[Book Review] Scars and Other Beautiful Things

“Karena pada akhirnya, satu-satunya yang bisa kita lakukan untuk diri sendiri hanyalah berdamai dengan apa yang terjadi dan melanjutkan hidup.” (Page 217-218) #quotes


Konnichiwa, Minna-san!

Read this book is one of my best reading experiences.



Menggunakan pov 1 Harper Simmons, membuatku sesak dan berhenti di sepertiga pertama. Pengalaman Harper sungguh real dan masih banyak terjadi di Indonesia, di mana korban menjadi pihak yang disalahkan dan pelaku tidak mendapat hukuman yang setimpal. Ingin ku berkata KASAR.

Sebelum kejadian nahas itu, Harper hidup bahagia dengan kembarannya, Avery; Dad, dokter single father; Rachel sahabatnya; dan pacarnya, Adam.

Menggunakan alur maju-flashback, aku dibuat menerka-nerka apa yang terjadi. Apa alasan Scott Gideon. Bagaimana Harper menghadapi gosip yang menyebar di kota kecil Sonoma Country, Bodega Bay; teman-teman dan guru di Tomales High School serta menjalani terapi bersama Dokter Lewis.

Beruntunglah Harper suatu hari bertemu Jordan O’Malley dan memutuskan bekerja paruh waktu di O’Malley’s, sebuah tempat penampungan hewan liar, sebagai pengganti kegiatan ekskulnya.

Karena settingnya di Amerika, dan writting style kak Winna Efendi seperti karya sebelumnya, membaca #scarsandotherbeautifulthings seperti membaca buku terjemahan.


Menurutku buku ini lebih cocok diberi label New Adult, karena walaupun tokohnya berumur 17-18 tahun, bahasannya lebih berat dari Young Adult, tapi untuk masuk Metropop kurang “meriah”. I mean biasanya Metropop identik dengan kisah dunia kerja di kota besar dengan tokohnya ceplas ceplos kalo ngomong sarkas tapi bener. (?)

But still, this one must read book for all girls dan women in the world to feel how you really priceless to be alive.


Sometimes losing yourself
is the best way to find out
what you’re really made of.
-Becci Kate- [page 289]

Ps: aku bikin playlist dari lagu-lagu yang muncul di novel ini di Spotify dengan judul sama.


Identitas Buku

  • Judul Buku: Scars and Other Beautiful Things
  • Penulis: Winna Efendi
  • Editor: Anastasia Aemilia, Dwi Ratih Ramadhany
  • Ilustrasi sampul: Staven Andersen
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: 2020
  • Jumlah Halaman: 298 hlm
  • ISBN: 9786020642055
  • Review Buku Magic of Tidying Up Marie Kondo

    “Konsumerisme membawa kita pada sebuah zaman berlebihan, kondisi yang saya sebut, ‘obsesistuff’. Banyak dari kita memiliki barang yang sebetulnya tidak kita butuhkan dan kita tidak tahu bagaimana menangani, bahkan menyadari kondisi itu. Saya ingin buku ini dibaca sebanyak mungkin orang. Bukan sekedar bicara tentang membuang atau menata barang, buku ini bahkan bisa mengubah hidup Anda.”

    Dee lestari, penulis

    Konnichiwa, Minna-san~

    Welcome to Wonderland!

    Kali ini aku akan membagi pengalaman membaca salah satu buku yang mengubah mindsetku di tahun 2017. Sudah cukup lama sih, tapi tidak ada salahnya aku bahas karena masih relevan sampai sekarang.

    Cover buku Magic Of Tidying up Marie Kondo

    Judul Buku: The Life-changing Magic of Tidying Up; Seni Beres-Beres dan Metode Merapikan ala Jepang

    Penulis: Marie Kondo

    Penerjemah: Reni Indardini

    Penyunting: Ika Yuliana Kurniasih & Baiq Nadia Yunarthi

    Penerbit: Bentang Pustaka

    Cetakan ke-7, Agustus 2017

    Tebal Buku: 206 halaman

    ISBN: 978-602-291-244-6

    Harga: Rp 59.000

    Aku besar di keluarga yang bisa dibilang mengutamakan kerapian. Ibuku akan mengomel panjang jika gunting berpindah tempat dari yang seharusnya. Bisa dibilang aku dan adikku terbiasa dengan rutinitas beres-beres setiap hari, dan yang paling melelahkan jika akan ada tamu yang menginap serta akan mendekati lebaran.

    Suatu hari aku mendengar tentang hidup minimalis dan konsep tiny house dalam percakapan ringan dengan teman-temanku ketika gathering Idul Adha 2017. Jujur saja waktu itu aku belum paham dan kemudian menemukan buku ini di Toko Buku Togamas. Waktu itu buku ini cukup ngehits, tapi aku belum terlalu tertarik.

    Aku baru mencari buku ini ketika sedang patah hati lelah dengan semua ini. Halah. Mumpung mau akhir tahun kan, apa salahnya membaca buku referensi di luar genre yang biasa kubaca? Siapa tau bisa membantu membuat life plan. Bisa dibilang buku ini menjadi titik balik setelah merantau 10 tahun di Yogyakarta.

    Buku ini tipis. Tapi cukup membuatku gerah. Semacam sensasi minum antibiotik, awalnya pahit, bikin mual dan pusing, tapi harus dihabiskan supaya sembuhnya tuntas. Waktu itu aku menyelesaikan buku ini dalam 2 minggu dan butuh mencerna sampai akhirnya memutuskan untuk praktik.

    Marie Kondo menjadi konsultan berbenah di Jepang setelah bertahun-tahun tertarik dengan interior. Bisa dibayangkan anak umur 5 tahun sudah memiliki ketertarikan terhadap urusan menata rumah? Konmari menceritakan pengalamannya pada bagian 1.

    Bagian 1 Kenapa Kita Tidak Bisa Menjaga Kerapian Rumah?

    Banyak anggapan bahwa rumah yang rapi hanya bisa dimiliki oleh orang tertentu, yang memiliki bakat rapi. Sementara yang sibuk dan sudah dari sananya berantakan tidak mungkin bisa.

    Kita tidak bisa mengubah kebiasaan jika cara pikir kita belum berubah.

    Marie kondo, page 7

    Di bagian 1 ini lebih banyak membahas tentang mengubah mindset, bahwa sebenarnya berantakan dan rapi tergantung motivasi kita. Pada saat membaca buku ini, aku memang berniat memulai hidup baru dengan meninggalkan kebiasaan lama yaitu menimbun barang. Mungkin bagi yang belum punya niat, ketika membaca buku ini akan banyak penyangkalan. Tidak masalah. Tidak perlu memaksakan diri setuju dengan Konmari.

    bagian 2 membuang sampai tuntas terlebih dahulu

    Ketika membaca bagian ini aku kaget. Selama ini kata “buang” identik dengan hal yang tidak kita perlukan; sampah, makanan sisa, barang rusak, dll. Namun, di sini, Konmari mengajak kita untuk menelaah satu persatu barang yang kita punya dan memikirkan kembali, mau dibuang atau disimpan.

    Sebelum memulai, visualisasikan tujuan Anda.

    Ya, kita harus bisa membayangkan:

    Mau seperti apa ruangan/rumah yang ingin dicapai?

    Mau gaya hidup seperti apa yang kita jalani kedepannya?

    dst.

    Prinsipnya mudah, jika ingin bahagia, simpanlah barang yang membawa kebahagiaan (spark joy). Menurutku prinsip ini mudah di jalankan, tapi memang butuh proses cukup lama untuk bisa mencapai target yang diharapkan. Mungkin prinsip hidup minimalis akan sulit dicapai jika menggunakan prinsip Spark Joy. Tapi, untuk pemula, aku yakin metode Konmari ini relatif mudah diterima, karena perubahannya tidak drastis dan mendadak, tapi bertahap mengubah mindset.

    bagian 3 berbenah berdasarkan kategorinya ajaibnya bukan main

    Aku ingat dulu membereskan barang di rumah sesuai lokasi. Pantas saja tidak selesai-selesai. Metode Konmari mengajak kita membereskan barang sesuai kategori dengan urutan:

    1. Pakaian
    2. Buku
    3. Kertas
    4. Komono (Pernak-pernik)
    5. Kenang-kenangan

    Bagiku yang tidak terlalu mengikuti fashion, memilah pakaian tentu saja mudah. Tinggal pilih mana yang masih mau dipakai dan mana yang mau dibuang (disumbangkan). Dalam Prinsip Konmari tidak ada patokan jumlah baju yang idealnya kita simpan. Jika ingin metode yang lebih detail tentang ini bisa coba baca buku Seni Hidup Minimalis yang ditulis oleh Francine Jay.

    Paling berat ketika membaca poin 2 tentang buku. Haha. Tidak mudah melepas buku yang sudah dikumpulkan selama bertahun-tahun. Tapi aku mencoba mengikuti saran Konmari, menurunkan SEMUA BUKU dari rak. Waktu itu bukuku ada 7 rak kayu kecil ukuran 50 cm x 150 cm, total di register ada sekitar 925 buku, tapi sejak April 2017 aku sudah mulai jualin buku sih, jadi paling tinggal 700 sekian.

    Memilah buku berdasarkan empat kategori luas:

    • Umum (buku yang Anda Baca untuk hiburan)
    • Praktis (referensi, buku masakan, dll)
    • Visual (koleksi foto, dll)
    • Majalah

    Kriterianya adalah apakah buku tersebut mendatangkan kegembiraan atau tidak ketika disentuh.

    Coba cek rak buku masing-masing. Tiap kita pasti punya:

    Buku Tak Terbaca, baik yang sudah dibaca tapi tidak pernah dibaca ulang, atau timbunan candi TBR yang entah kapan mau dibaca karena kesibukan.

    Buku Favorit, yang kadang-kadang dibaca ulang, atau memang suka karena berbagai alasan.

    Kali pertama menjumpai sebuah buku adalah saat yang paling tepat untuk membacanya.

    marie kondo, Page 87

    Sekali lagi, gak harus nurut kata Konmari ya, karena barang Spark Joy tiap orang beda-beda. Kalo mau nimbun buku 2000 juga boleh koq.

    Kertas

    Ini salah satu “sampah” terbanyak yang bisa kita temukan di rumah. Bahan Seminar, tagihan (kartu kredit), garansi alat elektronik, kartu ucapan, buku cek bekas, slip gaji, dll. Hayo buat apa dikumpulin?

    Pernak-pernik

    ada lagi urutannya

    1. CD, DVD
    2. Produk Perawatan Kulit
    3. Rias Wajah
    4. Aksesori
    5. Barang Berharga (paspor, kartu kredit, dll)
    6. Alat Elektronik yang kecil (kamera digital, kabel listrik, dll)
    7. Peralatan rumah tangga (alat tulis, alat jahit, dll)
    8. Peralatan rumah tangga (barang sekali pakai, obat, detergen, tissue, dll)
    9. Alat dapur atau alat makan
    10. Lain-lain (uang receh, barang pajangan, dll)

    Punya banyak hobi akan membuat tumpukan komono makin beragam. Silahkan kumpulkan menjadi subkategori terpisah.

    Terlalu banyak orang yang hidupnya dikelilingi barang-barang tak perlu hanya karena mereka “pengin aja”

    marie kondo, page 99

    bagian 4 mencerahkan hidup dengan menyimpan secara apik

    Sebelum menata barang, tolong poin 1-3 sudah beres dulu. Buang dulu sampai tuntas, sebelum menyimpan sisanya. Sebagian besar dari kita ketika rak buku penuh adalah membeli rak buku baru. Aku sudah berhenti sejak 2017 dan sekarang cuma punya 2 rak buku.

    Tips menata barang:

    1. Tempat tersendiri untuk tiap barang
    2. Simpan barang dengan tatatan sesederhana mungkin
    3. Jangan menyimpan di tempat yang tersebar-sebar
    4. Mudah menyimpan bukan mudah mengambil
    5. Simpan secara vertikal, jangan ditumpuk
    6. Tidak perlu membeli barang khusus untuk menyimpan
    7. Simpan tas di dalam tas lain
    8. Kosongkan tas setiap hari
    9. Barang yang bertebaran di lantai semestinya disimpan di lemari
    10. Jangan menaruh barang di bak mandi dan bak cuci dapur
    11. Jadikan tingkat teratas rak buku sebagai altar pribadi Anda
    12. Hiasi lemari dengan barang kesukaan rahasia
    13. Segera keluarkan pakaian baru dari kemasan dan cabut labelnya
    14. Jangan remehkan riuhnya informasi tertulis
    15. Apresiasi barang-barang Anda untuk memperoleh kinerja andal.

    bagian 5 keajaiban berbenah mengubah hidup anda secara dramatis

    Mengikhlaskan justru lebih penting daripada menambah

    page 169

    Sebagai penutup, bagian ini berisi kontemplasi. Bahwa sebenarnya dari kegiatan beres-beres secara menyeluruh, kita memberi ruang untuk berdialog dengan diri sendiri, berinteraksi dengan barang-barang yang kita punya, memilah yang mana yang penting dan mana yang sudah tidak kita perlukan lagi, dll. Minat tiap hari berubah. Hari ini aku suka buku klasik, minggu depan mungkin aku suka fantasi, ya manusia memang sedinamis itu kan?

    Buku ini menurutku berkesan, karena mengubah mindset tentang menyimpan barang. Memang buku ini belum 100% membuatku puas, karena beberapa hal belum bisa kuterapkan, terutama poin Komono. Pada kenyataannya setelah membaca buku ini aku menjadi tertarik dengan buku self improvement sejenis, Seni Hidup Minimalis dan Seni Membuat Hidup Jadi Lebih Ringan (Francine Jay), Goodbye, Things (Fumio Sasaki) dan terakhir aku membaca Clear the Clutter, Find Happiness (Donna Smallin Kuper)

    Terjemahan buku ini juga lumayan enak dibaca. Tapi aku agak bosan dengan layoutnya yang monoton. Hanya deskripsi dan tanpa ilustrasi.

    Aku merekomendasikan buku ini untuk dibaca siapapun. Walaupun banyak yang awalnya tidak cocok dengan metode Konmari, tapi tetap ada juga yang sukses menerapkannya. Menurutku tidak ada salahnya dibaca untuk menambah referensi. Diterapkan atau tidak itu pilihan, kan?