Review Buku Berbayar, Why Not?


Konnichiwa, Minna-san!

Kali ini aku mau membahas tentang kerjasama review buku. Ini termasuk isu yang selalu ramai dibahas di kalangan #Bookstagram, tapi tampaknya belum ada titik terang. Istilahnya masih belum ada masa depan cerah.

Mari kita samakan persepsi bahwa bookreviewer disini bukan dalam kapasitas sebagai ahli bahasa, kritikus atau apa karena tidak banyak bookstagram yang memiliki background keilmuan sastra. Review buku di sini adalah pandangan pribadi, yang kita bagikan karena mendapatkan pengalaman membaca suatu buku yang mana hal ini subjektif dan tergantung selera masing-masing. Bisa di awal baca, ketika membaca dan selesai membacanya.

Oke, balik dulu ke jaman awal aku jadi bookstagram, sekitar September 2017. Aku tau bahwa komunitas ini ada untuk menunjukkan bahwa sebagian pengguna instagram ada yang suka buku dan aktivitas membaca. Hal ini bisa dilihat dari postingan di instagramnya berupa foto buku aesthetic, maupun caption yang sangat menarik sehingga pembacanya merasa mendapat rekomendasi bacaan. Ada 3 macam review, positif (endorsement), negatif (rant review) dan review berimbang (plus-minus).

Tujuan review atau resensi buku tentu saja sebagai pertimbangan pembaca lain dalam hal memilih bacaan. Ada aplikasi goodreads.com untuk melihat rating buku secara umum. Tidak dipungkiri bahwa sebagian followers akan tertarik membaca bahkan membeli buku yang diposting reviewnya oleh bookstagram. Istilahnya saling menebar ratjun berantai.

Awal menjadi bookstagram, aku mendapat info kalau ada peluang dapat buku gratis melalui giveaway buku atau looking for bookstagram yang diadakan oleh penulis, penerbit maupun akun bookstagram lain. Wah, tentu saja ini adalah angin segar buat aku yang sudah belasan tahun mengoleksi buku dari kantong sendiri. Kan lumayan ya budget beli buku buat beli yang lain. Begitulah kira-kira yang kupikirkan dulu.

Tahun 2018, aku mulai mendaftar beberapa kali dalam event pencarian bookstagram ini. Paling tidak terpilih 1-2x per bulan. Sistem pencarian bookstagram adalah, kamu mendapat buku gratis dari penulis/penerbit. Lalu akan dijadwal untuk posting selama 5 hari secara bergantian. Bayangkan, review 1 buku dibagi menjadi 5 kali postingan. Kamu harus menyiapkan waktu untuk membaca supaya selesai sebelum jadwal tayang, mengalokasikan waktu untuk mendapatkan 5 foto yang berbeda supaya tidak bosan dan juga mengetik caption review. Luar biasa kan?

Apakah ada bayarannya? Oh, tentu tidak. Paling bagus ada like dan komen ucapan terima kasih dari penulis/penerbit atau bahkan review direpost di feed atau story. Tapi kadang ada juga yang bahkan tanda like pun tak ada. Haha. Seiring waktu aku mulai selektif dan kemudian fokus memperbaiki konten. Tujuan awal aku bergabung bookstagram adalah upgrade fotografi. Jadi ya, kerjasama review buku bukan prioritasku.

Lalu, melihat trend makin banyak postingan buku di instagram dan munculnya para #bookstagrammer, tampaknya penulis dan penerbit memanfaatkan ini sebagai peluang promosi . Tidak sedikit yang kemudian diajak kerjasama untuk promosi buku yang akan terbit. Harapannya, postingan bookstagram bisa meningkatkan target penjualan atau paling tidak memperluas ruang lingkup informasi terkait buku tersebut. Masa promosi sekitar 3-6 bulan. Setelah itu, buku dianggap sudah lewat masa promosi dan bisa jadi ditarik dari toko buku.

Lalu, aku mendengar bahwa di luar negeri konten review buku itu berbayar. Lalu, kupikir benar juga ya. food blogger dan beauty blogger kan dapat produknya untuk dicoba dan mereka mendapat bayaran juga. Kenapa book blogger, bookstagram dan booktuber tidak? Di sini buku sama dengan produk bukan? Tapi tidak sedikit juga penulis dan penerbit yang merasa sudah menggratiskan bukunya, masa harus membayar juga? Feedback ke mereka apa?

Aku melihat di sini iklimnya masih saling menuntut berupa angka.

Oke, aku mau sharing tentang dibalik layar sebuah konten review buku bisa muncul:

  1. Buku diterima pembaca (entah dengan membelinya di toko buku maupun mendapat buku dari penulis/penerbit.
  2. Membaca buku. Waktu yang dibutuhkan untuk membaca buku 300 halaman, rata-rata 2-3 jam. Ya kalo cocok. Kalo ada banyak keluhan semacam salah ketik, gak cocok writting style-nya, gak suka tokohnya, ceritanya gak masuk akal, dll, mungkin seminggu bahkan tidak selesai.
  3. Menyiapkan foto. Bisa dilihat macam-macam gaya foto, ada yang minimalis (minim properti), ada juga yang maksimalis (full props). Indoor maupun outdoor ada effortnya masing-masing.
  4. Mengedit foto. Aplikasi yang umum digunakan yaitu Snapseed, Lightroom, VSCO, Picsart, dll. Hanya supaya hasil foto lebih menarik dan eye catching kadang membutuhkan waktu berjam-jam.
  5. Mengetik caption. Ini yang susah sebenarnya, karena pengalaman membaca setiap orang berbeda tidak mungkin copy-paste review orang kan? belum lagi supaya engagement tinggi, harus mencari kalimat yang interaktif. Kalo cuma caption datar ya biasanya cuma di-skip aja.
  6. Memposting. Ini juga butuh effort. Baik posting di IG feed maupun di IG Story, kita harus membalas komentar dan juga butuh kuota internet.

Setelah melakukan poin 1-6 apakah cukup dengan dikasih buku gratis tanpa kompensasi? Padahal jika si Pembaca tidak mendapat buku tersebut dari penulis/penerbit, dia bebas untuk membaca buku yang sesuai minatnya dan juga tidak perlu kejar tayang sesuai jadwal posting.

Antrian baca yang tertunda

โ€œAku khawatir, kesenangan pada buku dan aktivitas membaca berubah menjadi suatu hal yang dibenci nantinya karena dilakukan dengan terpaksa.โ€

(kak Oni, 2020)

Mari melihat kegiatan review buku ini sebagai salah satu bentuk jasa. Jasa foto setauku ada tarifnya sendiri. Resensi buku yang dimuat di koran pun ada kompensasinya sendiri. Bookstagram ini terlalu baik menurutku. Sudah tidak dapat bayaran, masih mau dikasih tugas macam-macam juga.

Bentuk kompensasi yang bisa diberikan penulis/penerbit:

  1. Fee berupa uang/pulsa/e-money
  2. Buku bonus, misalnya 1 buku untuk direview, 1 buku hadiah tanpa keharusan review
  3. Voucher diskon belanja buku
  4. Merchandise

Dan yang paling penting adalah saling menghargai supaya tetap bisa bekerjasama nantinya. ๐Ÿ˜

Oke, segitu dulu bahasan hari ini. Bisa sharing pengalaman kalian di kolom komentar atau via DM ke Instagram @y0nea. Have a nice day~

Blessing in 2020

Hello, there!

Since my therapy would be finished in 4 days, aku mau cerita dari awal tentang proses terapinya. Aku yakin buat yang gak follow instagramku banyak yang gak tau kalo 6 bulan terakhir aku sakit.

Awalnya aku mulai ngerasa kurang fit sejak akhir 2019. Oktober-November itu emang lagi hectic persiapan akreditasi RS sih. Belum lagi kosan yang kurang kondusif. Secara fisik kosan agak lembab, ukuran kamar 3×3 m dan minim cahaya, jendela menghadap ke dalam dan ventilasi sempit. Belum lagi KM bersama, fasilitas cuci di luar dan bapak-ibu kos suka batuk gitu. Mereka ada riwayat penyakit jantung sih setauku. Temen kosan ada yang masih SMP dan berkebutuhan khusus gitu, jadi suka teriak-teriak, nyanyi sendiri dan ya lumayan ganggu anak-anak kosan. Jadi aku seringnya pulang kerja main dulu, ngemall, ke toko buku, makan di luar, dan baru pulang sekitar jam 8-9 gitu, pas adeknya udah tidur. Terus abis itu begadang. Gak nyaman banget sih sebenernya. Tapi waktu itu aku males pindahan karena barang banyak dan belum nemu kosan yang oke.

Akhir 2019, aku ketemu temen di seminar dan mbaknya nanyain kosku di mana. Kebetulan dia abis bikin kosan 2 lantai, 21 kamar gitu. Kubilang liat dulu deh. Kondisi kos punya mbaknya lebih luas, ukuran kamar 3×4 m, KM dalam, jendela gede menghadap timur. Secara pencahayaan dan sirkulasi udara baik. Tapi harganya 2x lipat kosku sebelumnya. Kupikir-pikir gak papa lah yang penting nyaman. Toh bisa mengurangi budget belanja buku. Lagian udah setahun kos di sana kan. Udah saatnya cari suasana baru.

Maka, akhir tahun aku habiskan untuk packing buat pindahan. Akhir januari aku pindah ke kosan baru. Aku juga rutin ikut senam setiap rabu sore dan jumat pagi di RS. Tapi yang bikin heran, bukannya tambah fit, aku malah tambah capek. Suka demam di pagi dan malam hari juga. Kupikir kecapekan aja kan. Minum paracetamol adalah jalan ninjaku.

Singkat cerita, akhir April aku demam, pusing, maag kambuh beberapa hari, lalu aku periksa ke poli umum, dikasih obat, belum sembuh juga, periksa lagi sampai 5x dalam 3 minggu. Kupikir gejala tipes, tapi hasil lab negatif thypoid. Akhirnya karena sudah demam 3 minggu, dokter jaga menyarankan untuk rontgen thorax, supaya tau kondisi paru. Apalagi masa pandemi ini gejala-gejala covid-19 terus direvisi.

Hasil rontgen menunjukkan bahwa ada efusi pleura dextral, atau cairan paru berlebih di rongga dada sebelah kanan. Abis itu langsung diambil darah untuk rapid test covid-19. Alhamdulillah negatif sih. Aku disuruh periksa dokter paru besoknya.

Nah, hasil pemeriksaan jumโ€™at sore itu ternyata sampai di bagian K3RS dan sabtu pagi aku ditelpon untuk persiapan tindakan WSD (Water Seal Drainage). Maka aku langsung packing untuk rawat inap di RS. Tindakan WSD dilakukan di ruang isolasi UGD. Cukup tercengang karena terkumpul cairan hampir 1 liter. Sebagian cairan dibawa ke lab untuk cek patologi klinis, ada kemungkinan sel kanker atau apa. Yang kurasakan saat itu tentu saja shock berat. Dan lebih shock pas didiagnosa TB Ekstra paru pleuritis. Aku mendapatkan prednison 5 mg tappering off dari 3×3 tab sampai 1×1 tab selama 25 hari untuk mencegah infeksi lebih lanjut di membran pleura serta Obat Anti Tuberkulosa Fixed Dose Combination (OAT FDC) mulai 11 Mei 2020.

Aku rawat inap selama 2 malam di ruang isolasi TB (terpisah dari ruang isolasi covid-19) menggunakan fasilitas BPJS. Semua administrasi diurus bagian admisi RS, aku hanya mengumpul kartu BPJS dan KTP. Semua dipermudah sih ya. Aku hanya memberi tahu adek, dan belum memberitahu orang tua karena situasi pandemi tidak memungkinkan perjalanan Palembang-Jogja. Teman-teman farmasi dan teman-teman terdekat di Jogja. Bahkan teman kos tidak kuberitahu karena kebanyakan mahasiswa baru dari Papua-sulawesi dan belum terlalu kenal. Yang lainnya udah mudik karena kampus libur.

Setelah pulang dari RS, aku mendapat ijin 2 minggu sampai lebaran. Kalau kondisinya aku tidak sakit dan tidak ada pandemi, mungkin aku sudah mudik. Tapi ya mungkin ini saatnya untuk pemulihan dulu. Berbeda dengan TB Paru yang menular melalui udara yaitu dari droplet atau percikan dahak saat penderita batuk, bersin atau berbicara, TB ekstra paru tidak menular, kecuali jika mengalami komplikasi dengan TB paru juga.

Yang jelas dua minggu pertama itu sangat berat karena efek samping prednison dan OAT. Seharian aku hanya bisa rebahan karena pusing dan mual. Makan seringnya gofood. Gak kuat puasa. Aku puasa selang-seling biar gak banyak banget bolongnya. Pokoknya pengalaman ramadan tahun ini paling menyedihkan.

H-2 lebaran aku masak oseng sawi dan ebi. Eh, pas H-1 lebaran abis sahur malah mual-muntah pusing. Yaudah gak jadi puasa lah. Sekujur tubuh merah karena alergi. Sholat ied di kosan, lalu aku ke rumah mbah dan periksa ke UGD. Dikasih obat alergi dan aku beli caladine lotion. Hampir seminggu baru sembuh. Abis itu kapok lah beli makanan kering di warung.

Jadwal Minum Obat Anti Tuberkulosa (OAT)

Sebulan pertama terapi adalah perjuangan. Aku mencegah efek samping mual dengan minum lansoprazol dan vitamin B compleks. Kalo udah gak kuat banget dengan pusingnya aku minum pamol juga. Rasanya pengen nyerah aja. Gak jarang pagi-pagi nangis sambil minum OAT. Tapi ya namanya musibah kan kita gak bisa pilih-pilih, terserah Allah dong mau ngasih ujian apa.

Aku juga konsultasi dengan temanku yang ahli gizi terkait asupan makanan. Aku harus diet tinggi kalori tinggi protein (TKTP). Praktis dalam 6 bulan terakhir pengeluaran terkait makanan melonjak drastis. Mei-Juni bisa dibilang puasa beli buku karena emang gak sempat baca. Timbunan banyak, manalah kepikir beli buku baru. Tapi pas udah new normal bulan Juli, akhirnya kalap di gramed sale sampe 20an buku, Agustus BBB, September beli 10 di togamas dan preloved teman dan ngabisin hasil unhaul buku di BBW oktober.

Yah, paling tidak sudah berakhir. Semoga kedepannya aktivitas tidak akan terkendala fisik lagi. Jujur saja mual muntah pusing dan urin berwarna orens kemerahan tiap senin, rabu, jumโ€™at empat bulan terakhir bikin gak konsen kerjanya. Konten di instagram juga makin random karena kalo aku cuma fokus bikin konten buku gak bakal kekejar. Speed baca bubar jalan. Baru baca dikit pusing, buku sedih dikit bikin mood anjlok. Ternyata memang acceptance adalah koentji biar gak depresi.

Kemarin ibuku nelpon dan bilang, โ€œpadahal kerja di rumah sakit tapi malah gak jaga kesehatan. Kalo sakit kan tanggung sendiriโ€. Tentu saja kubantah karena mau sehat kayak apapun gaya hidup seseorang kalo emang takdirnya sakit ya sakit aja. Apalagi kasusku kan infeksi bakteri ya. Beberapa waktu lalu teman seangkatanku meninggal karena serangan jantung, umurnya baru 31 atau 32 tahun, pas seniorku bilang, โ€œmasih muda koq jantunganโ€, ya kubilang bahwa ajal gak liat umur.

Nah kan jadi sedih. Intinya yang mau kubilang di postingan ini bahwa jangan sia-siakan kesehatan kalian. Kalo ada gejala-gejala ringan jangan diabaikan. Pusing, demam, batuk, flu, dll itu alarm biar kita istirahat. Segera periksa ke dokter sebelum terlambat.

Enam bulan ini aku belajar tentang donโ€™t force yourself. Aku merasa membaca itu privilege makanya aku gak peduli dengan tawaran kerjasama review yang makin berkurang, bahkan kalo ada pun tidak jarang kutolak. Aku bodo amat dengan tuntutan bookstagram harus posting konten buku terus. Karena ya mana mungkin aku bisa bikin konten buku dengan kondisiku yang harus banyak istirahat?

Kenapa aku gak hiatus sekalian? Jujur saja aku mendapat banyak hiburan dari teman-teman di instagram. Aku gak tau gimana caranya bisa melewati 6 bulan ini jika tidak aktif di bookstagram. Dan hei, justru dengan sibuk aku semacam lupa bahwa sebenarnya aku lagi sakit. Thank you for all supports. Baik langsung maupun gak langsung. Kadang nemu meme di IG story aja udah seneng aku tu.

Wow, ternyata udah hampir tiga halaman dan udah lewat seribu kata. Haha. Pokoknya buat yang udah menyempatkan baca terimakasih banyak. Aku harap kalian semua sehat lahir batin ya. Tetap support orang-orang sekitar kalian. Jangan bookshaming, jangan nyinyir sama penimbun buku, karena kebahagiaan orang beda-beda. Tiap orang punya capaian masing-masing dan jangan mengukur seseorang dari kacamata kita. Tetap berpikir positif. Have a nice Monday!

Year End Plan

Hi, there!

Konnichiwa, Minna-san~

Gak kerasa lho udah mau akhir tahun. Udah tercapai belum reading challengenya?

Aku yakin kita semua setuju bahwa tahun 2020 adalah waktu yang berat. Covid-19 sejak Maret membuat kita harus beradaptasi dengan kondisi pandemi. Jujur saja ini tidak mudah bagi aku pribadi, karena pekerjaan menjadi jauh lebih berat. Aku otomatis masuk tim satgas covid-19 dan ikut melakukan migitasi bencana.

Belum lagi Ramadan kemarin sempat opname dan terapi 6 bulan sampai minggu depan, yay! Aku abis ketemu dokter tadi pagi dan Alhamdulillah hasil Rontgen sudah normal, jadi terapinya sudah dicukupkan. Disuruh sampai obat habis sih, tapi aku tawar aja sesuai jadwal haha.

Well, dalam postingan kali ini aku akan ngasih bocoran beberapa event yang bakal tayang di Instagram @y0nea:

  1. Oktober: masih berlangsung Photochallenge #FallTime10Favorite
  2. November akan ada Photochallenge #Best11in2020 dan aku akan jadi co-host baca bareng Emma by Jane Austen dalam program #mocoklasik Rifqi Akbar @dinneread
  3. Desember #mocoklasik baca bareng Pride and Prejudice by Jane Austen.

Aku belum tau sih bakal ada photochallenge lagi gak Desember nanti. Soalnya akhir tahun biasanya dikejar atasan bikin laporan akhir tahun. So, mungkin malah bakal semi-hiatus. Entahlah~

Since my TBR still 91 and currently reading 10 books, untuk sementara aku off dulu kerja sama review. Setahun ini rasanya exhausted banget ya. Explosure yang didapat gak seberapa. Ya bukan masalah fee sih, cuma rasanya lelah gitu. Aku udah coba pindah aliran foto outdoor ke indoor, walaupun banyak yang suka sama tampilan feeds yang sekarang, tapi tetap aku gak bisa enjoy kayak 2018-2019. Mood baca terjun bebas, bahkan sekarang baru tercapai 65 dari target 100. Padahal tahun 2019 bisa baca 127 buku. Agak sedih sih tapi ya gimana juga emang kondisi gak memungkinkan baca banyak.

Oh, ya postinganku makin ke sini makin random campur makanan dan teh dan journal. Haha, Aku gak masalah kalo banyak yang unfollow dan merusak personal branding (?) Karena emang tujuan bikin akun instagram dulu adalah buat senang-senang.

Beberapa akun hiatus karena emang sibuk di real life atau jenuh dengan #bookstagram. Yah, semoga aku gak ikutan hiatus juga sih. Karena banyak hal menarik juga dengan interaksi di instagram ini.

Let me know kalo mau ikutan baca bareng klasik akhir tahun ya.

Have a nice weekend!

[Bookish Talk 4.0] Scavenger Hunt

Konnichiwa, Minna-san!

Ketemu lagi dalam postingan blog. Aktivitas akhir-akhir ini bikin mood baca terjun bebas. Untungnya ada komunitas #bookstagram yang bikin tetap semangat walau tetap belum bikin mood baca membaik. Lol.

Nah, pekan lalu, kak Sandrine mengajak aku untuk ikut dalam event Bookish Talk di akun YouTube SanwaLibrary. Kak Sandrine juga mengajak Sherry, Tata dan Karina untuk meramaikan event Scavenger Hunt kali ini. ada yang belum pernah dengar games ini?

Jadi sistemnya, Kak Sandrine menyebutkan clue dan kami akan mencari buku yang ada di rak kami masing-masing, kemudian menunjukkannya. Lumayan seru karena jadi semacam #bookshelvestour tapi tematik. Rencana awal 1 jam jadi molor hampir 2 jam karena seru banget ngobrolnya.

Kami menggunakan fasilitas zoom meeting yang terhubung dengan live di YouTube, sehingga bisa ditonton oleh followers yang sedang online saat itu. Video lengkapnya semoga segera tayang di kanal youtube Sanwa Library.

Berikut prompt yang disebutkan kak Sandrine dan jawabanku.

1. Buku yang difitur di post pertama di bookstagramnya = The Life-changing Magic of Tidying Up- Marie Kondo.

2. Buku yang sering muncul di feed bookstagramnya = Kim Ji-Yeong

Aku gagal paham, kukira muncul di beranda, wkkw. Aku ambil Kim Ji-Yeong karena hype banget. Tapi yang sering aku posting di feed yaitu Harry Potter Series dan English Classics Jane Austen.

3. Buku dengan cover sesuai warna baju yang dipakai = Beauty and The Beast movie novelisastion.

4. Buku yang bikin hangover = Harry Potter dan Relikui Kematian

5. Buku yang bikin nangis mewek = Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran

6. TBR terlama = Ready Player One

7. Buku termahal yang pernah dibeli = Pride and Prejudice Season Edition Winter terbitan Thomas Nelson (259k). Covernya laser cutting Hardcover limited 10.000 eks.

8. Bukan buku YA = Metropop Ilana Tan 4 Musim

9. Buku dengan gambar bunga di cover = Alice in Wonderland Puffin Classics

10. Buku yang karakter tokoh utamanya paling nggak disukai = After 10 Years – Bey Tobing

11. Buku serian yang ga match = Fantastic Beast – J.K.Rowling. Buku 1 Paperback Versi terjemahan bahas Indonesia, buku 2 Hardback UK version.

12. Buku dengan ilustrasi di dalam bukunya = Harry Potter dan Kamar Rahasia edisi Ilustrasi GPU

13. Buku yang ada judul you atau kamu = Walking After You – Windry Ramadhina

14. Buku tertua yang dimiliki = Sense and Sensibility (cetak pertama 1811) kalo yang ada di rak Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran edisi terjemahan terbitan pertama 2006.

15. Buku yang paling di favoritkan dan di rekomendasikan = The Life-changing Magic of Tidying Up- Marie Kondo dan Harry Potter Series.

Semoga bisa jadi rekomendasi bacaan buat kalian ya. Buat yang masih penasaran bisa DM aja ke akun Instagramku @y0nea

Happy reading!

Top 10 Favorite Books For Summer Reading



Konnichiwa, Minna-san~

Summer vibes everywhere! Alias Jogja lagi panas-panasnya. So, sesuai request, postingan kali ini yaitu beberapa buku dengan setting waktu di musim panas, di pantai, maupun yang menurutku heart warming dan easy read beserta ratingnya di goodreads.comย :

1. Love & Gelato – Jenna Evans Welch (4.11๐ŸŒŸ)
2. What to Say Next – Julie Buxbaum (4.07๐ŸŒŸ)
3. Words in Deep Blue – Cath Crowley – Gracetown (4.07๐ŸŒŸ)
4. Alex, Approximately – Jenn Bennet (4.00๐ŸŒŸ)
5. The Anatomical Shape of Heart – Jenn Bennet (3.94๐ŸŒŸ)
6. Ayesha At last – Uzma Jalaluddin (3.91๐ŸŒŸ)
7. Summer in Seoul – Ilana Tan (3.91๐ŸŒŸ)
8. When Dimple Met Rishi – Sandhya Menon (3.71๐ŸŒŸ)
9. Finding Sisu – Katja Pantzar (3.67๐ŸŒŸ)
10. Sea You Soon – Happy Rose (3.50๐ŸŒŸ)


Oiya, aku masukin 1 nonfiksi Finding Sisu karena ada beberapa referensi kegiatan (outdoor) yang cocok buat ngisi liburan aliasย #dirumahajaย karena masih pandemi. Mana yang udah kalian baca? Nomer 3 dan 4 reviewnya sudah tayang ya. Cek postingan sebelumnya~

Buku mana nih yang bikin kalian penasaran?


Komen di bawah ya. Siapa tau bakal jadi bahan postingan selanjutnya.

Have a nice Weekend.