Rajab Tahun ini

Dimulai dengan Rihlah lintas generasi.

Yon's11860

Dan disudahi dengan reuni sahabat yang lama tak bersua.

#Lukman_Lani
#Lukman_Lani

Tapi di antara itu, aku diberi kesempatan menjadi pasien di rumah sakit tempatku bekerja. Hehe..

Ya, Maagku kumat parah kali ini.

Ahad (18/5)

Setelah beberapa hari begadang dan hutang tidur, hari ahad harusnya bisa jadi waktu untuk istirahat. Tapi tidak. Aku harus membeli snack untuk sebuah acara. Dan menghadiri syukuran seorang teman. Guess what? Aku tak sempat sarapan. Sorenya ada agenda rutin pekanan sampai menjelang Isya’. Rumah sensei lumayan jauh dan aku baru sampai di Salima jam 8 malam. Then, telat dinner juga.

Senin (19/5)

Aku masuk pagi, jaga UGD seperti biasa. Sarapan sudah. Makan siang nggak telat. Dalam perjalanan pulang aku agak mual dan seperti masuk angin. Aneh. Ini kan siang, koq bisa? Maka aku mampir ke sebuah warung dan membeli makanan untuk mengganjal perutku sembari menunggu yang piket masak melaksanakan tugasnya.

Sesampainya di Salima, aku makan dengan tenang. Habis makan ngantuk. Baru jam 4. Sebenarnya si nggak bagus ya tidur habis ashar. Tapi berhubung aku punya hutang tidur, baiknya dibayar aja. Hehe..

Tepat waktu azan, aku terbangun. Perutku terasa tak enak. Rasanya penuh dan mual. Entah berapa kali aku bolak-balik ke belakang. Bukan diare, tapi muntah-muntah. Kakiku lemas dan kepalaku pusing. Separah-parahnya maagku kumat, nggak pernah kayak gini.

Mbak Ratu yang sedang terapi radang usus mengusulkan minum brotowali. Dengan berat hati aku mencobanya. Ternyata efek brotowali membuatku muntah-muntah lagi. Setelah minum madu, perutku mulai nyaman. Tapi ternyata tak berlangsung lama. Perutku kembali berkontraksi. Sepanjang malam aku tak bisa tidur. Bahkan untuk meluruskan punggung. Maka aku memejamkan mata dalam posisi duduk.

Selasa (20/5)

Usai sholat subuh, aku mencoba minum susu jahe. Lumayan tidak mual lagi, tapi sakit perutnya masih teras. Mbak Ratu mencoba mengubungi tempat bekam langganannya. Aku ijin kerja ke koordinator unit farmasi.

Tepat pukul 8, kami tiba di tempat bekam di sekitar Condong Catur. Karena belum pernah dibekam, aku dipijat dulu supaya kondisiku stabil. Tensiku rendah. Ibunya memberi banyak saran tentang makanan apa saja yang boleh dan tidak. Aku harus minum madu 3 kali sehari.

Setelah hampir 2 jam di sana, kami pulang. Setelah minum madu, aku tertidur sampai dzuhur. Bangun untuk sholat, minum madu lagi, lalu makan nasi yang dilumatkan. Aku tidak suka bubur. Kemudian tidur lagi. Bangun ashar, sholat dan kupikir keadaanku mulai membaik. Aku berencana ngedate dengan Nurul.

Ternyata malamnya tak jauh beda dengan malam sebelumnya. Maka Nurul datang ke Salima. Akhirnya kuputuskan jika pagi belum membaik, aku akan periksa di UGD.

Rabu (21/5)

Akhirnya ke UGD. Setelah diinjeksi Ranitidine, perutku masi sakit. Tiba-tiba pinggangku juga nyeri. dr. Yosy menyarankan untuk cek lab, darah dan urine. Hasil lab darah relatif normal, sedangkan di urine ada bakteri. Diagnosa awal ISK. Aku diberi Cyprofloxacin (Antibiotik) dan Mucogard (sucralfat- obat maag dengan mekanisme melapisi mukosa lambung), serta obat nyeri perut Gitas Plus(kombinasi Hyoscine N-butylbromide dan parasetamol). Sebelum pulang, aku mampir di farmasi sampai nyerinya agak berkurang. Oiya, aku ke RSIY diantar pake motor. Hehe..

Sesampainya di Salima, aku makan pisang, kemudian nasi (yang dilumatkan), kemudian minum obat. Seperti yang sudah ditebak, aku muntah. LAGI. Setelah dzuhur, akhirnya aku bisa tertidur.

Menjelang maghrib, Dian datang membawa oleh-oleh. Tak lama kemudian ada Intan, dan menjelang isya’, Desy dan Vhe datang. Mereka memaksaku makan bubur. Sekitar jam 8 mereka pamit, tapi kemudian perut dan pinggangku sakit. Tanpa banyak mikir, mereka menelpon taksi. Dan aku akhirnya diangkut ke UGD. Lagi.

Nurul menyusul ke RSIY. Dia mengabari Eza tentang kondisiku. Eza menelpon ibu. Itu sudah lewat jam 9 malam. Perawat langsung memberiku injeksi Ketorolac dan Scopamin. Karena masih nyeri, injeksi Ketorolac dicampur ke dalam infus Ringer Laktat. Ooo, jadi gini rasanya diinfus..

Aku segera dipindahkan ke bangsal perawatan di gedung induk. Vhe, Desy, Nurul dan Suci pulang, sedangkan Hanifah menemaniku. Padahal besok dia ujian. Perawat memberiku kompres panas untuk mengurangi nyeri.

Hampir pukul 11 malam, dr. Titie visit. “Besok di USG aja ya.” Kata beliau. “Eh, kayaknya sering liat deh..” Lalu kujawab, “Saya di Farmasi dok..”

Kamis (22/5)

Belum setengah enam ketika Nurul muncul. Hani harus pulang untuk mempersiapkan ujiannya. Sarapan bubur hanya bisa masuk 2 sendok. Perawat datang mengganti infus RL dan memasukkan Ketorolac melalui threeway. Nyerinya sudah jauh berkurang.

Setengah 8, waktu pergantian shift, 3 orang rekan farmasi yang jaga malam dan jaga pagi datang. Om Sam datang sekitar pukul 8. Tak lama kemudian Eza dan Om Evan datang. Sensei, dan beberapa teman bergantian datang. Termasuk koordinator unit Farmasi. Duh, pastinya susah nyari personil tambahan karena kurang personil.

Setelah dzuhur aku baru bisa istirahat. dr. Rizq dan dr. Emy datang mewakili RSIY. Ya, beliau di bagian manajer medis. Padahal, aku termasuk karyawan baru. Seperti yang sudah kutebak, lagi-lagi rombongan farmasi maen. Kali ini yang shift siang. Sssttt.. Jam besuk nggak berlaku bagi karyawan.

Sorenya, ketika Pejuang07 besuk, perawat menjemputku untuk USG.

Ternyata ada sedikit radang di ginjal kiri. Dan aku harus banyak minum.

Sekitar pukul 5, dr. Noor Asiqoh, Sp PD. visit. Beliau dokter yang beberapa bulan lalu menikah dengan dr. Ngatwanto, Sp. P. Dokter paru favorit para pasien dan medrep.

dr. Noor menyampaikan diagnosisku: Dyspepsia Cystitis- gangguan pencernaan dan radang ginjal. Kata beliau aku sudah bisa pulang, tapi harus bedrest minimal 3 hari. Sukralfat dan Cypro-nya dilanjutkan, dan ditambah Ranitidine dan Ketorolac oral untuk jaga-jaga kalo nyeri. Aku tidak boleh minum kopi, makan pedas, santan, asam dan mie. Oow,.. Minum harus 2 liter, dan ngemil tiap 4 jam.. Oke. Fine.

Karena sudah hampir maghrib, Eza memutuskan untuk pulang besok pagi saja. Senyaman-nyamannya di RS, menurutku lebih nyaman di kosan. Apalagi aku di bangsal kelas II yang berbagi dengan 3 orang lain, yang ternyata bapak-bapak. Tentu aku semakin tak nyaman.

Jum’at (23/5)

Akhirnya bisa pulang. Ternyata oleh-olehnya banyak.

Logistik
Logistik

Dan yah, aku harus banyak minum air putih. 2 liter = 1 botol 1,5 L + 2,5 gelas 200 ml= 3 botol 600 ml + 1 gelas 200 ml = 10 gelas 200 ml.

Jadi, di tengah sibuknya bulan Mei, Allah memberiku banyak waktu untuk liburan. Padahal akhir Mei juga banyak tanggal merah kan?

Ya, disyukuri. Sekali-sekali jadi pasien. Setelah ini, jadi punya rem kalo mau makan pedes (jangan over), puasa makan mie (huhuhu), kurangi asem, no coffee, no santen, jangan begadang, banyak minum. Sehat itu enak. Sakit itu ribet. Udah mau Ramadhan, jangan sampe ngedrop lagi.

ramadhan.jpg

Salima, 10 Juni 2014, 12:52

 

Thanks a lot

Makasi buat semua yang udah inget kalo tanggal 1 kemarin jatah umurku berkurang satu lagi. Abis ini setiap ditanya umur mesti bilang “24”. Oke bye “23”. Berapapun sisa jatah umurku, semoga berkah, bisa menebar manfaat bagi umat, sehat selalu dan bahagia~

Yon's11211

Makasi yang udah sms, mensyen di twitter atau posting di Timeline Facebook bahkan dari tengah malem. Makasi buat salimers yang repot-repot beliin kue padahal aku cuma penghuni gelap tetap (PGT) kalo weekend.

Buat yang mau ngasi kado, silahkan bungkus mesin cuci, hape android, kamera DSLR dan motor baru ya. Kirim aja ke salima baru, soalnya kos yang sekarang masuk komplek dan jauh dari keramaian. Atau bisa juga dialamatkan ke Instalasi Farmasi RSIY PDHI Kalasan, paling bikin heboh se-rumah sakit. :p

Salima, 4 Februari 2014, 22:16

 

 

Rihlah 3 Pantai

Harusnya hari ini ada yankes di Prambanan. Tapi kata koordinatornya dipending tanggal 2. Kabar baiknya, temen maen dari kecil, sebut saja Ispri datang dari Kediri. Arkan yang diminta jemput. O,ya, like usual, aku mabit di Salima kalo weekend. Sekitar jam 8 Ispri sampe. Ternyata dia jauh-jauh datang demi jadi editor laporan Kerja Praktek Arkan.

Aku sedang beres-beres ketika Suci tiba-tiba berkata dia pengen ke pantai. Nah, galau detected inih. Dia memang sedang stress abis ujian, dan kemarin sempat inhal pas responsi praktikum. Mumpung luang, aku keceplosan bilang ayok. Nah, jadilah kami berdua menuju selatan. Yak, pantai yang dekat aja, ke kompleks Samas-Pandan Sari-Goa Cemara. Terakhir ke pantai pas jadi tour guide Saudagar Kaizen ke Samas.

Kami tiba di goa cemara tepat tengah hari. Tanpa menunggu lama, kami segera menuju laut. Nggak seru kalo ke pantai tapi nggak basah.

Image

Tanpa sadar sudah hampir jam 1. Sebelum pulang, tak lupa melengkapi koleksi:

goa cemara 1

Oiya, mampir dulu lihat-lihat craft khas laut:

goa cemara 6

Aku ada pertemuan rutin pekanan setelah ashar, masih ada waktu satu setengah jam. Maka kami berlanjut menuju mercusuar di pantai pandan sari.

goa cemara 5

Dari pandan sari kami mencari jalan menuju pulang. Tapi kami nyasar masuk wilayah perkebunan buah naga, pemirsa. Dan akhirnya aku mengenali daerah itu sebagai Pantai Samas. Haha.. Karena Suci sudah tampak lelah, *yaiyalah belum makan* maka kami hanya melihat sekilas dan langsung pulang.

Salima, 26 Januari 2014, 22:39

What a Full Friday!

Selalu ada semangat baru di hari jum’at. Biasanya sih gitu. Tapi pagi – pagi Nita udah ribut masalah jemuran. Arkan yang jadi tersangka sedang nganter Miski ke kampus. Aku jadi ikutan sewot. Abisnya dia teriak – teriak, terus banting pintu dan ujung – ujungnya nangis. Dengan kesal kuraih AsyaRo dan kukirim sms ke Arkan. Hani yang mau berangkat cuma bisa bingung mendengar kegaduhan pagi itu. Aku pun menyegerakan berangkat supaya tidak makin kesal.

Hari jumat itu, Pa’ole jaga stand di TP. Ada entrepeuner day-nya KMMTP. Dalam rangka dies natalis FTP kah? Ternyata bukan sodara – sodara. Gak ada hubungannya, yaudah ngadain aja. Aneh. Biarin dah.

Jam 8 aku sudah standby. Lukman belum datang. Jam 9 sudah mulai ramai. Stand pa’ole sebelahan sama Lelebo. Yah, fastabiqul khoirot deh. Tak lama kemudian Harits dan Diki lewat wira – wiri.

“Rits, hari ni ke mana – mana gak? Hari ni aku full mobile, Motorku mogok di parkiran. Boleh pinjem motor? ” 

“Aku cuma di lab koq. Pake aja motorku. Ntar gampang pulangnya minta anter temen.”

 

Tanpa pikir panjang, Harits pun menyerahkan kunci motornya dan STNK. Subhanallah, itsarnya.*terharu

Sampe jumatan, kubiarkan Lukman dan Catur yang jaga. Aku nyambi bikin produk Cressendo Craft.

Abis dzuhur, harusnya rapat bimo. Tapi pas aku ke tamtim baru ada Ari dan Tri. Rima baru mau sholat di TP, Uti juga masih di teknik, Angga ternyata ada responsi. Yasudah, akhirnya rapatnya diundur ahad siang abis SD. Sabar ya boz!

Jam 2 aku janjian dengan pak wawan. Tapi beliau masih ada diskusi di P3 UGM. Baru nyampe kampus jam 3-an. Alhamdulillah, setelah sekian lama, akhirnya skripsiku di-acc. *terharu jilid 2

Aku pun segera memfotokopi intisari dan surat keterangan selesai ambil data. Jam 4 kurang 15, aku ke TU minta nama dan NIP dosen yang diusulkan sebagai penguji skripsi. Lanjut ke akademik. Ternyata sudah dikunci. Tapi bapak – bapaknya masih di dalam. Dengan wajah tak bersahabat, bapaknya membuka pintu dari dalam. Dan aku diomelin deh. Katanya kalo jumat cuma sampe jam 3. Dengan muka polos aku menyerahkan draftku. Dan ternyata draftku masih belum lengkap. Sedihnya. Tau sih kalo salah, tapi gak usah pake ngomel – ngomel gitu dong. Lututku langsung lemas dan akupun menuju ke mushola dengan sedih. Gini nih kalo nunda sholat ashar.

Setelah sholat ashar berjama’ah dengan Ika dan Lely, temenku yang baru selesai kuliah di profesi, aku pun menuju tempat berikutnya. Yah, jumat sore jadwal #melingkar. Adhiyyat yang kutinggal di TP ternyata dibawa Lukman. *terharu jilid 3

Tepat ketika azan isya’, aku sampai di FHQ, kontrakan Harits. Setelah sholat isya’, para penghuni FHQ mau dinner ke Feskul. Setiap jum’at, omzet DaQu grup disedekahkan ke Rumah Qur’an. Aku sudah sangat lelah untuk sekedar ikut makan. Tepat ketika mereka mau pergi, adhiyyat diantar Lukman dan Dida. Aku pun segera meluncur ke Salima.

Baru sampe di depan Salima, Miski sedang duduk di teras.

“Lu ngapain, Mis?”, sapaku

“Nyari privasi”, jawabnya cuek.

Aku pun masuk ke salima. Ada Nita dan Hani di ruang tengah. Ketika masuk kamar, ternyata ada Rika sedang ngeprint skripsi. Berantakan banget sih. Setelah ritual terapi air selama lima belas menit, aku mengirim sms ke ayah – ibu – Eza dan kemudian pergi balikin buku. Sepanjang jalan aku berfikir. “Malem ni numpang mabit ke mana ya? Atmosfernya lagi gak enak nih.” Akhirnya kuputuskan untuk mabit di kosan Ispri.

Sesampainya di sana, aku menumpahkan segalanya.

“Ternyata berat ya, Ne, jadi orang yang dituakan di Salima.”

Hingga hampir tengah malam kami membahasnya. Ya Rabb, begitu banyak kejadian hari ini. Pastinya ada hikmahnya. Entah ini rahmat atau musibah, semoga aku bisa selalu husnuzhon pada-Mu…

Salima, 3 Juni 2012, 23:54

Makanya Bawa HP!

Waktu itu aku kelas 3 SMA. Hari pertama bawa motor sendiri, setelah lebih dari 2 tahun berangkat sekolah diantar Om Iwan atau bareng Om Aan. Entah sengaja atau tidak, hari senin itu aku gak bawa HP. Jadwal sekolahku beda dengan SMA lain. Senin dan sabtu pulang jam 13. Selasa, rabu dan kamis pulang jam 16. Sedangkan jum’at pulang jam 11. Senin sore ini aku liqo’, dan aku lupa izin ke nyai (panggilan untuk nenek) dan Om Iwan. Biasanya liqo’ku hari jum’at atau ahad, dan seringkali aku diantar Om Iwan. Tentunya Omku itu tau siapa MRku.

Menjelang maghrib, aku pulang langsung ditanya dari mana. Tumben. Biasanya nyai, yai dan Oom gak sekhawatir itu. Ah, tentunya karena takut aku kecelakaan atau apa. Maklum, hari pertama bawa motor. Ketika kulihat HP, banyak missed call dari Om Iwan. Tak lama ada sms dari MRku menanyakan apakah aku sudah sampai rumah, dan beliau mengatakan bahwa Om Iwan sampe nanya ke beliau. Yah, dari sana aku selalu membawa HP kemanapun pergi dan ketika izin pergi aku selalu bilang jam berapa pulangnya. Biar mereka gak khawatir.

Aku baru sadar bahwa pulsaku sudah habis dan aku tidak bisa membalas sms dari bosku ketika telpon salima berbunyi nyaring.

“Assalamu’alaikum, mbak, ini ibunya Dini. Dininya ada?”

“Wa’alaikumsalam, wah, gak ada e bu.”

“Kemana ya mbak?”, tanya beliau lagi

Waduh, meneketempe, dia kan tadi kagak pamit ke gue. Hmm, hari apa ini? Oh, Rabu!

“Kayaknya lagi tahfidz bu..”, jawabku

“Pulang jam berapa?”

“Biasanya jam segini udah pulang bu”

“Oo, ya sudah, nanti kalo Dini pulang, bilang disuruh nelpon ibu atau bapak atau Rofi ya.”

“Iya, bu Insyaallah nanti disampaikan”

“Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikumsalam warahmatullah..”

Aku sudah akan berbalik mengerjakan sesuatu ketika aku melihat sebentuk kotak putih di dekat TV. Ya, itu HP Arkan! Masyaallah, lagi – lagi dia gak bawa HP.

Beby calling!

Angkat aja deh.

“Assalamu’alaikum, Rofi, ni mbak Nea, HP Arkan gak dibawa.”

“Wa’alaikumsalam, oiya, nanti aja mbak, jazakillah”.

Ada apakah gerangan? Dan telpon salima berdering lagi. Dengan malas kuangkat.

“Assalamu’alaikum, dengan mbak siapa ini?”, ternyata telpon dari Ibunya Arkan lagi.

“Wa’alaikumsalam, ni Nea, bu.”

“Dininya udah pulang belum?”

“Belum bu.”

“Waduh, kalo begitu saya minta tolong mbak, tolong disampaikan ke Dini, si Rofi lagi ngurus beasiswa, butuh scan pembayaran BOP-nya Dini… lalalalaa.. kira – kira mbak Nea bisa menghubungi temannya gak?”

“Wah, saya gak punya nomer temannya Arkan, bu”

“Oo, ya sudah, pokoknya kalo dia pulang suruh segera nelpon bapak atau telpon rumah. Rofi sudah nangis, antri ketemu dekannya sudah panjang, paling lambat beasiswanya diajuin hari ini jam 2 siang.”

“Iya bu, insyaallah nanti saya sampaikan.”

“Terimakasih banyak mbak Nea, jazakillah khoiron katsir, semoga kebaikannya dibalas Allah, amin”

“Amiin, sama – sama, bu.”

“Itu saja ya, Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam warahmatullah.”

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 ketika Arkan pulang ke salima. Dan aku pun hanya menyambutnya dengan menyuruhnya melihat HPnya.

Salima, 4 April 2012, 12:24