8 Hari Mencari Makna #5

Everyday is Monday, Just Like Sunday

#8 Hari ini,
Senin adalah hari piketku. Habis subuh aku pun membereskan ruang tengah. Tepat pukul enam waktu ruang tengah (kecepetan 15 menit dari jam AsyaRo dan An-naml), aku mulai menggarap skripsiku. Selama empat jam penuh aku berhadapan dengan An-Naml.

Tepat pukul sepuluh, telpon rumah berdering. Dari telkom. Intinya menawarkan program peningkatan fungsi telpon rumah. Langsung saja kuputus dengan menceritakan pesawat telpon cuma bisa nerima telpon masuk, penghuni kos jarang di rumah dan kalo nelpon pake hape aja udah cukup. Telpon rumah tetap ada karena kami pake speedy. Maaf ya, mbak operator. ^^v

Usai telpon itu, aku mulai merasa ngantuk, lapar, pusing dan bosan. Akhirnya kuputuskan untuk rehat dhuha dan sarapan. Sambil makan, aku mulai mengutak-atik koleksi foto, dan jadilah 2 design syiar Ramadhan.



Setelah dzuhur, aku menuju KPFT. Ada janji dengan (calon) bimo-ers ke-23. Beberapa hari lalu, si boz dapat sms dari seseorang. Beliau merekomendasikan seorang Pejuang07 yang “nganggur” untuk gabung di bimo. Yey~ akhirnya aku dapet temen akhwat 07 di bimo.
Setelah ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon selama sekitar satu setengah jam, kami pun berpisah. Sepanjang jalan pulang, aku mencoba memaknai kembali arti dari komunitas. Makin banyak, harus makin besar kapasitasnya. Al-wajibatu aktsaru minal ‘awqot. Kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang ada. Enjoy your life, wish all your dreams come true.

Salima, 28 Mei 2012, 21:31

8 Hari Mencari Makna #3

Jetlag

Rabu lima hari yang lalu,
07.30
Aku sudah di depan Khonsa ketika ada sms dari Sofiet. Rapat Cresscendo jadinya di Etos Monjali. Doeng! Aku pun segera memutar arah ke barat. Setelah evaluasi outbond KMAP di Piyungan jumat lalu, pembahasan berlanjut ke Cresscendo Craft. Lembaga training ini akhirnya mengembangkan sayap ke dunia bisnis.

11.00
Aku menuju ruang pak Wawan. Beliau sudah ada. Aku pun masuk ke ruangan. Setelah membolak – balik catatan dan koreksi draft, beliau menutupnya dengan kalimat, “Ini langsung dilengkapi saja. Daftar isi, tabel, lampiran dan lain – lainnya.” Alhamdulillah. Kabar baik. Sekarang tergantung aku. Bisa fokus gak untuk melengkapinya.

Setelah berpamitan, aku segera meluncur ke utara. Maksud hati beli Telacake, apa daya adanya cuma keju dan kacang. Eza kan sukanya cokelat. Aku pun mengurungkan niat dan segera meluncur ke Lempuyangan. Azan sudah berkumandang dari mushola Lempuyangan. Prameks sudah berlalu pukul 10.36. Terpaksa aku membeli Madiun Jaya AC yang berangkat pukul 12.06. Sembari menunggu aku menuju mushola di barat stasiun.

Teman seperjalananku seorang mahasiswi manajemen 2009 UNS. Ah, lagi – lagi aku lupa namanya. Seorang siswi Stella Duce dari Kota Gede. Kami mengobrol tentang Solo dan Jogja. Apa yang ada di Solo tapi tak ada di Jogja dan sebaliknya.

Setelah beberapa menit berada di dalam Atmo, aku pun sampai di depan kantor BNI Sekar Pace Jebres. Pom bensin sudah kelewatan. Aku pun segera balik arah menuju gang Guntur dan mencoba mengingat – ingat yang mana kos Eza. Aku baru sekali ke sana setelah dia pindah dari kosan yang lama di dekat UNS. Ayahku sedang keluar ketika aku sampai. Katanya jemput ke pom bensin. Tapi kok gak liat ya? -.-a

Setelah beristirahat sebentar, kami berempat meluncur bersama Atmo menuju Solo Grand Mall (SGM). Makan dan jalan bentar. Jauh – jauh ke Solo, ibu cuma beli gula. Padahal Gulaku kan dari Lampung.

Setelah sholat ashar, kami berpisah. Eza ke kosan, ayah dan ibu balik lagi ke Polan, sedangkan aku menuju ke Purwosari. Besok kamis siang ayah ibu akan melanjutkan perjalanan ke Cikarang, tempat cik Mis, cik Rina dan cik Ama. Sabtu pulang ke Baturaja. Senin dinas lagi. Genap tour sepuluh hari.


Lagi – lagi aku ketinggalan kereta. Prameks pukul 16.16 sudah melaju. Aku pun harus sabar menunggu Prameks berikutnya pukul 17.47. Maka ku cari bangku yang nyaman untuk membaca. Di tasku ada “Tanah Putih”, novel baru Medika Arsy. Tak lama dari azan maghrib, Prameks yang kutunggu pun datang.

Suasana di gerbong cukup padat. Tampak wajah – wajah lelah para penumpang yang baru pulang kerja. Bahkan ada yang langsung terlelap tidur begitu kereta meninggalkan stasiun. Karena tak ada yang bisa diajak ngobrol, aku lanjut membaca novel sampai tiba di Maguwo. Total hampir tujuh jam perjalanan Jogja-Solo-Jogja kali ini. Aku segera meluncur ke salima dan langsung tepar setelah isya’. [Bersambung…]

8 Hari Mencari Makna #2

Another Tuesday Story

Selasa enam hari yang lalu,
Jogja masih pagi ketika ada sebuah sms dari seorang teman masuk ke inbox AsyaRo.

Aku tak tau perasaan ini bernama apa..
Hari ini aku bangun dengan sesak di hati.
Tiba – tiba ada sesuatu yang deras tak terbendung di sujudku tadi,
Aku tak tau perasaan ini bernama apa,
Smoga allah melindungiku dari putus asa.
Received:
06:02:03
22-05-2012
From: +62857.4312.xxx

Ini hari apa sih? Otakku mulai berputar. Ah, ya, hari ini ada wisuda s1. Aku dan ispri pun membahas itu. Selalu ada saatnya. Hasil tergantung usaha masing – masing orang.

Aku baru saja mendarat di salima ketika ada sms dari ayahku. Pagi ini ayah dan ibu baru saja sampai di tempat mbah di Polan. Ayah dan ibu sedang tour d’Java. Rabu dari rumah naek Rosalia, jumat pagi nyampe Surabaya. Macet. Jumat itu istirahat di rumah bulek Rida di dekat terminal Sidoarjo. Sabtu di Malang. Ada pengajian cak Nun ngundang 2.000 anak yatim yang diadakan oom-nya ibuku. Ahad istirahat. Senin meluncur ke Klaten. Dan hari ini mereka mau main ke Jogja.

Untuk kesekian kalinya aku dan Rika berjalan bersisian menuju GSP. Hari ini ada beberapa pejuang07 yang wisuda. Antara setengah niat kami ke sana. Tanpa membawa setangkai bunga, sebatang coklat ataupun sekotak hadiah tanda selamat. Dari arah berlawanan ada Toga, Nadya dan Nia.

“Nah ini, mbak – mbak kapan wisuda? Mau tak siapin bunga beserta pot-nya”, ujar Toga setengah bercanda sambil mengacung – acungkan telunjuk sok serius.
“Insyaallah selanjutnya, Ga”, sahut kami berbarengan.”

Maka habis ashar aku pun menjemput ayah ibu di kopma. Setelah ngobrol dan makan pempek di selatan Kopma, di seberang sekolah vokasi, kami pun menuju ke Salima. Setelah sholat ashar, ibu ngobrol dengan Arkan dan Ispri, sementara ayahku sibuk membongkar Adhiyyat. Tentu saja aku jadi asisten ayahku.

Ternyata air akinya kering. Maka aku pun menuju ke toko bali. Sudah hampir jam lima. Tampaknya baik ayah maupun ibu tak tertarik untuk jalan. Beringharjo sesore ini tentu sudah tutup kan? Maka aku segera meminta Om Dida mengantarkan produk Pa’ole ke salima.

Jelang maghrib ayah ibu pamit. Malam ini mereka akan menginap di Polan. Aku tak ikut karena ternyata hari ini pak Wawan belum selesai membaca draftku. Besok rabu ketemu beliau lagi. [Bersambung…]

8 Hari Mencari Makna #1

Monday Smile,

Senin seminggu yang lalu,
Jarum jam MonoL putihku menunjukkan sudut menuju pukul 08.00. Aku sudah standby di lobi unit III. Papan status para dosen menandakan pak Wawan sedang keluar. Entah aku yang terlalu pagi, atau aku sudah terlambat untuk menemui beliau di waktu pagi. Aku sudah hafal jadwal beliau. Kalo gak pagi banget, sebelum jam 8, berarti antara jam 11 sampe 13. Sangat jarang beliau bisa ditemui setelah itu. Beberapa kali aku terlambat karena berusaha menemui beliau pada waktu hampir ashar.
Lantai satu unit II terlihat sepi. Tak mungkin para karyawan dan TU belum datang jam segini. Tapi, itu lah yang ku dapati. Kusibukkan diri membuat daftar tabel, gambar dan lampiran di notesku. Sengaja An-naml kutinggal di salima. Niatku hanya menyerahkan draft pada pak Wawan. Setengah jam tak terasa. Para karyawan berdatangan dari pintu timur. Mereka menggunakan kemeja putih dan bawahan hitam. Ada apakah gerangan?

“lho, pak, kok baru datang? Gak ikut upacara?”, tegur seorang ibu pada Pak Yus yang baru datang dengan mengenakan batik.
“upacara apa e?”, sahut beliau santai.
“Hari kebangkitan. Wah, bapak’e bolos.”
“Oo.. Gak mesti ikut kan? Hehe..”

Aku cuma bisa tersenyum mendengar guyonan dosen dan karyawan itu. Hmm, tampaknya di TU sudah ada yang jaga. Aku pun masuk menuju TU di depan laboratorium teknologi formulasi. Sekilas kulirik ruang pak Wawan. Alhamdulillah, beliau sudah datang. Entah beliau masuk dari mana. Aku tak sadar ternyata beliau lewat.

“Assalamu’alaikum. Pak, ini draft saya.”
“Wa’alaikumsalam. Ya, taruh aja. Ini sudah semua?”
“iya, tapi belum dilengkapi yang laen – laen pak.”
“Nanti saya cek dulu. Anda kesini lagi rabu atau kamis saja.”
“Kalo besok selasa kira – kira sudah belum pak?”
“Ya, saya usahakan.”
“Bisa ketemu jam berapa pak?”
“Antara jam 11 sampe jam 1.”
“O, ya ya, terimakasih pak.”
“Ya, sama – sama.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Aku pun meluncur menuju salima dengan langkah ringan.

Kemarin Tanjoubi-nya Pity. Aku segera membungkus everything pink untuknya. Sekitar jam 10 aku meluncur ke rumahnya. Aku disambut ibunya. Obrolan standar khas ibu – ibu. Kapan mbak Nea lulus? Lalalala. Kujawab saja seadanya. Tak lama kemudian pity keluar membawa origami. Dan jadilah selama hampir dua jam itu kami mengobrol sambil melipat kertas bermotif itu.

Sorenya, aku menemani Rika ke Pramita Lab dan GMC. Malamnya, aku menjemput Ispri di Lempuyangan. Karena sudah lewat jam 9, akhirnya aku mabit di kosnya. Aku pun mendengarkan kisah perjalanan Ispri dari Kediri ke Jogja. Selalu ada hal baru yang didapat selama perjalanan. Kalo aku sih ngincer oleh – olehnya. Haha.. [Bersambung…]

A Half of May

Hampir 2 pekan aku tak menulis. Tak kusempatkan diantara aktivitas Omah Bayi on Edu&Book Fest di GOR UNY, Training Kemediaan BiMo di Teknik, Forsat07 jenguk ibu intan di Klaten Cresscendo ngisi outbond di Piyungan, sampai kemarin, ke Walimahan mbak Prima di Secata, Gombong.

Apa sih yang dicari dari kegiatan seabrek di (luar) kampus?

-SKRIPSI-

Sebuah kata yang membuatku males makan, pengen tidur aja, pengen ngilang.

Ah, sudah berapa kali wisuda kulewatkan?

Mei 2011 –> ada teman selingkaran yg sudah wisuda

Agustus 2011 –> aku masih KKN

November 2011 –> masih ngulang kuliah dan baru mulai proposal skripsi

Februari 2012 –> Pembahasannya belum dalam, harus ditambah lagi

Mei 2012 –> belum pendadaran

Tak salah memang ketika orang tua sudah “menuntut”. Tujuannya baik, supaya aku tak tertinggal dari teman seangkatan.

Semalam ada pengajian Cak Nun ngundang 2.000 anak yatim di Malang. Yang ngadain adeknya Kakekku. Ayah ibuku ke sana. Aku tak ikut. Kenapa? Padahal itu kesempatan baik untuk bertemu keluarga besar. Apalagi sebelumnya ayah ibu mampir ke tempat bulek di Surabaya. Entahlah, mungkin aku belum terbiasa untuk ikut acara keluarga. Dan penyulut kemalasanku adalah karena aku sempat mutung ditanyain ibu tentang skripsi.

Awal mei, aku sudah berusaha menyelesaikan scriptku. Tapi lepiku malah rusak. Pas si lepi udah bener, aku yang sakit. Aku baru sembuh, eh, dapet job. Selesai 1 job, kukebut skripsiku esoknya, eh, pas ke kampus dosenQ udah pulang. Dan akhirnya kuhabiskan long weekendku tour d’ Klaten-Piyungan-Gombong. Besok senin ngadep insyaallah.

Semalam, setelah mendarat di Mardliyyah, aku berjalan kaki menuju kosan. Kemudian mampir di Burjo untuk beli dinner. Dan kudapati sebuah sms dari seorang teman.

Klo gini. ama ibu-bapak anti pan kesannya dakwah ini menghalangi akademis.. Aq percaya dh, anti&temen2 ADK yg lain hebat, bsa ngebagi waktu antara akademis dg aktivitas yg buanyak bgt. Tapi orang tua kita pasti butuh bukti Ne. (ANR)

Usai dinner, room-mate-ku pulang. Dan lagi – lagi kami terlibat diskusi tentang skripsi. Terselip do’a pendadaran bulan ini, Juni seminar terbuka dan yudisium. Semoga pulang lebaran sudah dengan label “lulus” – entah sudah wisuda atau belum.

Semangaatttt 😀

Aq jg pgn buru2 slesai, udah antiklimaks skrg posisinya, hehe

Ktemu di GSP Juli/Agustus ya 😀 (NA)

Salima, 20 Mei 2012, 10:14Image