Start on Monday [1]

Senin (14/10)

Aku sudah melewati idul adha ke-tujuhku di tanah jawa. Itu artinya sudah cukup lama aku berada di perantauan. Idul adha selalu kuhabiskan di rumah mbah atau di agenda kampus. Walaupun tahun ini ada agenda Faridha Forsat07 JS, aku memilih ke tempat mbah di Klaten. Sepagian aku berbenah sambil menunggu jemuran kering. Abis dzuhur aku berangkat. Aku membawa perlengkapan untuk liburan 3 hari di Klaten. Eza nggak ikut karena dia sedang sibuk menyiapkan acara arsitektur se-nasional 20-26 Oktober di Semarang.

Baru berapa meter dari rumah, Adhiyyatku mogok. Setengah kesal aku menuntunnya. Pemandangan mengenaskan seorang akhwat lengkap dengan ransel dan sepatu kets menuntun motor di tengah hari. Oke, aku memang belum sempat menservisnya sejak sumpahan akhir Agustus kemarin.

Tepat di pertigaan masuk Perumahan Banteng Baru ada sebuah bengkel. Adhiyyat dibongkar. Seperti dugaanku, yang bermasalah adalah businya. Tak lama kemudian ia sudah kembali normal.

Perjalanan Jogja-Klaten tengah hari bukanlah pilihan tepat. Aku berlomba dengan ratusan bus, truk, mobil pribadi dan motor sepanjang jalan. Belum lagi lampu merah tiap berapa ratus meter serta jalanan yang tidak bersahabat. Ya, sebut saja jalan bergelombang dan rusak. Ditambah terik matahari yang membakar semakin membuatku tidak sabar tiba di rumah mbah dan merebahkan diri.

Aku tiba di rumah mbah ketika azan ashar berkumandang. Disambut oom, bulek dan sepupuku. Belum lagi aku duduk, sudah ditanya “kerja di mana?”. Oow.. aku sedang tidak ingin diusik. Apalagi dengan pertanyaan seperti ini. Setelah menjawab sekedarnya, aku ke belakang menemui mbah dan meletakkan ransel di kamar. Kembali aku dihujani dengan pertanyaan yang sama. Dalam kurang dari setengah jam pertama aku disana, sudah menjelaskan 2 kali hal yang sama. Oke, terimakasih sudah kenyang.

Selasa (15/10)

Entah kenapa, idul adha kali ini tidak bisa kulalui dengan suka cita. Tepat setelah azan ashar, aku berkemas dan pamit pada mbah. Ya, aku harus kembali ke Jogja. Demi mood stabilizer yang tidak mungkin kudapatkan jika bertahan di sini. Sesungguhnya aku ingin kabur ke Solo, tapi aku tidak ingin mengganggu adikku yang sedang sibuk.

“Sesuk isuk wae mulih neng jogjo-ne. Wis sore”, ujar mbah menahanku.

“Nggko maghrib wis tekan og mbah.” jawabku bersikeras. Cukup sudah aku di sini kalau hanya akan menambah bad mood.

Akhirnya mbah menyerah, dan aku mencari bulek dan oomku. Aku melihat oom di ujung jalan, di depan rumah tetangga yang sudah kami anggap keluarga. Serta merta aku menghampiri rumah Pakde Bambang, pamit pada Budhe, Mbak Tika dan Mbak Kiki. Budhe memberiku bungkusan ikan goreng dan tongseng sapi.

Sesampainya di rumah, bulek ternyata sudah membungkuskan nasi putih dan empal goreng. Mbah sudah menyiapkan bungkusan rambak. Oke, setelah semua beres, aku melaju bersama adhiyyat.

Bukannya balik ke kosan, aku malah ke Salima. Ya, rumah di Banteng masih sepi, secara 3 orang mudik ke Gunung Kidul, 1 ke Indramayu, 1 ke Semarang, 1 ke Kebumen dan 1nya nginep di rumah teman. Sedangkan Salimers sudah hampir lengkap. Yaiyalah, besok mereka kuliah, bahkan ada yang UTS. Walaupun statusku sekarang adalah PGT alias Penghuni Gelap Tetap, Salimers tetap antusias ketika aku datang. Dan aku tidak sungkan-sungkan menganggap Salima sebagai rumahku sendiri.

Rabu (16/10)

Seharian aku di depan lepi sambil menonton tipi. Hampir tengah hari aku membongkar koran dan menemukan beberapa lowongan untuk Apoteker. Ada 2 rumah sakit swasta di Jakarta dan 4 Apotek di Jabodetabek.

Kamis (17/10)

Sabar itu aktif. Bukan menunggu. Begitu kata Sensei ketika memberi materi tentang Sabar. Oke, sudah lewat seminggu setelah masa orientasi di RSIY PDHI Kalasan. Aku sudah mulai hopeless. Sesungguhnya aku ikut tes cpns OKU hanya untuk mencoba, memenuhi keinginan orang tuaku. Sementara cita-citaku adalah bekerja di rumah sakit untuk mengambil pelajaran, memperluas jaringan, menambah pengalaman dan mengumpulkan modal untuk membangun apotek sendiri. Ya, aku ingin punya apotek yang bersebelahan dengan rental novel dan majalah.

Bahkan lebih jauh lagi aku ingin fokus di advertising pharmacy. Itu alasanku tidak ikut double degree. Aku tidak ingin S2 di bidang manajemen farmasi atau magister farmasi klinik. Ah, ya aku tau, kalau mau fokus di rumah sakit harus mengambil S2 itu. Haha, entahlah, nanti saja kupikirkan S2ku di mana kalau sudah jelas kerja di mana.

Maka berbekal uang seadanya, aku mengirim aplikasi ke Rumah Sakit Grand Family Jakarta Utara via online dan ke Rumah Sakit Pondok Indah Group via pos. Di sini aku merasa beruntung menjadi bagian dari Salima. Aku bisa numpang nge-scan dan nge-print. Sepulang dari Kantor Pos Pusat, aku mampir ke Togamas Suroto. Ya, akhirnya aku menyerah dan membeli buku tes cpns. Demi baktiku kepada ilahi, dan orang tuaku yang telah bersusah payah selama ini.

Jumat (18/10)

Seharian bukannya belajar, aku malah menyelesaikan satu novel yang sudah lama kubeli tapi belum sempat kubaca. Tepat azan ashar, aku mengirim imel ke Sensei. Menyampaikan kondisiku sekarang. Forum melingkar tidak cocok untuk membahas ini. 

Aku beranjak menuju Maskam, menjadi pembicara tamu di sebuah forum anak SMA. Menjadi pembicara tamu selalu memberikan suntikan semangat baru. Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Ah, petani macam apa aku? Tanamanku tidak terurus dan kubiarkan tanah ditumbuhi ilalang.

Sabtu (19/10)

Pejuang bakar-bakaran. Aku sedang tidak mood membahasnya. Lain kali saja lah ya? Seperti biasa, yang datang ya itu-itu saja.

Ahad (20/10)

Setelah mengisi forum pagi, lagi-lagi aku ke Salima. Menunggu ashar dan kemudian kajian manhaj.

Bersambung…

Kuki Reunion

Ahad, 13 Okt 2013

Sebuah SMS kukirim.

Winan-chan, udah di jogja kah?

Tak lama kemudian, sms balasan kuterima.

Iya, udah di jogja dr kmrn pagi langsung nge-guide-in temen dr bogor keliling jogja smpe td pagi ^^v pdhl masi jetleg inih..  Hbs ni q makan2 ma harits&irwan di kiku donat kl kmu mau ikut 😀 boleh bgd. Sore q ngisi FLP.. senin nengok anaknya mbak dewi biologi04,  belanja ma bundo, n garap laporan praktikum. wkwkwkwk.. selasa potong2 qurban.. rabu balik deh 😉

 

Khas Winan. SMS panjang penuh keceriaan. She always keep on tour.

Oh, ya, sebelumnya aku sudah pernah cerita tentang Winan belum yak? Pertama kali bertemu dengannya sekitar tahun 2009, ketika itu kami sama-sama kaderisasi sentra kerohanian islam (SKI) fakultas. Bertahun-tahun berinteraksi di amanah yang sama hingga kami dipisahkan pada tahun 2012. Ketika itu walaupun berbeda amanah tapi kami masih sering maen bareng, bahkan membentuk genk dengan Nuhi dan Aisya.

Sekarang, Aisya dan Winan melanjutkan studi di IPB sementara aku dan Nuhi masi stay di Jogja.

Kali ini Winan ke Jogja dalam rangka mudik Idul Adha. Ya, Winan memang asli Jogja. Sedangkan Aisya menghabiskan liburan di rumah tantenya di Depok.

Maka tepat pukul 14 aku tiba di Kuki Donuts Jakal km 4,5. Para artis belum datang. Segera kupilih sofa yang kosong. So simple cafe. Hanya ada 3 meja untuk 4 orang dan 4 meja untuk 2 orang. Di luar ada sekitar 2 atau 3 meja. Fasilitasnya parkir gratis.

Sesungguhnya aku bukan penggemar donat, bukan juga kue-kue manis. Aku lebih suka keripik pedas atau asin. Tapi sambil menunggu para artis, tak urung juga aku mengambil sepotong donat gula isi stroberi dan donat coklat.

“Makan sini atau bungkus, Mbak?” tanya kasir.

“Makan sini,”

“Minumnya apa?”

“Teh hijau, dingin bisa?”

“Hmm, bisanya panas, Mbak.”

“Oh, yaudah. Nggak papa”

“Sebentar ya mbak.”

Aku baru makan seporsi Olive dengan es teh dan sedang tidak ingin minum milkshake.

Ternyata hot green tea-nya nyeduh sendiri. Aku dikasih a cup of hot water, a bag of Tong Tji Green tea jasmine dan 2 sugar sticks Gulaku. Oke, fine. Kalo gini sih mending aku bawa Tong Tji sendiri dan minta air panas aja. FYI, aku biasa minum green tea dengan merek yang sama di kosan.

Sekitar lima belas menit berlalu, aku sudah menghabiskan setengah dari kedua donat. Green tea-nya masih panas. Kulihat sekelebat Winan dan Ryry muncul.

“Wah, udah habis berapa, Ne?” sapa Ryry.

“Hmm, setengah-setengah.” jawabku nyengir.

Winan segera mengambil donat sementara Ryry duduk di depanku.

“Aku udah makan.” Katanya

“Aku juga udah. Cuma pengen nyobain aja. Haha..”

Tak lama kemudian Winan bergabung bersama kami sambil membawa sekotak donat.

“Loh, koq dibungkus?” tanya Ryry.

“Iya, buat Ma’am. Tadi kan aku bilang kalo mau kumpul di sini, yaudah, belio nitip deh.”

Lalu mengalirlah obrolan panjang kami bertiga. Walaupun aku dan Ryry sama-sama di Jogja, tapi perbedaan aktivitas membuat kami jarang bertemu. Aku menyerahkan #CAKB pesanan Winan. Untuk Afnida katanya. Sementara artis yang dua belum muncul-muncul.  Sudah jam 3, sebelum kami pamit dari Kuki aku mengeluarkan bungkusan dan sebuah novel.

kuki reunion

 

“Nih, kado milaad. Kukasih sekarang, soalnya pas hari-H aku pulang.”

“Wah, prematur sekali. Eh, ini juga?” tanyanya heran sambil menunjuk novel.

“Iya, dibawa dulu aja, ntar tak ambil di Bogor entah kapan.” jawabku

“Haha, okeoke..”

“Dwina juga kukasih novel.”

“Ntar diambil di Jepang gitu?”

“Haha, semoga si bisa gitu.”

Ryry juga mengeluarkan amplop putih. Surat cinta kali yaaa..

“Wah, jazakillah..”

kuki reunion2

Kami segera beranjak dari Kuki. Ketika sudah di parkiran, sebuah SMS masuk ke HP Winan.

“Harits baru nyampe jogja ternyata” Kata Winan.

What?” aku dan Ryry serentak tak percaya.

“Yasudahlah, belum rejeki ketemu mereka.

Azan ashar sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Kami berpisah menuju aktivitas masing-masing. Entah kapan bertemu lagi, semoga dalam keadaan yang lebih baik.

Salima, 16 Okt 2013, 09:29

Meruya-Lempuyangan [3]

Part six: Midnight at Senen

Jarum jam di tangan kiriku sudah menunjukkan pukul setengah sebelas.

“Sudah ditutup kak pagarnya. Berentinya di sini aja ya.” terdengar suara enggan dari supir taksi. Antara dia sudah lelah dengan dia sudah cukup puas mengerjai kami. Tiba-tiba saja aku tersadar, bahwa mungkin saja dia berbohong tentang Monas yang ditutup.

Bayangkan. Hampir tengah malam, tiga orang akhwat berjalan kaki di depan stasiun. Bowo menunggu kami di dalam. Setelah bertemu Bowo, kami memikirkan cara pulang ke Jogja. Kami menuju lobi. Penuh. Bowo duduk di lobi, sedangkan aku, Imah dan Yani menuju mushola kecil di dekat lobi.

Sungguh, aku lelah lahir batin. Beberapa hari ini aku kurang tidur. Ternyata rencana Jogja-Jakarta-Demak berakhir tragis begini. Kalo aku sendirian yang mengalami ini aku tidak ambil pusing. Aku bisa balik lagi ke rumah Rika atau mencari tiket CL ke Bogor ke kosan Wina dan Aisya atau menelpon Kak Ayumi minta jemput.

Tapi ini rombongan lho. Dan ada satu orang yang tega ninggalin kami. Oke, emang si aku suruh dia berangkat. Tapi ya mbok pamit kalo emang mau berangkat. Dia ambil resiko berangkat sendirian ke Demak, tanpa mikirin kami yang terjebak tengah malam di stasiun gini. Astaga. Teman macam apa itu? Aku mulai berprasangka buruk.

Imah segera menelpon Omnya yang tinggal di Bekasi. Alhamdulillah, beliau bisa menjemput kami. Sambil menunggu, aku merebahkan diri di karpet mushola yang berdebu. Tiba-tiba sebuah sms masuk. Dari Wibi.

Assalamu’alaikum. Ada yg hpnya masi idup g? Sy mw nelpon Bowo.

Aku bangkit dan melangkah keluar mushola. Kuberikan hapeku pada Bowo di lobi.

“Wo, hape lu lowbatt kan? Nih, Wibi mau nelpon.”

Aku segera kembali ke mushola. Tak lama kemudian, oom Imah menelpon, mengabarkan bahwa beliau sudah sampai. Maka kami bergegas keluar dari stasiun Senen.

 

Part seven: Di Rumah Oom-nya Imah

Kami tiba di Bekasi sudah hampir pukul dua dini hari. Ketika memasuki rumah beliau, patung salib tergantung di hampir semua sisi. Ada juga lukisan Jesus di dekat pintu. Ya, Allah. Beginilah realita dakwah. Ada juga anggota keluarga kami yang belum menerima agama lurus-Mu.

Tantenya Imah masih terjaga ketika kami memasuki rumah itu. Beliau sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya.  Tidak seperti orang jawa yang menyambut dengan wedang panas di meja, beliau hanya menyalami kami sambil lalu, serta berkata singkat.

“Yang cewek pake kamar depan, yang cowok di belakang ya. Kamar mandinya di belakang.”

Kami semua sudah lelah. Setelah bersih-bersih sebentar kami segera istirahat.

Azan subuh tak terdengar sama sekali. Setelah sholat subuh berjamaah menghadap kiblat yang kami yakini- yang tidak menghadap salib, kami mendengar Tante mengetuk pintu. Ternyata beliau mau mengambil baju. Yaampun, ini baru jam 5 lewat berapa menit, mereka sudah siap-siap ke Gereja.

Belum tepat pukul enam, Tante berangkat duluan dengan mobil satu. Aku mencoba mencari tiket kereta pake hape. Susi. Susah sinyal. Pulsa habis lagi. Buru-buru aku minta Nuhi mengirimi pulsa. Alhamdulillah, secepat kilat pulsa kiriman Nuhi sampai. Ternyata Imah meminjam lepi omnya.

Tak lama kemudian, Oom dan anaknya pake mobil satunya. Kami berempat ditinggal. Tak lama ada Tante-nya Imah yang satu lagi. Ternyata Imah punya dua keluarga di sana. Sarapan sudah tersedia di meja makan. Bungkusan Nasi uduk. Tante satunya malah bawa bubur ayam. Sarapan dobel. Akhirnya kami memutuskan untuk makan bubur ayam lebih dulu, sedangkan nasi uduk untuk makan siang.

Sambil mengunyah kami mencoba pesan tiket online. Karena sudah lewat batas pemesanan 8 jam sebelum pemberangkatan, maka sudah tidak bisa lagi. Bowo pun keluar mencari Indomaret. Nggak bisa juga. Sudah jam 7. Tiba-tiba ada sms dari Ali.

Assalamu’alaikum, Ne. Nggak jadi ke Demak ya? Afwan lupa.

Yasudahlah. Mau diapain lagi, sekarang gimana caranya bisa balik ke Jogja. Besok aku dan Bowo kerja, Imah kuliah, Yani ke klinik.

Aku minta tolong kak Ayumi untuk membelikan tiket di Senen. Tidak ada respon. Yasudahlah, minta tolong Ali saja.

Wah, jam segini macet, Ne. Ada car free day. Udah coba telpon Call Centernya? (021) 121 pesen tiket, trus tinggal transfer deh.

Alhamdulillah, kami berhasil pesan tiket by telpon. Aku bergegas ke Indomaret. Ternyata adanya ATM BCA. Aku jalan lagi ke Alfamart. Adanya ATM BCA juga. ATM-ku Mandiri, sedangkan Bowo BRI. Batas akhir transfer pukul sepuluh. Om-nya Imah berjanji mengantar kami jam 9 ke  Senen. Maka lagi-lagi aku minta tolong Ali untuk mentransfer uangnya. Oke, urusan tiket beres. Kami segera bersiap sambil menungu oom pulang. Tepat pukul 9 kami berangkat ke Senen. Ali juga berangkat dari Gancit.

 

Part eight: Antri di Senen

Perjalanan Bekasi-Senen tak sampai satu jam. Kami tinggal menunggu Ali untuk menukar slip transfer dengan tiket di loket tiket online. Sambil menunggu, Bowo mengantri di loket pembatalan tiket. Ya, dia sudah terlanjur membeli tiket Semarang-Kediri.

Tampaknya Stasiun Senen direnovasi habis-habisan. Aku hampir tak mengenali stasiun ini. Banyak posisi yang berubah. Tepat pukul 11, Ali tiba di Senen dan segera mengantri. Oomnya Imah yang juga menunggu segera pamit pulang ke Bekasi.

“Makasih banyak ya, Om.” Ujar kami berbarengan.

“Eh, Ne, tadi gue liat Fathi lagi ngantri juga.” Ujar Bowo.

“Dimana?”

“Tadi sebelah sana.”

Aku segera mencari Fathi. Di antara ribuan orang, Fathi begitu mudah ditemukan. Dia sedang menunggu Trisno untuk menukarkan tiket Bengawan milik Jaya. Aku mengusulkan Fathi membeli Krakatau saja karena waktunya sudah mepet.

Tak lama kemudian, Ali selesai mengantri. Dia menyerahkan tiket padaku. Aku pun membagi tiket.

“Nih, Wo. Tiket lu. Ntar kayak semalem lagi, tiket lu masi di gue. Trus lu nggak jadi berangkat.” Selorohku sambil bercanda.

“Haha, nggak seru amat ketinggalan kereta dua kali.” Jawabnya sambil menerima tiket.

“O,ya. nih, Tawang Jaya lu. Buat kenang-kenangan.”

“Duitnya nanti ditransfer balik ya , Ne?” tanya Ali.

“Iya, Li. Belum nemu ATM Mandiri.”

“Sebelah sana nggak ada?”

“Nggak ada. Dulu sebelum renov si ada.”

“O,yaudah, besok aja nggak papa.”

Kami segera menuju ke arah lobi timur, tempat Yani dan Imah menunggu.

Jarum jam tanganku sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Peron sudah dibuka. Terdengar panggilan untuk penumpang Krakatau Ekspres.

Sambil menunggu Krakatau, kami bergiliran sholat. Aku menunggui tas selagi yang lain sholat. Kubuka lagi buku ‘Travelicious Semarang dan Karimunjawa’.  Mungkin belum saatnya aku backpackeran ke sana.

“Neaaa… Aku jadinya naik Krakatau.” Tiba-tiba Fathi muncul.

“Halo, Fa. Kamu gerbong berapa?”

“Aku gerbong 7, kursi 22B.”

“Waaaah.. Kita satu gerbong.”

Tak lama kemudian Bowo muncul.

“Wo, titip yak.” Ujarku dan Fathi sembari bergegas ke arah mushola.

 

Part nine: At Krakatau

Mungkin memang bukan rejeki naik Tawang Jaya tapi Krakatau. Rombongan kami yang awalnya enam orang, sekarang tinggal berlima.

“Yah, kita cuma pindah kereta yang lebih nyaman.” Ujar Fathi.

Satu hal yang kusyukuri adalah pemandangan perjalanan di siang hari. Banyak hal yang bisa dilihat pada siang hari, sedangkan pada malam hari aku hanya bisa membaca. Sayang sekali aku tidak membawa buku. Travelicious masi di Bowo. Mungkin memang harus istirahat. Kuambil Pashmina merah di Three Rey abu-abu. Siang ini AC Krakatau dingin sekali. Sorenya aku merasa mulai flu.

 

Part ten: Touch Down at Lempuyangan

Lewat pukul sepuluh kami tiba di Lempuyangan. My taakhi sudah standby menjemput. Besok kerja lagi.

Selama seminggu terakhir aku berusaha menerima bahwa tiap orang punya sikap berbeda menghadapi suatu hal. Semoga kejadian malam minggu lalu menjadi pembelajaran tentang setia kawan. Mungkin selama ini aku belum menjadi teman yang baik sehingga belum layak ditunggu di stasiun. Tapi aku bersyukur, Allah memberi banyak kemudahan melalui tangan-tangan lain dan jiwa besar sahabat seperjalananku.

Ribuan maaf buat Rani, Fathi, Yani, Imah dan Bowo. Maaf, rencana kita gagal total. Manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan, right?

Ribuan terima kasih untuk Kak Ayumi, Ali, dan Wibi. Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kalian yang bersegera mengulurkan tangan. I owe you.

Nuhi, Wina, Aisya, you’re my everything lah pokoknya. Mari kita reunian border. Fufufu.

Buat teman-teman Pejuang07, entah kapan lagi ada #RihlahWalimah, kuharap kalian lebih peka. Mengutip kata Kak Ayumi, bahwa prioritas kita menghadiri walimah adalah pada prosesi akad nikah, bukan resepsi. Jadi, usahakan cari waktu jalan-jalan yang lebih tepat ya. Jangan sampe nggak ikut akad demi jalan-jalan.

Buat Rika dan mas Hanif, serta Faiz dan pak Imron, Barakallah~  Semoga kisah kalian Happily Ever After.

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi, 18: 28)

Banteng Jaya, 12 Oktober 2013, 23:19

Meruya-Lempuyangan [2]

Tepat setelah azan maghrib, ketika aku akan mengambil wudhu ada telpon dari teman Fathi. Dia mengabarkan bahwa mereka masi di rumahnya  di Cinere. Serius. Ini benar-benar di luar logikaku. Kalo Fathi mau ke nikahan Faiz, harusnya maghrib dia sudah di Mercu. Ah, sudahlah. Kadang logika Jogja memang tidak bisa diterapkan di Jakarta. Aku berlepas diri dari kondisi Fathi. Semoga dia bisa merelakan tiket Tawang Jaya-nya hangus.

Ketika aku masuk ke tempat wudhu, kudapati Yani dan Imah baru saja selesai wudhu. Ternyata mereka baru sampai dari rumah oom Yani di Cawang. Yasudahlah, nggak realistis aja si kalo abis sholat kami langsung berangkat ke Senen. Pokoknya jam 8 sudah di jalan. Begitu pikirku.

Usai sholat, aku segera mengecek posisi panitia. Mempertegas jobdesk mereka sesuai posisi dan berkoordinasi dengan WO mengenai pemisahan tempat duduk. Waktu terus berlalu, ketika resepsi sudah hampir dimulai, MC menanyakan tentang profil mempelai. Maka kami langsung kasak-kusuk karena PJ-nya lupa membuat. Ada yang berusaha mencari info di internet melalui hape. Karena tak kunjung connect, maka aku segera berlari mencari warnet terdekat.

Sesampainya di warnet, tak satupun info yang kudapatkan. Link undangan Hanif-Rika di weddingwire  sudah tidak bisa ditemukan. Maka aku segera menyerah dan berlari pulang ke Mercu. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 19.30. Aku harus bergegas pamit pada Rika dan Keluarga.

Part four: Resepsi

Ketika aku sampai di lokasi, resepsi sudah dimulai. Di pintu masuk aku bertemu teman satu genk, Wina dan Aisya, serta beberapa adik kelas yang terheran-heran melihatku ngos-ngosan. Setelah bertegur sapa satu-dua kalimat, aku pamit menuju pintu belakang.

RH wed1

Ternyata urusan tulisan sudah beres. Oke sip. Aku segera berpamitan pada beberapa panitia akhwat dan memberi kode pada Bowo dan Wibi untuk ikut mengantri berbaris bersama Wina dan Aisya untuk memberi selamat sekalian pamit. Belum tampak tanda-tanda Rani dan rombongan Pejuang07 datang.

Bang Heri dan Mama agak kaget melihatku di barisan. “Loh, Nea mau balik sekarang? Nggak besok aja?” Aku hanya menjawab singkat bahwa aku harus ke Semarang dan berjanji lain kali akan ke Jakarta lagi. Ada rasa haru ketika bersalaman dengan Rika. Temen gue akhirnya ketemu prince charming-nya. Haha.

Ketika berpamitan dengan Kak Rika, Adzmar dan Kak Nonong pun mereka hanya bisa menggeleng-geleng. Ah, begitulah sikap kakak terhadap adiknya yang mau pergi. Tinggal pamit sama Kak Riny dan Bang Agi nih.

Ternyata Kak Riny ada di sisi selatan. Beliau sedang bersama Nila, salah satu teman SMA Rika yang menjadi panitia. Entah kenapa rasa kesalku pada Rani dan Fathi memuncak. Kesal itu berwujud buliran bening yang mengalir. Membuat heran Kak Riny dan Nila. Serta merta mereka memelukku. Sudah-sudah, aku harus segera makan dan pergi.

Spanduk Pejuang07 dan tiket kereta Rani dan Fathi kutitipkan Wina. Jika mereka datang, biar Wina yang menyerahkannya. Yani dan Imah sedang makan dan ternyata mereka sudah salaman dengan Rika. Oke, abis makan kami berangkat. Aku, Yani, Imah dan Bowo satu taksi ke Senen, Wibi naek angkot ke Kebon Jeruk, lanjut naek TransJakarta ke Lebak Bulus.

Aku baru saja duduk di tangga timur ketika melihat Rani dan teman-teman datang. Kutelan makananku dalam diam. Tak kupedulikan mereka yang datang. Sori, gue sedang kesal untuk menyambut kalian. Entah seperti apa wajahku ketika Rani berjalan ke arahku dan kemudian duduk di depanku. Segera kuminta tiket ke Wina yang duduk di belakangku, dan menyerahkannya ke Rani.

“Yaampun, Ne. Koq ngasihkannya sekarang, sih?” ujar Rani ketika menerima tiketnya. Aku tidak menjawab dan melanjutkan makanku. Maaf, Ran. Aku sudah menyerah.

Tiba-tiba, ada panggilan berfoto bersama untuk Pejuang07. Maka kami segera ke pelaminan. Usai berfoto, aku segera berkata pada Imah dan Yani , “Kalian tunggu di depan ya. Aku mau ngambil tas di belakang.”

Ternyata ketika itu juga Rani dan Sari bersiap untuk pulang. Yasudah, akhirnya rombongan total tujuh orang. Mau tidak mau kami harus menyewa 2 taksi. Salahku adalah tidak pamit pada Ali, sie transportasi. Sebelum ke Jakarta aku sudah minta tolong beliau untuk mengantar kami ke Senen. Tapi melihat situasi jalan malam minggu yang padat merayap, aku khawatir Ali tidak bisa sampai lagi di Mercu sebelum pukul sepuluh, hingga keluarga Rika harus menunggu.

Part five: On The Way

Tak lama setelah keluar dari Mercu, kami menemukan 2 taksi . Sari minta duluan, karena ia mengejar kereta ke Bekasi. Maka kupersilahkan dia naik ke taksi pertama bersama Rani dan Bowo. Sedangkan Wibi, aku, Imah dan Yani di taksi kedua. Aku mencatat keduanya adalah Blue Bird Pusaka.

Driver taksi kami tampak begitu ramah. Dia mengajak mengobrol. Tiba-tiba hapeku berbunyi. Telpon dari Rendra. Dia menanyakan posisi kami, spanduk pejuang ketinggalan. Ah, sudahlah. Lupakan saja.

Ketika di perempatan Srengseng, bapaknya mau lurus ke arah Kebon Jeruk. Padahal aku jelas-jelas bilang supaya berenti di tol Kebon Jeruk. Aku sudah merasa aneh di sini. Tapi mengabaikannya. Akhirnya dia berbelok ke kiri. Entah pada suatu persimpangan, dia kembali mengusikku yang sedang sibuk sms-an.

“Ini lurus kak?”

“Iya,” jawabku tak terlalu memperhatikan jalan. Ternyata ia menuju Rawa Buaya, jalan tembus menuju Daan Mogot.

Ampun dah, ini orang kagak tau jalan apa ya?

“Puter balik, pak.”

Bukannya berhenti, ia malah ngebut. Seketika aku lemas.

Ah, sudahlah, ntar juga nembus Daan Mogot, Grogol, Roxi, Harmoni. Wibi ntar turun di Daan Mogot aja, tinggal naik shelter TJ nggak usah nyebrang.

Ternyata jalannya ditutup. Jarum jam tanganku sudah menunjukkan pukul sembilan. Aku tidak yakin bisa sampai Senen sebelum jam sepuluh. Kulihat Wibi yang sedari tadi whats-app-an mulai membuka GPS.

Berkali-kali kami berhenti bertanya arah kepada orang-orang di pinggir jalan. Coba dianter Ali, nggak bakal nyasar deh. Pikirku putus asa.Aku segera meng-sms Rani dan Bowo tentang kondisi kami. Kata Bowo mereka sudah sampai Senen. Seketika aku menepuk dahi. Tiket Bowo masih di aku.

Entah setelah berapa lama, akhirnya kami keluar menemukan jalan utama. Wibi turun di shelter TJ Daan Mogot, sementara kami berputar arah ke Grogol. Kalau sudah di sini, aku hafal rute.

Tenyata Allah tidak membuka hati supir taksi itu untuk mengantar kami ke Senen dengan rute terdekat. Setelah melewati Roxi dan Harmony, tiba-tiba ia lurus ke arah Kota. Kutegur supir taksi itu. “Pak, bukannya belok kanan ya?”

“Iya, kak. Tapi lagi ada acara di Monas, jadi Gambir ditutup.

Aku segera menarik nafas berat. Sudahlah, tak ada harapan lagi. Aku hanya menatap nanar ke Stasiun Kota, jalan Mangga Dua, Gunung Sahari yang kami lalui. Imah tak bersuara, sedangkan Yani hanya terpejam di kursinya. Pura-pura tidur.

Maka dengan pasrah aku mengabari Kak Riny, Kak Yanti dan Nuhi.  Menceritakan kondisi kami yang terjebak macet. Waktunya sudah mepet, aku segera meng-sms Rani dan Bowo:

Ran, kalo mau ke Demak g pp.

Wo, sori y tiket lu masi d gw.

Fiks, kita ketinggalan kereta. Sms dari Bowo

Nene T.T. Sms dari Rani

Kupikir Rani tak akan tega meninggalkan kami. Maka kubalas sms Bowo.

Rani masuk g?

Iya, Ne. Rani masuk.

WHAT??? Dia pergi nggak pamit, nggak minta maaf, nggak mikir banget!

Serta merta kesalku muncul lagi. Sudah terlambat untuk menangis. Sori, Ran. Lu, gue, end.

Bersambung..

Banteng, 11 Oktober 2013, 20:43

Meruya-Lempuyangan [1]

Assalamu’alaikum~

Lama nggak muncul, pastinya kalian penasaran kan tentang weekendku kemarin? Yak, lagi-lagi aku bakal cerita tentang serunya perjalanan di Jakarta. Mungkin kali ini akan banyak melibatkan emosi. Bagi pihak-pihak yang terlibat langsung maupun tidak, mohon maklum dengan gaya tulisanku yang transparan. Secara nggak ada editor sebelum publish.

Part one: Pagi yang Cerah

Berbeda dengan kondisi rumah mempelai wanita yang begitu heboh di pagi hari. Kediaman Ibu Ecih Rukaesih tenang tanpa keributan berarti. Memang, rumah yang biasanya dihuni tidak lebih dari tujuh orang itu kini berisi belasan orang. Ada Emak (nenek), Bi ‘Ii, Bi Emah, Mang Ade, Ibu dan dua orang adik Kak Rika (Kakak Ipar Rika). Aku sudah dianggap seperti keluarga di sana. Maka tanpa sungkan-sungkan aku menambah keramaian di rumah itu.

Sebuah sms masuk dari Sena.

Ne, Rani nanya, kalian berangkat ke Senen jam berapa? Bales ke Rani langsung ya

Aku langsung membalasnya. Skalian menjarkom ke rombongan yang lain.

Rani, Fathi, Bowo, ntar qt ambil aman berangkat jm setengah 8 dari acara rika ya.

Tak lama kemudian Rani membalas

Kata Arul jm9 kurang 15 bisa koq, Ne.

Cukup panjang eyel-eyelan di sms tentang keberangkatan. Dan dari sana aku menangkap kesan ketidak seriusan keberangkatan ke Demak dari Rani. Mereka berencana ke Kota Tua sebelum ke Mercu. Kalo gitu emang nggak niat ikut akad, yang penting ikut resepsi.

Logikanya, kalo mau naik kereta Tawang Jaya jam 22:10 dari Senen, berarti kan abis maghrib atau selambat-lambatnya isya’ udah di jalan. Oke, dalam keadaan lancar, Meruya-Senen bisa ditempuh dalam waktu setengah sampai satu jam saja. Tapi ini malam minggu, Sist. Aku sudah menyampaikan logikaku, tapi tidak ada tanggapan. Oke, aku berlepas diri dari apa yang mereka rencanakan.

Part two: Persiapan

Tepat pukul sebelas aku tiba di ruang utama Masjid Manarul ‘Amal Universitas Mercu Buana. Panitia sudah berkumpul. Kami membahas teknis pelaksanaan resepsi Rika-Hanif. Aku sebagai sie dekorasi bekerja sebelum acara, jadi setelah memastikan semua panitia menempati posisinya, aku bisa segera pamit dari resepsi.

Part three: Akad yang Khidmat

Tidak banyak orang yang menjadi saksi prosesi yang menggetarkan arsy Allah, mitsaqan ghaliza. Hanya keluarga besar kedua mempelai, beberapa tetangga terdekat dan teman-teman yang berkesempatan hadir pada sore hari. Kostum yang dikenakan Rika dan mas Hanif yaitu putih. Suasana haru begitu terasa di tengah masjid kampus Mercu menjelang maghrib itu. Waktu pergantian shift antara malaikat pagi dan sore, waktu yang mustajab untuk berdoa. Semoga keberkahan mengiringi langkah suci kalian.

Bersambung..

Banteng, 9 Oktober 2013, 11:12

RH wed2