, si PJ mobil bertanya tentang Bis ke Cilegon. Nah, lho, itu bis terakhir kalo Supir kami mau langsung pulang. Tapi kan si PJ mobil belum kursus nyetir, sedangkan Supir dari Balaraja sudah tiba di Kantornya *curang deh pisah rombongan* Yasudah, akhirnya Supir mengantar kami dulu ke Meruya.

Tadi pagi, di grup WA sudah heboh bertanya-tanya tentang Supir Fulltime kami itu. Dan baru sadar kalo dia belum masuk grup. Haha. Yasudah, dengan japri, kami mengetahui sesi akhir perjalanan beliau: naek bis ke Cilegon dari Cikokol. Ah, kukira ia nekat naik motor dari Meruya. Sudah saatnya belajar nyetir, Kawan. Supaya bisa gantian.

Perjalanan kami hanya beberapa jam memang, tapi semoga bisa menjadi penyemangat mereka yang menjadi kuli Ibukota dan kami para mahasiswa yang sedang dalam tugas belajar.

Silaturahim. Emang nggak bisa dinilai dengan finansial sih. Oke, terserah deh kalo ada yang bilang ini ‘buang duit’. Tapi menurutku, ada sisi-sisi manusia yang tak bisa diukur dengan materi. Berapa banyak orang yang menghabiskan uangnya di tempat-tempat hiburan, mall, pasar, shopping keluar negeri, dsb, tapi abis tu nggak ngefek. Hilang bersama angin.

Banyak pembelajaran yang kami dapat dalam perjalanan kali ini. Ah, memang sudah seharusnya kita bisa mengambil pelajaran. Bahkan dari sekedar urusan simple semacam compile foto. Have a nice day!

Meruya, 18 Maret 2013, 23:30

2013-03-17 17.32.36

Ini Kainku, Mana Kainmu?

Indonesia itu kaya, beda daerah beda khasnya. Bahasa, kebiasaan, tradisi, makanan,Β  bentuk rumah, pakaian adat, musik, lagu, kekayaan alam dan lain-lain punya keunikan masing-masing. Ahad kemarin (03/3), aku berkesempatan melihat salah satu kekayaan Indonesia dalam Adi Wastra Indonesia 2013; Pameran Kain Tradisional Unggulan Nusantara. Acara yang digelar di Balai Sidang Hall A dan B ini berlangsung selama lima hari sejak 27 Februari 2013.

Β kain3

Untuk menikmati pameran ini, pengunjung harus membeli tiket masuk senilai sepuluh ribu rupiah. Hal ini tidak berlaku bagi para balita dan lansia di atas 65 tahun.

kain1

Pertama masuk, kami langsung bertemu teman Mama Rika. Tepat ketika mereka berada di stand Sasirangan Kalimantan. Setelah bertegur sapa sekilas, kami berkeliling mencari pesanan Kakak, Batik Lurik Tugu Mas.

IMG-20130303-WA0007
Ada ratusan stand yang menjadi peserta pameran ini dari berbagai penjuru Indonesia. Tak hanya kain, accessories, jewelry, dan handmade dengan berbagai bentuk juga tersedia. Sebut saja bros, gelang, kalung, sepatu, dompet, tempat HP dan lain-lain yang terbuat dari mutiara, kerang, atau kain.

Setelah puas memilih pesanan Kakak, kami melanjutkan perjalanan dan berhenti di stand Batik Sukabumi. Beberapa stand batik pun kami teliti. Yah, batik tidak hanya ada di Solo-Jogja, tapi dari sebagian besar daerah di Jawa, misalnya Semarang, Pekalongan, yang membedakan batik tersebut adalah motifnya. Hmm, lebih jelasnya tanya sama orang jawa aja kali ya? Aku yang lahir dan besar di Baturaja ini lebih sering melihat Songket dan Jumputan daripada batik.

Eza yang kukabari bahwa aku sedang di pameran kain, ikutan pesan kain. Yang lucu dan murah, beda dari yang lain dan nggak ada di Solo-Jogja. Nah, lho. Aku langsung mikir bahwa dia mengincar kain tenun dari daerah Indonesia Timur.Β  Secara, satu bulan PKL di Balikpapan, Eza sudah mengoleksi kain sarung Sasirangan.

Di stand Kain tenun khas NTT yang kami kunjungi, kata mbaknya kainnya 500 ribu. Wow, duit makan gue sebulan tuh. Pindah ke stand lain, Sumba Timur. Kata masnya tu kain tenun ikat 2 juta 500 rebu bo!

Waduh, mahal beud. Mending beli hape, Mbak. Balas Eza ketika laporanku ia terima.

Masih banyak stand yang belum kami kunjungi. Karena sudah ashar, aku dan Rika memutuskan untuk pulang duluan, sementara Mama Rika bergabung dengan rombongan ibu-ibu tetangga.
Kain2
Ini cuma sampel lho ya, mewakili dari berbagai pulau. Kalo pembaca mau share kain khas daerahnya boleh lho.. πŸ˜€

Meruya, 4 Maret 2013, 22:21