Sekelumit Kisah di Ende

RESENSI

Da Conspiracao

 Judul buku    : Da Conspiracao; Sebuah Konspirasi

Penulis         : Afifah Afra

ISBN            : 978-602-8277-66-2

Penerbit       : Afra Publishing, Indiva Media Kreasi

Ketebalan     : 632 hlm, 20 cm

Harga buku   : Rp 65.000

 

Raden Mas Rangga Puruhita, pemuda terpelajar, sarjana ekonomi lulusan Leiden, ningrat Jawa, dan visioner. Ia dibuang ke Flores karena terlibat dalam gerakan melawan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.

Tan Sun Nio, gadis yang jelita, cerdas, ambisius, dan terlahir dari keluarga keturunan Tionghoa yang konservatif. Ia membuang diri ke Flores karena dikhianati calon suaminya. Namun, ia justru berhasil membangun sebuah kerajaan niaga terbesar di Indonesia Timur, dan menjadi orang terkaya di Flores.

Adapun Flores yang mereka datangi, sama-sama medan yang penuh bara. Awal abad XX, pulau itu baru beralih kekuasaan dari Portugis ke Belanda. Kondisi belum stabil. Bajak laut dan perampok merajalela. Pemberontakan para raja kecil atau mosalaki membuat bumi kian porak poranda.

Suratan nasiblah yang kemudian membuat mereka bertemu. Awalnya saling berhadapan sebagai lawan. Namun, mereka justru didekatkan ketika sama-sama terjebak dalam sebuah konpirasi tingkat tinggi. Konspirasi yang melibatkan sekelompok bajak laut yang dikoordinasi secara rapi menyerupai Mafioso di Sisilia: Bevy da Aguia Leste.

Novel ini adalah salah satu yang saya tunggu-tunggu kapan terbitnya. Bagaimana tidak? Saya membaca De Winstyang terbit pada Januari 2008 tanpa mengira bahwa akan ada lanjutannya. Tiba-tiba muncul De Liefde; Memoar Sekar Prembajoen pada Januari 2010 dengan label “Buku Kedua dari Tetralogi De Winst”. Maka tentu saja terbitnya Da Conspiracao semacam menjawab penasaran selama dua tahun.

Seperti kedua novel sebelumnya, Da Conspiracao menjadi salah satu fiksi sejarah favorit sayaKeseluruhan cerita berisi konflik yang mampu menyita emosi. Namun, karena tebalnya novel ini dan bahasanya yang jauh lebih berat membuat saya tidak mampu menghabiskannya dalam sekali duduk seperti ketika membaca De Winst.

De Winst mengambil latar Surakarta pada tahun 1930, di awali dengan kembalinya Raden Mas Rangga Puruhita Suryanegara dari Amsterdam setelah lulus dari Fakultas Ekonomi Rijksuniversiteit Leiden . Ketika perjalanan ia bertemu dengan Everdine Kareen Spinoza, seorang advocaat.

Idealisme seorang berdarah biru yang lama tinggal di Belanda itu mulai terbentuk ketika menghadapi sepupu yang dijodohkan dengannya- Raden Rara Sekar Prembayun. Benih-benih nasionalisme dan gerakan pembebasan Indonesia mulai muncul. Ketika Rangga mengambil peran di pabrik gula De Winst dan Partai Rakyat, Pemerintah Hindia Belanda memutuskan Rangga untuk menjadi internering di Ende. Sebelumnya Rangga menikahi Everdine yang masuk Islam dan mengganti nama menjadi Syahidah, sementara Sekar dikirim ke Universiteit Leiden pada awal Oktober 2013.

De Liefde menceritakan tentang Sekar dan Kareen secara bergantian dengan latar akhir tahun 1931 hingga April 1933 di Belanda dan Hindia Belanda. Rangga tidak muncul sama sekali di De Liefde, hingga membuat pembaca menebak-nebak bagaimana nasib Rangga di pengasingan.

Da Conspiracao menceritakan tentang pengasingan Rangga di Ende. Muncul banyak tokoh baru yang menjadikan Da Conspiracao begitu hidup. Prolog Da Conspiracao menceritakan tentang masa peralihan Portugis ke Belanda pada 1907 di Watunggere. Ketika itu Kapten Christoffel diutus untuk menaklukan Flores. Pasukannya menghadapi langsung mosalaki (raja kecil) Mari Longa. Usai kemenangan Kapten Christoffel, seorang Sersan bernama Johannes Van Persie menghadapnya untuk mengundurkan diri dari barisan sambil membawa seorang bayi perempuan yang ditemukannya diantara para korban perang.

Lalu, novel diawali dengan kisah tentang Tan Sun Nio dengan latar Surakarta pada akhir tahun 1924. Tan Sun Nio bertekad membuang diri ke Ende setelah patah hati karena Daniel Liem tak datang melamarnya pada malam puncak perayaan cap go meh. Akhir Agustus 1925 ia menyusul kakaknya, Tan Seng Hun yang sudah berada di sana sejak Ende resmi berada di bawah kekuasaaan pemerintah Hindia Belanda tahun 1915. Dari penjelasan penulis, diketahui bahwa Tan Sun Nio merupakan kakak kelas Sekar Prembayun di HBS .

Akhir tahun 1925, Tan Seng Hun meninggal karena menjadi korban pemberontakan Mari Nusa, pemimping gerakan pemuda di pedalaman Flores. Mau tak mau Tan Sun Nio harus mengambil alih bisnis kakaknya itu. Dalam masa transisi tersebut, Tan Sun Nio didampingi oleh Ramos Fernandez, indo Portugis kepercayaan Tan Seng Hun di Toko Pek Liong.

April 1926, Tan Sun Nio sudah cukup mampu memegang kendali atas bisnis kakaknya yang terdiri atas toko-toko, perdagangan kopra, sewa-sewa perahu untuk para pelayan serta sebuah maskapai ilegal candu. Ia  juga harus berhadapan dengan Djanggo da Silva, pimpinan Bevy de Aguia Leste (Perkumpulan Elang Timur), sekelompok bajak laut terkuat di perairan Sumba, Flores dan Timor serta Laut Banda dan Selat Makassar.

Tahun 1932, dalam perjalanan menuju Ende, Rangga bertemu dengan Hans Van Persie, mahasiswa Leiden yang mengambil jurusan geologi dan meneliti fenomena warna air di Danau Kelimutu. Sejak dari Waigapu, Rangga dikawal oleh Herman Zondag, bintara KNIL.

Walau perjalanan ke Ende dalam situasi begitu berbeda dengan perjalanan pulang dari Amsterdam, Rangga tak meninggalkan sholat wajib. Saya menangkap pesan tentang kemudahan beribadah dalam perjalanan jika tidak memungkinkan untuk berwudhu, maka bisa dengan tayamum.

Ketika baru tiba di Ende, Rangga banyak berinteraksi dengan Hans Van Persie. Di lingkungan tempat tinggalnya, Rangga bertemu Ine Nurkasih, Maria Dewi Van Persie dan Johannes “Bob” Van Persie. Karakter Maria mengingatkan Rangga pada sosok Sekar.

Da Conspiracao menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai Rangga dan Tan Sun Nio secara bergantian, namun di tengah lebih banyak porsi tentang Rangga. Secara bertubi-tubi berbagai peristiwa yang dialami Tan Sun Nio dan Rangga melibatkan banyak tokoh baru yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam sebuah konspirasi besar. Hingga sampai novel ini berakhir, saya masih banyak bertanya-tanya, akan seperti apa akhirnya?

Jika di De Winst dan De Liefde saya banyak menemukan istilah bahasa Belanda, di Da Conspiracao ini banyak istilah Portugis dan bahasa Ende. Jika di dua novel sebelumnya istilah-istilah asing dijelaskan pada footnote di halaman yang sama, istilah-istilah di Da Conspiracao dijelaskan di halaman belakang. Sehingga pembaca harus berkali-kali membolak-balik novel. Tidak hanya istilah asing, berkali-kali pula saya harus membuka aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia di laptop karena menemukan kosakata “baru”.

Kekurangan novel ini adalah banyak penggunaan kapital yang tidak seragam, terutama pada nama tokoh. Misalnya pada halaman 123 ditulis Djanggo Da Silva, sementara pada halaman 124 ditulis Djanggo da Silva. Alur maju-mundur yang banyak diwarnai dengan deskripsi mengenai kejadian-kejadian di masa lalu, seperti ingatan Rangga tentang cerita Ramanya, atau kondisi di belahan bumi lain, menurut saya cukup membuat bias dan agak keluar dari sub tema bab. Penulis cepat mengganti bahasan sehingga paragraf panjang di halaman sebelumnya berhenti sebatas informasi tambahan untuk pembaca.

Selain banyak menjabarkan tentang pemberontakan pribumi terhadap Pemerintah Hindia Belanda, novel ini juga menyisipkan pergolakan batin Tan Sun Nio tentang berbagai agama serta toleransi antar umat beragama melalui sikap Rangga. Selain mengangkat tema agama, keberagaman budaya pun cukup mendominasi. Selain Jawa dan Belanda, kultur Portugis, Tionghoa dan Flores membuat novel ini begitu kaya informasi. Pastinya penulis melakukan riset yang panjang dan lama.

Hal yang menarik adalah ketika dialog Maria dengan Rangga tentang wudhu. Tak jarang ketertarikan orang kepada Islam terhadap hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, adegan Rangga yang tetap hafal beberapa ayat Surat Al-Baqarah walaupun ia amnesia mengingatkan saya pada tokoh Maria di Ayat-Ayat Cinta yang melantunkan hafalan Surat Maryam dan Thaha ketika ia sakit.

Membaca Da Conspiracao, seperti membaca kompilasi karya Afifah Afra sebelumnya yang berlatar sejarah, budaya dan sindikat mafia, sebut saja Trilogi Bulan Mati di Javanche Orange, Syahid Samurai dan Peluru di Matamu; Serial Marabunta; Jangan Panggil Aku Josephine dan Katastrofa Cinta. Ada beberapa hal yang mirip dalam segi penokohan, alur dan setting cerita.

Mbak Afra begitu piawai menggabungkan unsur fiksi dan fakta sejarah melalui kisah epik yang begitu rumit. Selain cukup tebal, novel ini cukup berat sehingga dibutuhkan konsentrasi penuh untuk membacanya. Jadi, tidak perlu tergesa-gesa menyelesaikannya. Saya menunggu buku keempat yang pastinya jauh lebih seru dan lebih kompleks. Tokohnya banyak banget sih! 🙂

Salima, 29 Desember 2013, 13:41

Flavour Stories [2]

Oke, lanjut lagi reviewnya… Menurut saya ketiga novel ini ceritanya mirip adegan sinetron. Tapi tentunya ada unsur rasa di setiap cerita 🙂

3. The Strawberry Surprise – Desi Puspitasari

Strawberry Surprise

Prolog novel ini mirip dengan opening scene film. Lalu dilanjutkan dengan kisah Aggi dengan alur maju-mundur. Suatu hari Aggi bertemu dengan Timur, mantan pacarnya, setelah lima tahun tidak berkomunikasi. Pertemuan mereka agak unik karena tanpa janjian seperti lazimnya seorang teman lama yang akan datang ke kota tempatmu tinggal. Ya, Timur bekerja di Bandung, sedangkan Aggi di Jogja.

Setting tempat banyak diambil di Jogja, beberapa di Bandung, dan ada satu di Beijing. Namun, sayangnya keunikan tempat wisata di sana kurang dieksplor, penulis lebih banyak menyajikan dialog antar tokoh. Beberapa kali saya mengerutkan kening karena tidak ada keterangan tempat dan waktu. Sudut pandang orang ketiga yang digunakan penulis dengan lebih banyak menceritakan tentang Aggi, menurut saya agak kurang seimbang. Mungkin akan lebih enak dibaca jika menggunakan sudut pandang orang pertama, penulis sebagai tokoh Timur. Saya tidak bisa hanyut dalam cerita karena tokoh Aggi maupun Timur kurang ekspresif.

Selain tentang strawberry, novel ini banyak membahas tentang fotografi, musik dan seni, serta kehidupan para eksekutif di akhir pekan. Timur akan tiba di Jogja pada Minggu pagi, dan kembali ke Bandung pada Minggu malam, karena ia bekerja hari Senin sampai Sabtu. Ide cerita begitu dekat dengan keseharian, karena tak sedikit orang yang bekerja di Bandung atau Jakarta namun keluarganya di Jogja.

Satu lagi keunikan novel ini adalah Desi Puspitasari memberikan filosofi pada setiap tokoh lelaki yang pernah hadir dalam kehidupan Aggi; laki-laki selai kacang, laki-laki permen karet stroberi, lelaki stroberi varian flamboyan. Sementara Timur, bukan termasuk stroberi.

4. The Vanilla Heart – Indah Hanaco

Vanilla heart

Dibandingkan novel yang lain, novel ini paling ringan. Bukan karena paling tipis, tapi karena ceritanya cukup “standar” Metropop. Tokoh Hugo Ishmael yang tertarik pada Dominique Vanilla pada pertemuan pertama. Hugo hampir saja menabrak teman Dominique karena ia baru saja diputuskan sepihak oleh tunangannya, Farah.

Setelah kejadian itu, Hugo pergi ke Bristol. Disana ia bertemu Garvin yang mengenalkannya dengan filosofi vanilla. Hugo kembali ke Indonesia dan kembali bertemu dengan Dominique yang bekerja di perusahaan keluarganya. Yah, membaca novel ini seperti menonton adegan-adengan sinetron indonesia.

Cukup banyak konflik personal Dominique dan Hugo yang disajikan dengan sudut pandang orang ketiga. Porsi masing-masing tokoh cukup seimbang. Namun, tokoh yang terlalu banyak sempat membuat bias alur cerita. Endingnya pun cenderung dipaksakan dan penyajiannya agak mirip dengan novel terjemahan.

5. The Mocha Eyes – Aida M.A.

Mocha Eyes

Novel ini saya rekomendasikan untuk para psikolog karena bisa menjadi referensi trauma healing. Aida M. A. mengangkat tentang pelecehan perempuan yang sudah tidak asing lagi di Indonesia.

Muara yang ceria mengalami sebuah trauma di masa kuliah yang cukup membekas. Ia memutuskan berhenti dari kuliahnya dan menarik diri hingga tiga tahun. Selama tiga tahun tersebut ia menjadi pribadi yang berbeda. Ayahnya meninggal karena shock ketika mengetahui musibah yang dialami Muara. Hanya ibunya yang tak kenal lelah mendampingi prosesnya untuk kembali normal.

Suatu hari, restoran cepat saji tempat Muara bekerja mengadakan training di Puncak. Di sana Muara bertemu Fariz, seorang trainer. Dengan sekali lihat, Fariz tau ada yang tidak beres dengan Muara. Sejak itu Fariz mendekati Muara untuk mengetahui masalahnya.

Penulis menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai Muara, sehingga pembaca dapat merasakan emosi Muara yang labil. Sedangkan ketika menceritakan sisi Fariz, penulis menjadi orang ketiga.

Novel ini begitu ringan menyajikan sebuah konflik yang cukup berat. Bagaimana seorang Muara yang kehilangan arah selama bertahun-tahun akhirnya memiliki motivasi, serta peran orang-orang sekitarnya dalam proses penyembuhannya.

Sayangnya belum baca The Chocolate Chance – Yoana Dianika, semoga lain kali bisa direview 🙂

Flavour Stories [1]

Bentang Love Flavour Series
Bentang Love Flavour Series

Novel Seri dari Bentang Pustaka yang satu ini unik. Tema yang diangkat adalah tentang “rasa” yang menjadi variasi makanan atau minuman. Ada 6 rasa yang menjadi bahasan novel tersebut. Proyek Love Flavour ini melibatkan 6 orang penulis wanita yang tak asing lagi di dunia kepenulisan. Dari 6 saya sudah selesai membaca 4 dan sedang membaca 1. Ini sedikit pendapat saya:

1. The Coffee Memory – Riawani Elyta

Coffee Memory

Buku ini tentang Dania, pemilik Cafe kopi Katjoe Manis. Bagian pembuka menggambarkan bagaimana kalutnya Dania ketika suaminya, Andro meninggal karena kecelakaan. Tapi karena Katjoe Manis harus tetap berjalan, ia merekrut barista bernama Barry.

Masalah tidak selesai di sana tentunya. Muncul Bookafeholic, kafe saingan milik Pram, teman masa remaja Dania. Belum lagi ada insiden kebakaran ketika Sultan, anak semata wayang Dania, sedang opname karena sakit DB.

Membaca buku ini akan menyadari bahwa banyak orang yang peduli pada kita. Ketulusan mereka akan terlihat di waktu sempit.

Ah, ya. Setting cerita di Batam. Dan muncul BreadTime, milik dua orang sepupu. Tentu mengingatkan saya dengan Tarapuccino- novel Riawani Elyta yang digarap bersama Rika Y. Sari. Hingga saya menyimpulkan bahwa Katjoe Manis dan BreadTime adalah tetangga. Ada beberapa bagian pada kedua novel ini yang serupa tapi tak sama. But, I really enjoyed both of them.

2. The Mint Heart – Ayu Widya

Mint Heart

Cerita dimulai ketika Patricia -editor in-chief- mencetuskan ide “Wherever You Want” sebagai bentuk perayaan ulang tahun ke-30 tahun majalah Travel Lover’s Magz. Ide ini menjadikan Leon dan Lula sebagai pelaksana proyek. Leon adalah sosok Mint ice cream bagi Lula, sedangkan Lula adalah cewek berisik yang mengganggu bagi Leon.

Ceritanya ngalir dan mengundang tawa. Ringan banget. Konflik dimulai ketika Anika -tunangan Leon- muncul ketika mereka di Makassar. Menyusul kemudian Rifo -First Love Lula- yang menjadi model dalam perjalanan mereka di Jogja.

Ayuwidya menggunakan sudut pandang orang pertama dari sudut Leon dan Lula secara bergantian. Ia menggambarkan ekspresi tokoh-tokohnya dengan baik. Menurut saya, sosok Leon nggak dingin-dingin amat si. Mungkin efeknya akan beda kalau novel ini dibagi dua, side-A dari sudut pandang Lula dan side-B dari sudut pandang Leon.

So far, saya suka novel ini walau kurang banyak konfliknya si. Ditengah tren novel dengan latar luar negeri, novel ini semacam #antimainstream karena memilih latar dalam negeri. Untuk orang yang suka novel dengan tema travelling, novel ini recommended.

[bersambung]

At Least I’ve Tried

Kemarin siang sebuah sms masuk.

Dari ibuku:

Ass, ne cpns sudah pengumuman, kau belum lulus, belum rejeki. Dak apo, tahun depan coba lagi, sekarang nea fokus lah kerjo di rsi jogja.

Tak lama berselang, ada sms lagi.

Dari ayahku:

Apo kabar nak? Hasil cpns sudah ado. Tapi nea harus sabar. Belum lulus tahun ini. Mantaplah dulu di rsiy sambil cari lain. Salam untuk kawan. Silaturahmi dengan keluarga Bude Reni dan Mbah Siti di Kalasan.

Nggak tau harus seneng atau sedih dengan ini. Satu sisi emang aku ingin lanjut di RSIY, tapi satu sisi nggak pengen ngecewain ortu. Yasudahlah, yakin aja ini yang terbaik. 🙂

 

My December

Halo~ udah Desember yak? Desember selalu mengingatkanku dengan My December-nya Linkin Park dan tentu saja, Winter. Aku ingin sekali berada di negeri empat musim dan menyentuh salju. Pertanyaan “kapan pengumuman PNS?” makin sering terlontar dari teman-temanku.

Lima kali tujuh jam selama sepekan kuhabiskan di RSIY PDHI dan entah sudah berapa kali koordinator unit farmasi bertanya hal yang sama. Aku tau, sebagai rumah sakit tipe-D tentu status akreditasi sangat-sangat diusahakan. Banyak sekali standar pelayanan yang harus dibenahi. Sebagai pendatang baru, beberapa kali aku diajak berpikir tentang Standar Prosedur Operasional (SPO) a.k.a SOP. Beliau begitu terbuka terhadap masukan-masukan dari pengalamanku selama PKPA di RSPAD Gatot Soebroto. Bahkan bundel laporannya sudah kuserahkan pada beliau.

Kemarin abis rapat unit farmasi. Beliau menyampaikan program farmasi 2014. Sungguh, banyak cita-cita beliau. Tentunya sangat membutuhkan tambahan SDM yang bisa diajak berpikir bersama. SDM sekarang ada 14 karyawan tetap dan 6 orang part-timer. Dari 14 orang itu, apotekernya cuma 2, yang satu katanya mau resign. Dari 6 orang itu apoteker ada 4, tapi yang dua mau fokus di apotek dan yang dua nunggu pengumuman tes cpns. Jika kelima apoteker tersebut resign dari rsiy, tentu saja Apotekernya tinggal koordinator tersebut. That’s why sekarang lagi rekrutmen 2-3 orang.

Lalu, aku teringat konsep doa diantara Khauf dan Raja’, takut dan harap. Itu adalah sikap kita pada Allah. Kita takut tidak pantas menerima itu, tapi juga berharap doa itu terkabul. I’tiraf.

Wahai Tuhan, ku tak layak ke surga-Mu Namun tak pula, aku sanggup ke neraka-Mu. (Raihan-I’tiraf)

Satu sisi aku tidak ingin lulus cpns karena akan banyak hal-hal baru yang mungkin harus kuperjuangkan. Idealisme yang terbentuk selama lebih dari 6 tahun di Jogja tentu akan bersinggungan dengan realita di Baturaja. Kemandirian yang terlatih selama lebih dari 9 tahun tidak tinggal dengan orang tua mungkin akan tergerus ketika kembali ke rumah. Kemudahan mobilitas di Jogja tentu akan berganti dengan fasilitas di rumah.

Ntar kalo mau beli buku di mana? Online shop? Minta tolong beliin Rika? Ntar kalo gini gimana? Trus kalo gitu gimana?

Sisi lain aku tidak ingin orang tua kecewa. Banyak harapan orang tua. “Gek kalo kau lulus pns, bla.. bla.. bla..”

Seorang teman berkata, “Antum aneh, Ne. Biasanya banyak yang pengen mengabdi di tanah kelahiran. Lah antum…”

Mungkin beda sudut pandangnya kali ya?

Ada lagi adek kelas yang bilang, “Bisa jadi takdir mbak lewat ridho orang tua..”

Hati manusia berbolak balik.

Dulu, aku selalu dimotivasi untuk tidak pulang. Terserah mau kerja di mana asal nggak balik ke Baturaja. Mau tetap di Jogja, entah ke Jakarta, Bandung, Kalimantan.. Sekarang, kekeuh nyuruh jadi pns. Bahkan kemarin ketika aku tidak berhasil mendaftar di BPOM, disuru daftar di daerah.

Aku tidak pernah suka dengan kenyamanan, tapi kadang tak cukup kuat untuk mendapat tekanan dari berbagai sisi. Ya, Rabb, tunjukkan jalan terbaik.

Yang jelas mulai bulan ini uang kirimanku dipotong karena duitnya untuk bayar angsuran motor adek. Ya, aku sadar, harusnya ketika sudah resmi lulus, orang tuaku sudah tidak perlu mengirimi lagi. Tapi gaji part-timer di RSIY baru setengah dari kiriman dari orang tuaku. Mungkin sudah saatnya aku lebih berhemat.

Banteng Jaya II, 5 Desember 2013, 07:39

#STPC
#STPC