Perjalanan Menuju Minimalis

You can’t buy happiness, but you can buy books and that’s kind of the same thing.

(Anonymous)

Aku tidak ingat kenapa bisa menjadi kutu buku. Yang kuingat bahwa aku suka membaca sejak sebelum masuk taman kanak-kanak. Mulai dari halaman anak-anak Tabloid Nova punya ibu, majalah Bobo, Tabloid Fantasi, sampai buku-buku terbitan Balai Pustaka di Perpustakaan SMP. Aku membaca buku apa saja yang ditemui, karena akses buku terbatas. Ketika SMA, dalam sebuah diskusi ekstra kurikuler, kakak Alumni mengatakan bahwa buku adalah investasi. Setelah itu, aku selalu menyisihkan uang jajan untuk membeli buku.

Bisa dibilang masa kecilku dihabiskan di daerah yang cukup terpencil dan akses toko buku cukup jauh. Toko Buku Gramedia hanya ada satu di Ibukota Provinsi. Maka, ketika aku diterima kuliah di Kota Pelajar, tentunya aku tercengang! Ada banyak bazaar buku murah setiap tahun, diskon buku di toko buku lokal dan gramedia. Bisa ditebak, lulus kuliah membuatku mampu mengumpulkan lebih dari 300 buku.

Kebiasaan membeli buku ini tidak berhenti ketika aku lulus, tapi menjadi berkali lipat sejak bekerja. Setiap gajian aku langsung ke toko buku, hal ini terus berlangsung sampai sekarang. Tapi, di tahun 2017 aku mengalami krisis. Aku butuh uang untuk bayar kos tahunan. Mau minta uang ke orang tua koq ya malu. Udah kerja tapi masih minta. Di titik itu aku sadar bahwa kebiasaan belanja buku menguras kantongku tanpa sisa untuk ditabung.

Aku ingat waktu itu membongkar rak buku yang sudah berjumlah 7 buah, dengan total koleksi sekitar tujuh ratus buku berbagai genre. Mulai dari buku kefarmasian, buku Islami dan tidak sedikit fiksi dan nonfiksi dari berbagai penerbit. Awalnya ada rasa ragu, apakah buku bekas bisa laku? Selain itu, ada rasa tidak rela melepas koleksi yang sudah dikumpulkan sejak tahun 2008. Tapi, sekali lagi, waktu itu aku lebih butuh uang daripada perpustakaan.

Maka, aku memilah buku yang kira-kira tidak akan dibaca ulang. Buku-buku yang sudah agak lama ditimbun tapi tidak dibaca-baca, serta beberapa buku yang aku punya dobel. Ah, kalo diingat-ingat, waktu itu aku sangat menyesal karena tidak punya tabungan.

Suatu hari, dalam suatu pertemuan santai di rumah teman, temanku membahas tentang Hidup Minimalis. Katanya di luar negeri sedang trend Tiny House. Aku hanya bisa menyimak karena belum pernah mendengar hal ini sebelumnya. Tak lama, aku menemukan buku The Life Changing – Magic of Tidying Up karya Marie Kondo. Aku membaca buku itu dan memutuskan memulai gaya hidup baru dengan berbenah.

Akhir tahun 2017, aku mulai mengenal aplikasi Scoop Gramedia, yang kemudian diganti dengan brand Gramedia Digital. Tahun 2018, aku mulai mencoba berlangganan dan cukup menyenangkan melihat banyak buku di pasaran yang ada versi digitalnya. Aku jadi tidak mudah tergoda beli buku fisik. Sepanjang tahun 2018 sampai sekarang, aku selalu menjadikan koleksi Gramedia Digital sebagai acuan sebelum membeli buku.

Tahun 2018, Gramedia Pustaka Utama menerbitkan buku Seni Hidup Minimalis yang ditulis oleh Francine Jay dan Seni Hidup Minimalis ala Jepang oleh Fumio Sasaki. Keduanya saling melengkapi dan aku setuju dengan hidup minimalis dalam artian di sini kita belajar memilah barang-barang yang dipunya menjadi sejumlah minimal sesuai kebutuhan, serta menimbang barang yang akan dibeli dengan saringan yang benar- benar kita butuhkan saja, serta mengabaikan bisikan karena pengin aja.

Setelah kuingat-ingat, rasa senang membeli barang baru, memang diikuti dengan pertanyaan, “nanti barangnya mau ditaruh mana ya?” Begitu pula dalam hal membeli buku. Misal sebulan beli 10 buku, setahun ada 120 buku baru terkumpul. Padahal, kecepatan bacaku hanya 1 buku per minggu. Hasil belanja setahun baru akan habis dibaca dalam waktu 2 tahun.

Melihat buku menumpuk belum dibaca kadang menyenangkan, tapi lebih sering membuat sedih. Kadang aku membayangkan tiap buku adalah lembaran uang, tentunya akan lebih berguna jika dalam bentuk uang tunai atau saldo di rekening. 🙈

Tahun 2019, GPU kembali menerbitkan versi terjemahan Seni Membuat Hidup Jadi Lebih Ringan oleh Francine Jay. Buku ini menjadi nonfiksi pertama yang aku selesaikan di tahun 2020 dan kembali menambah referensi tentang gaya hidup minimalis.

Awal tahun 2020, dunia digemparkan dengan pandemi covid-19. Tentu gaya hidup santai digantikan dengan kecemasan. Kebijakan Work From Home dan School From Home mulai banyak diberlakukan. Tentunya hal ini tidak berlaku bagi kami yang bekerja di bidang kesehatan. Work From Hospital menjadi keniscayaan dengan pelaksanaan protokol kesehatan ketat.

Selama masa pandemi, tentu pemasukan menjadi jauh berkurang karena jumlah pasien menurun hampir 30%. Penghematan di segala sisi harus dilakukan demi keberlangsungan hidup. Aku yang bisa menghabiskan 30% gaji untuk belanja buku, mencukupkan diri dengan buku yang ada di rak. Gramedia pun menerbitkan buku versi digital terlebih dahulu sebelum akhirnya menerbitkan versi cetak dengan sistem pre-order. Ah, sungguh berat sekali memang industri perbukuan di masa pandemi.

Opsi lain menambah pemasukan yaitu menjual koleksi buku yang mungkin tidak akan dibaca lagi dan fokus membaca ebook via Gramedia Digital. Tapi, kemudian toko buku online berlomba mengadakan booksale dengan harga diskon sampai lantai. Bahkan Gudang Gramedia Tajem Maguwoharjo juga dibuka dan harga buku dibanderol 10.000-20.000/buku.

Ada kabar yang menyebar bahwa buku yang terbit 2016 akan dimusnahkan menjadi bubur kertas. Tidak sedikit pembaca yang akhirnya memborong buku di gudang penerbit supaya bukunya tidak dimusnahkan dan bisa disalurkan ke taman bacaan yang membutuhkan. Alhasil, bulan Juni pertahanku jebol. Aku jajan buku sana-sini. 🤭

Akhirnya ke toko buku setelah 2 bulan lock down

Perjalanan pandemi tidak hanya memaksaku menjadi minimalis dalam hal belanja buku saja, tapi juga dalam hal belanja makanan dan juga perlengkapan harian. Biaya kebutuhan hiburan menjadi meningkat karena kebiasaan menonton di bioskop digantikan menjadi langganan TV kabel. Aktivitas di luar dialihkan dengan aktivitas yang bisa dilakukan di rumah saja seperti berkebun, memasak, membaca, menulis jurnal dan menonton film.

Box set Harry Potter Series yang kuselesaikan di awal tahun 2020

Pandemi memaksaku lebih selektif dalam membeli buku. Aku ingat sudah mengumpulkan buku Harry Potter series sejak 2018, dan baru lengkap akhir 2019. Lalu, 2020 menjadi tahun aku menyelesaikan membaca buku 1-7. Puas sekali rasanya bisa menyelesaikan serial yang terkenal di seluruh dunia selama 20 tahun terakhir.

The Case We Met – Flazia

Aku senang 2020 banyak membaca buku-buku bagus genre Metropop Terbitan Gramedia, serta mendapat kesempatan bekerjasama dengan @bincangbuku mengulas buku dalam program IG Tour & Giveaway Beresin Dulu Hidupmu (John Bishop) dan Talking To Strangers (Malcolm Gladwell). Itu pengalaman menyenangkan. Apalagi selain buku untuk diulas, @bincangbuku mengirimkan Eragon dan Sherlock Holmes sebagai bonusnya.

Postingan ulasan Beresin Dulu Hidupmu
Postingan ulasan Talking To Strangers

Banyaknya program diskusi menarik perbukuan di komunitas baca seperti @bookish_indonesia juga mengisi hari-hari pandemi. Sangat menyenangkan bisa mengobrol dan berdiskusi tentang buku dengan sesama pembaca sampai tengah malam.

Aku tidak lagi disibukkan dengan ingin membeli ini itu, tapi lebih menghargai barang-barang yang dimiliki. Aku sekarang lebih banyak menghabiskan waktu (dan uang) untuk hobi daripada barang pajangan. Aku bukan tipe yang sering beli baju, jadi iklan baju yang muncul di laman sosial media jarang membuatku tertarik.

Tantangan utama menjadi minimalis adalah ketika penerbit berlomba-lomba menerbitkan buku baru dengan penawaran harga menarik, diskon khusus ataupun bonus merchandise. Tapi aku sudah membiasakan diri sejak 2018 untuk tidak tergoda hype, dan mulai bersabar menunggu review positif sebelum membeli bukunya. Jika ada versi digital, kenapa harus beli buku fisiknya?

Koleksi Novel Metropop GPU

Aku merasa beruntung hidup di jaman dimana sudah ada buku digital. Kegiatan membaca bisa dilakukan dengan budget minimal tanpa harus pusing memikirkan harga buku fisik yang makin mahal. Belum lagi tidak semua buku digital diterbitkan versi cetaknya. Mau tidak mau, pembaca diharuskan terbiasa dengan buku format digital bukan?

Tampilan Aplikasi Gramedia Digital
Perpustakaan dalam genggaman

Sekarang aku berada di titik membaca tidak harus membeli: bisa pinjam atau baca versi digital. Aku akan membeli buku yang berkesan untuk koleksi. Karena melihat buku di rak adalah hiburan tersendiri. Bagiku asal tidak berantakan, rak buku sangat menyenangkan untuk dilihat. Jika sudah penuh, mungkin saatnya untuk memilah lagi. Berbenah adalah sarana mengenali diri sendiri, hal apa yang sedang diminati, karena minat selalu berubah.

Koleksi bacaan yang bisa diakses di aplikasi Gramedia Digital

Membeli buku dan membaca buku adalah 2 hobi yang berbeda. Aku sadar bahwa tidak membeli buku fisik tidak akan membuatku berhenti membaca. Bagaimana dengan kalian? 😁📚

Published by yonea

Hospital Pharmacist who love books and photography. Currently journaling about tea experience.

2 thoughts on “Perjalanan Menuju Minimalis

  1. saya lebih senang baca yg bentuknya buku, blum nyaman dengan ebook… cuma kadang ada beberapa buku yg tidak selesai dan hanya jadi penghias rak…
    Ada rasa yang berbeda jika melihat susunan buku di rak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: