I’m Home [1]

Ramadhan kali ini terasa berbeda. Ah, ya, tiap tahun emang beda si. Tahun lalu tanggal segini aku masih berjibaku dengan revisian skripsi, tahun sebelumnya lagi KKN, tahun sebelum-sebelumnya ribet di amanah. Seperti yang sudah kutulis dipostingan sebelumnya, aku yang sudah “jobless” di Jogja, punya rencana untuk mudik as soon as possible. So, here I am, di rumah Kembang Kerep, Meruya Utara.

Kemarin (18/7), usai pengarahan STRA dan sumpahan, aku bertolak menuju basecamp untuk agenda rutin pekanan. Semalaman aku sudah packing. Sabtu-ahad aku sudah ke Solo dan pamitan dengan Mbah dan Bulek dan Om Sam di Klaten. Kuharap aku sudah menyelesaikan semua tanggunganku di Jogja. Entahlah, ini rasanya seperti lari dari tanggung jawab. Tanggung jawab apa? Aku tak tau. Seperti ada sesuatu yang mengganjal. Atau mungkin aku sudah lelah dengan semua rutinitas di Kota Berhati Nyaman itu?

Tepat pukul 17.09 dengan Gaya Baru Malam Selatan dari Lempuyangan, aku bertolak menuju Barat dengan misi utama birrul walidain. Setahun sudah berlalu sejak aku melangkah dari rumah untuk melanjutkan program profesi Apoteker. Sekarang, aku pulang, membawa kabar bahwa aku sudah selesai menempuh studi di Kota Pelajar. So, what then?

Kali ini, aku tidak langsung menggunakan Rosalia Indah dari Jombor ke Baturaja, tapi mampir dulu ke Jakarta dan Cikarang. Ternyata ada agenda #KhatamanInternasional tanggal 20 yang berpusat di Jogja dan tersebar di seluruh dunia. Mungkin yang memungkinkan untuk berkumpul adalah Pejuang07 di Jateng-DIY dan Jabodetabek. Sementara yang di Sumatra, Jabar, Jatim, Kalimantan, Sulawesi, Jepang, Hongkong, Korea, Taiwan dan Thailand menyesuaikan di domisilinya masing-masing.

khataman2

Nah, kalo rencana awal, tanpa mampir Jakarta-Cikarang, mungkin aku akan tilawah sendirian di rumah Baturaja. Tapi karena posisiku sekarang di ibukota, maka aku bisa ikut yang di Balaraja. Kalo dihitung-hitung, dengan kaburnya aku sekarang ini, aku bolos buber angkatan profesi kemarin sore dan mungkin akan absen di 3 agenda gathering di Jogja. Yasudahlah. Life is choice, right?

Kuharap Ramadhan kali ini bisa lebih baik dari sebelumnya. Mungkin tahun ini menjadi tahun refleksi. Dimana aku bisa menikmati Ramadhan dengan cara berbeda; sholat wajib dijama’, sholat tarawih di kendaraan, sahur dan buka di jalan, serta mengambil hikmah dari berbagai cerita yang mengalir lancar di sela obrolan serta memaknai apa yang tertangkap oleh indera penglihatan.

Have a nice #Ramadhan!

Meruya, 19 Juli 2013, 21:40

Hari-Hari Sunyi

Aku ingat kata-kata Bu Bondhan, dosen mata kuliah Etika dan Perundang-undangan Farmasi, sekaligus Apoteker di Apotek UGM, pada kuliah perdananya. Beliau berkata, “Akan ada hari-hari sunyi setelah Sodara lulus nanti. Okelah setelah ujian masih bisa maen ke mana. Waktu Sodara disumpah apoteker, masih bisa berbahagia, menikmati kelulusan. Tapi setelah itu, akan muncul rasa galau. Mau kerja di mana? Kapan nikah? Mau tetap di Jogja atau pulang ke rumah? Dan berbagai pertanyaan lain.”

Jujur, aku masih belum percaya kalo sudah selesai ujian kompre. Berkali-kali aku bertanya pada diri sendiri, Ini beneran kompre udah kelar? So silly, right? Tapi emang rasanya seperti mimpi. Aku sudah selesai melewati masa-masa sulit di Farmasi UGM. Hampir lima tahun di S1 dan ditambah satu tahun profesi.

Lalu, setelah ini mau ke mana? Ibuku pernah bilang supaya aku jangan pulang. Dalam artian teruslah merantau. Emang mental ayah ibuku mental perantauan sih, jadi nggak pengen aku dan adekku Eza, berpikir sempit. Mereka ingin kami menimba pengalaman sebanyak-banyaknya di negeri orang. “Jangan mikir balek, Ne. Jadilah Yai bae yang nunggu rumah tuo.“

Yah, ceritanya kakekku adalah anak kesayangan, yang dititipin kakek buyut untuk menjaga rumah warisan itu. Hingga rumah kakek kemudian dijual untuk modal usaha toko baju yang akhirnya gulung tikar. Sungguh, keberhasilan ibuku bersaudara sekarang tidak lain karena kerja keras dan keikhlasan mereka.

Baturaja adalah salah satu ibukota kabupaten yang sedang berkembang. Dulu ketika SMA, toko obat sudah menjamur, tapi apotek hanya hitungan jari. Entah kenapa aku memilih Farmasi sebagai pilihan pertama dan Teknik Kimia sebagai pilihan kedua. Lalu, akhir semester 3 tibalah saatnya aku memilih minat. Antara farmasi klinik komunitas (FKK) atau farmasi sains industri (FSI). Waktu itu farmasi bahan alam (FBA) sudah dimulai di semester 1. Sesungguhnya aku ingin bekerja di industri. Tapi membayangkan 2,5 tahun ke depan akan berkutat dengan praktikum dan laporan, aku memilih FKK saja.

Nah, sekarang dengan status “pengangguran”, aku masih harus di Jogja menyelesaikan urusan administrasi semacam syarat-syarat yudisium. Selain itu ya memastikan kelanjutan kerjaku di apotek. Ah, ya, sesungguhnya Mbak Aping sedang bingung. Ada beberapa urusan yang belum selesai. Jadi ya aku tadi cuma bisa berkata dengan santai, “Yaudah mbak, kalo emang mbak masi bisa lanjut di sini ya lanjut aja. Aku kan rencananya cuma nggantiin mbak. Kalo mbak nggak jadi resign yaudah aku nyari kerjaan lain.”

Santai banget si gue bilang begitu? Haha. . Tapi emang prinsipku yang namanya rejeki ya pasti ada jalannya. If there is a will, there is a way. Kata MRku coba aja masukin lamaran di akademi farmasi, RSA atau manalah. Yah, rata-rata temenku kerjanya di  2 apotek. Pagi-sore di apotek A, sore-malem di apotek B. Keren deh.

Besok Ramadhan, sesungguhnya aku ingin menghabiskan Ramadhan di rumah saja. Tapi ya kuselesaikan dulu urusan yudisium kali ya? Ah, ya si embak juga minta aku handle apotek seminggu ini dulu, supaya beliau bisa fokus menyelesaikan urusannya. Aku hanya bisa mengangguk setuju. Mungkin besok aku sudah bisa memesan tiket pulang ke Baturaja untuk pekan depan? Tapi jadi nggak ikut i’tikaf dong? Hfft.  Yah, mungkin di sana aku bisa melibatkan diri di pesantren kilat atau buka bersama SMA, melebur di antara anak-anak Rohis SMA se-Baturaja, reuni dengan teman-teman SMA. Who knows? I miss myself when I was a senior high school student.

Sabtu-Ahad insyaallah aku dan Eza mau maen ke Klaten, sekalian pamitan aja dong kalo aku minggu depan mudik. Ehehe… Eza sekarang freelance di Solo Kota Kita (SKK). Rencananya mudik tanggal 25 Juli. Jadi kemungkinan kami nggak mudik bareng.

This is Monday, you know? Ini baru awal pekan. Masih banyak harapan yang bisa ditebar. Have a nice Monday!

Anugrah Wibowo, 8 Juli 2013, 11:25

554804_10150890594012795_53826591_n.jpg

Hari-Hari Ujian Profesi

Pernah nggak si kamu bayangin ada ujian full selama sebulan lebih? Yupz, itu yang terjadi pada kami, mahasiswa profesi apoteker. Rangkaian ujian untuk melihat sejauh apa skill kami, tidak hanya diujikan secara tertulis, namun juga praktek dan lisan. Setelah kuliah selama satu semester, ada yang namanya ujian 1 dan 2, lalu praktek kerja profesi apoteker (pkpa) di instansi selama hampir 4 bulan, kemudian ujian 3 dan 4 sebagai sarana meningkatkan nilai.

Apakah sudah selesai dengan itu? Tentu tidak. Ujian 1 hingga 4 hanya untuk mengukur kepahaman di tigabelas mata kuliah sejumlah 23 sks. Praktek pelayanan obat compounding dispensing sudah diujikan sebelum ujian 1. Dan sepekan ini ada ujian pre-kompre dan kompre. Nah itu yang kubilang tadi. Yang diukur disini adalah skill. Mau belajar kayak apa juga kalo nilai-nilai kefarmasian belum tertanam dalam diri, tentu akan kesulitan menghadapinya. Oke, kugaris-bawahi poin utamanya: mental.

Entah aku yang terlalu santai, atau memang aku tipe yang perlu pengalihan fokus supaya tidak mual-mual pas ketemu bahan ujian. Yak, aku tetap bisa kemana-mana, keliling dari toko buku ke book fair, baca novel, nonton, denger radio, nggak lupa makan, nggak kurang tidur (udah dibayar si utangnya hari ahad kemaren.. hehe), dan semoga nggak sakit. Eh, sempat sakit ding. Abis pkpa di apotek UGM kan langsung ke Jakarta ngurus laporan RSPAD, nah, abis tu tepar, akhirnya cuma bisa ikut ujian 3 terminologi medis, komunikasi konseling dan compounding dispensing. Dan yang berubah cuma comdis. Nah, jadinya nambah banyak deh yang harus diulang di ujian 4.

Tapi itu udah berlalu sih, whatever will be will be lah.  Ujian pre-kompre rumah sakit yang berupa 50 soal pilihan ganda dan pre-kompre apotek berupa 5 pos uji skill juga sudah berlalu. Besok kamis kompre apotek dan jumat kompre rumah sakit. So, what I have to say? Yeah, just prepare it well! Wish me luck, ya~

Kentungan Jaya, 3 Juli 2013, 08:48

Just finished editing some articles for a magazine

Pharmacist 2007 in Reunion

Ahad (23/6) adalah hari bahagia temanku, Noor dan Toni. Noor adalah teman sekelasku di farmasi klinik komunitas (FKK), sedangkan Toni teman kelas sebelah, farmasi sains industri (FSI). Mungkin aku memang tidak termasuk teman dekat mereka. Yah, sebatas teman sekelompok diskusi atau mungkin teman ngobrol sambil nunggu dosen datang. Tapi intinya adalah menghadiri undangan adalah wajib kan? Alhamdulillah, kemarin aku bisa memenuhi salah satu kewajiban sesama muslim tersebut.

Awalnya aku mau berangkat bareng mbak Embun. Motoran ke Boyolali. Tapi akhirnya kami ikut rombongan Travello; Febri, Adit, Nia, Deasy, Hasna, Cici, Testi, Lina, Dorami dan masnya. Perjalanan ke lokasi walimahan tidak lah semudah yang dibayangkan. Secara hari ahad adalah hari jalan-jalan sedunia. Sepanjang Jalan Jogja-Klaten macet, pas belok ke Boyolali juga masuk-masuk. Ada jalan yang nggak bagus, ada tanjakan, jalan sempit…

Wah, luar biasa memang si Noor. Jauh-jauh kuliah di UGM, sekarang kerjanya di BPOM Jakarta. Mi-sua-nya, si Toni juga tak kalah jauh. Dia dari Purwokerto dapat rejeki di Lampung. Ah, ya, kadang aku berpikir bahwa apa yang kita dapat sekarang sebanding dengan yang kita korbankan.

Seperti halnya tradisi nikahan jawa tengah, kue-kue dikeluarkan lebih dulu. Lalu sop ayam sebagai appetizer. Dilanjutkan nasi lengkap dengan lauknya sebagai main course dan eskrim sebagai dessert. Setelah itu baru lah dimulai kehebohan anak-anak. Ternyata ada piala bergilir FSI. Kami berbaris berdasarkan kelas. Karena FKK dan FBA (farmasi bahan alam) tidak terlalu banyak, fotonya digabung. Sedangkan FSI sampe berkloter-kloter. Ada juga yang fotonya bareng si couple. Wah, udah kayak pasutri aja ya? Yah, kita doakan saja mereka segera menyusul.

Sepulang dari nikahan, semua terlihat lelah. Perjalanan pulang digunakan sebagai kesempatan boci. Kami sampai di gerbang fakultas sekitar jam 4 sore. Tanpa berlama-lama, aku dan mbak Embun pamit duluan karena ada agenda lain.

Kadang aku hadir di nikahan bukan cuma karena nggak enak sama yang ngundang si, tapi karena pengen ketemu sama temen-temen. Setahun yang lalu, teman-teman sudah disumpah lebih dulu. Aku? Waktu itu sih masih ribet skripsi. Setahun, tapi rasanya sudah tertinggal jauh.

Yah, namanya rejeki kan kita nggak tau. Lulus cepet belum tentu cepet dapat kerja. Yang belum lulus aja ada yang udah kerja. Tapi yang namanya hukum rimba berlaku, kalo lu kagak cepet lulus, gimana mau cepet kerja? Nah, lho, itu berlaku buat kerjaan yang mesti pake ijazah si. Kalo bisnis mah kagak butuh ijazah, yang penting ada MoU aja.

Anugrah Wibowo, 24 June 2013, 16:40

Sambil nunggu orang mampir sekedar beli Panadol.